Laki-laki itu berjalan seperti tidak ada semangat hidup.
Enam orang yang menunggu kepulangannya berdiri dengan tatapan menahan tangis.
Pergi berdua namun harus pulang sendiri.
Perempuan berkerudung biru di antara mereka tidak bisa menahan diri untuk segera mendekat pada Haikal.
Lalu memeluknya dengan tangis yang tak tertahan.
"Mas ... aku turut berduka cita."
Haikal tidak bicara apapun. Menangis juga tidak. Tapi tatapannya kosong. Dan kedua tangannya balas memeluk Azkiya erat.
"Kamu masih punya aku Mas. Punya keluarga, punya Ibu, punya Opa dan Oma. Juga Om Haris. Kita selalu ada buat kamu, Mas."
Mama dimakamkan di tanah suci. Walau kebanyakan orang ingin juga meninggal dalam keadaan beribadah dan di tanah suci, tapi tetap saja berat rasanya kehilangan.
Kehilangan orang yang baru dekat kembali setelah dijauhkan oleh ego masing-masing. Dekat kembali ketika keinginan mama untuk mengenal Islam lagi baru saja dimulai.
Dan Allah cepat sekali mengambilnya. Bahkan sebelum mama mewujudkan keinginannya menggendong cucu pertama beliau yang kini masih dalam perut Azkiya.
Keluarga langsung membawa Haikal pulang ke rumah om Haris di Jakarta.
Alasan tidak langsung pulang ke rumah mereka karena takut di situasi yang masih berduka ini, Azkiya harus banyak bekerja sendirian padahal sedang hamil.
Mengembalikan semangat hidup Haikal yang baru ditinggal oleh Mama tentu butuh waktu yang lama.
Sedangkan ibu dan ka Ilham, hanya bisa menginap satu hari. Besoknya harus kembali pulang ke rumah karena banyak urusan di kampung.
"Mas, ayo sarapan."
Azkiya menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuh Haikal. Saat itulah, matanya menemukan album foto yang dulu pernah ia lihat juga.
Hati Azkiya ikut berdenyut sakit melihat Haikal masih terus teringat mama.
"Mas? Sarapannya aku bawa ke kamar yaa?"
Tangan Azkiya mengelus pelan pipi Haikal hingga membuat laki-laki itu membuka matanya perlahan.
Mata sembab habis menangis bisa dilihat jelas oleh Azkiya.
Dulu ia juga pernah kehilangan seorang kepala keluarga, laki-laki yang menjadi cinta pertamanya. Dan itu sedihnya tak berhenti satu bulan, dua bulan.
Tapi semakin kita tidak ikhlas dengan seseorang yang sudah Allah ambil, itu akan jadi beban bagi yang sudah meninggal.
Jadi lebih baik ikhlaskan walau butuh waktu yang tidak sebentar. Yang terpenting kita selalu mengirimkannya doa. Karena itu yang paling dibutuhkan orang tua ketika sudah beda alam dengan kita.
"Yang ... kita pulang ke rumah saja yuk?"
Suara serak Haikal mencirikan sekali kalau dia baru bangun tidur. Plus sebelumnya telah menangis.
"Yuk. Aku ikut kamu Mas, ke manapun."
Haikal tersenyum, untuk pertama kalinya setelah pulang dari tanah suci.
Pagi itu, setelah sarapan. Haikal dan Azkiya pamit pulang pada om Haris. Sedangkan Oma dan Opa sudah lebih dulu kembali ke Kalimantan.
Mungkin jika berada di rumah sendiri itu lebih membuat Haikal leluasa. Juga dekat dengan pesantren.
Jika memiliki kesibukan seperti biasa jadi supir Kyai, bisa membuat Haikal lebih cepat melupakan kesedihannya ditinggal oleh mama.
"Aku ingin minta pada anak-anak santri untuk mendoakan mama. Aku juga ingin mendatangi panti asuhan, meminta pada anak-anak yatim dan piatu untuk mendoakan mama."
Tentu saja Azkiya setuju dengan keinginan Haikal. Definisi punya harta banyak memang digunakan untuk beramal soleh, yang niat pahalanya ditujukan untuk orang tua yang sudah meninggal.
The real kekayaan itu dibawa mati.
Tapi bukan dalam bentuk emas atau uang yang dibawa ke kuburan. Tapi definisi ahli waris yang bisa memanfaatkan harta peninggalan dengan cara dibelanjakan untuk kebaikan.
Selama masa berkabung, bayi dalam perut Azkiya juga mendadak kalem. Tidak sering membuat Umma-nya mual. Tidak juga ngidam aneh-aneh.
Memang calon anak soleh atau solehah yang mengerti kondisi orang tuanya.
Satu minggu setelah kembali ke rumah. Haikal menjadi sosok yang biasanya. Berlaku bucin pada Azkiya. Menjadi supir yang selalu menemani Abah Yai pergi ke manapun.
Tapi untuk bepergian keluar kota, Haikal selalu minta digantikan oleh kang santri lainnya. Sebab ia tidak ingin meninggalkan Azkiya terlalu jauh.
LDR baginya sangatlah menyiksa.
"Pelihara ikan ternyata gak berumur panjang. Aku mau pelihara hewan lainnya aja. Kamu pengen hewan apa Yang?"
Haikal dan Azkiya sedang duduk-duduk di pinggir kolam ikan yang airnya sudah kotor. Ikannya entah pergi ke mana, selama ditinggal oleh keduanya hampir setengah bulan.
"Itu sih karena kita gak punya skill melihara ikan, jadi gak berumur panjang deh. Udah ... gak usah melihara hewan apapun. Ribet."
"Hmm kayanya seru kalau melihara kucing. Kamu gak alergi sama bulu kucing kan?"
Azkiya merotasikan bola matanya. Pendapatnya diabaikan begitu saja oleh Haikal.
Padahal ia memberi saran tidak usah melihara hewan apapun karena sebentar lagi anak mereka lahir.
Report kan harus ngurus anak juga hewan peliharaan.
"Gak. Tapi anak kita nanti alergi gimana?"
"Nggak dong. Kucing tuh bisa jadi teman setia untuk anak kita nanti."
"Hmm lebih baik melihara kambing aja, Mas. Bermanfaat untuk aqiqah anak kita nanti," usul Azkiya.
"Iisshh! Kambing tuh bau. Lagian---"
"Assalamualaikum."
Perdebatan pasutri tersebut terhenti saat ada yang mengucap salam dari luar pagar rumah.
Keduanya menoleh. Dan ekspresi Haikal yang berubah setelah melihat siapa yang bertamu ke rumah mereka.
"Siapa Mas?" tanya Azkiya melihat Haikal bergegas ingin membuka pagar rumah.
"Ibunya mbak Wulan."
"Ya Allah." Azkiya langsung mengeluh dalam hati.
Tapi ia mencoba untuk berpikir positif. Mungkin saja kedatangan beliau punya tujuan yang baik.
Begitu pagar rumah dibuka, perempuan paruh baya itu langsung bersimpuh di hadapan Haikal.
Azkiya kaget. Haikal lebih kaget.
"Haikal ... tolong maafkan Wulan. Maafkan semua kesalahannya. Ibu hancur melihat keadaannya sekarang."
Haikal celingak-celinguk ke sekitar, takut ada tetangga yang melihat dan mengira yang tidak-tidak.
"Bu, lebih baik masuk dulu ke rumah. Kita bicarakan di dalam."
Azkiya yang melihat itu, lebih dulu masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan minum.
Dari awal kedatangan Ibu dari mbak Wulan yang menangis seperti itu, sepertinya ada kabar yang kurang baik.
Azkiya pernah sakit hati oleh perempuan itu. Tapi tidak pernah mendoakan yang buruk-buruk untuknya.
Jadi semoga kabar kurang baik ini bukan karena balasan dari perbuatan mbak Wulan pada Azkiya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jodoh Mbak Santri
Teen Fiction"Jodoh santri ya santri lagi." Di dunia pesantren, adat perjodohan sudah menjadi hal biasa yang sering terjadi. Azka Azkiya merasakan hal itu di tahun kedelapan dirinya nyantri di pondok pesantren Al-Furqon. Abah Yai menjodohkannya dengan salah satu...
