Alvin berjalan sendiri di koridor yang tak cukup banyak orang ia tadi ijin untuk ke kamar mandi sendiri, mungkin semua orang sedang terfokus pada tokoh utama hari ini Dava sehingga tak terlalu terfokus padanya. Memang dirinya siapa ingin memilki atensi dari semua orang membanggapun tidak, bertanggung jawab terhadap tubuhnyapun dirinya tak bisa mengontrolnya Alvin saja kewalahan dengan tubuhnya sendiri yang lemah sehingga terus membutuhkan orang lain berada di dekatnya.
Tubuh Alvin berhenti ketika melihat Reval yang sedang bersama Mamahnya yaitu Dian, Alvin tersenyum ingin memberikan selamat juga pada Reval namun ia berhenti ketika Dian mendorong tubuh Reval cukup kencang kearah tembok membuat tubuh itu terhuyung jatuh kebelakang.
"KAMU GAGAL REVALL!! DASAR BODOH!! ENGGAK BERGUNA!!"
Teriak Dian dengan mencekram kencang rambut belakang Reval membuatnya terpejam meringis, menggenggam tangan sang mmah meminta untuk lepas tenaganya sudah terkuras habis setelah pertandingan ia lelah harus menghadapi mamahnya Dian yang seperti ini.
"Liat mereka bahagia, kenapa kamu membiarkannya huh!" Cengkaraman di rambutnya semakin mengencang dengan ucapan Dian penuh tekanan.
Reval dengan keadaan yang cukup lelah keringat yang masih bercucuran di wajahnya serta nafas yang memburu bekas pertandingan tadi siku yang membiru terlihat jelas, namun pipi yang membiru dan sudut bibir yang berdarah itu adalah luka yang baru tadi Alvin sangat memperhatikan bagaimana tubuh Reval tak memiliki luka itu saat pertandingan sampai dengan selesai.
"Bang Reval" lirihnya.
Reval menatap Alvin kaget dengan keberadaannya serta Dian sepertinya sedang di penuhi emosi dengan wajah yang memerah dan mata yang berkaca-kaca terlihat kilatan marah di sana.
"Kebetulan sekali, anak sial itu kemari" ucap Dian dengan tersenyum sinis menatap Alvin penuh emosi.
"M-mah jangan.. j-jangan libatkan Alvin Mah, Reval mohon!" Tangannya gemetar itu menggenggam tangan Dian yang melepas dari cengkraman rambutnya.
Alvin melihat kejadian ini cukup membuat tubuhnya menegang tak mampu berkata apapun ia masih belum mencerna kejadian yang ada dihadapannya, Dian menatapnya tajam tangan kanan yang di tarik Reval yang memohon padanya ia singkirkan dengan keras membuat tubuh Reval yang lelah terhuyung kebelakang.
Dian berjalan kearah Alvin dengan tangan saling mengeratkan kepalannya, kuku panjang itu tak terasa telah melukai dirinya sendiri karena dilingkupi oleh emosi pelampiasan pada Alvin akan sangat-sangat membuat hatinya merasa puas.
"T-tante Abang Aakhhtt stt--...."
Dian dengan kedua tangan yang bergetar mencekik leher Alvin dengan emosi yang melingkupinya tak bisa berpikir jernih, ia terlampau buta tak memikirkan dimana dia berada dan konsekkuensi apa yang akan terjadi nantinya.
"Seharusnya kau tidak lahir Alvin" ucap Lisa menatap Alvin dengan tajam.
"T-tan..te.."
Tubuh Alvin ia dorong ketembok koridor sekolah yang kebetulan sepi tak ada orang yang bisa memonolongnya, tangan Alvin tak tinggal diam. Dengan ribut mencoba menarik tangan Dian yang berada di lehernya, nafasnya memburu sudah tak beraturan membuat wajahnya memerah serta tubuhnya berkeringat dingin bergetar ketakutan.
Alvin menatap takut wajah Dian yang menginginkan sebuah kematian untuk dirinya, ia sangat takut saat cekikan di lehernya kembali terasa kencang kuku tangan Dian teras perih bergesekan dengan kulit lehernya membuatnya membekas merah kebiruan. Nafas Alvin tercekat aliran oksigen perlahan berkurang di tubuhnya, ia memejamkan mata air matanya meluruh keluar sudah di tahap keputus asaan saat cekikan itu terasa mengencang Alvin tak bisa bernafas.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALvIn
Teen Fiction*KARYA INI DI BUAT UNTUK DI NIKMATI* *BUKAN UNTUK DI PLAGIASI* 2019 - Hari ini #1 hope 12.09.2021 #1 hope 09.02.2022 #1 ingin 01.11.2021 #1 Alvin 07.01.2022 #1 Hyunjin 10.02.2022 #1 Masalah 24.02.2022 # 3 alone 08.12.2024 # 4 sick 18.11.2024 # 1 al...
