Di ruang ICU, suasana lebih sunyi. Hanya suara mesin monitor yang berulang
—bip… bip… bip…—
Menjadi irama yang menegangkan sekaligus menenangkan penanda kehidupan yang rapuh. Tubuh kecil anaknya dipenuhi alat bantu selang oksigen menempel di wajahnya, tersambung dengan tabung oksigen berdiri tegak di sudut ruangan. Selang-selang transparan menjuntai, menghubung kan dengan alat bantu yang menjaga napas tetap teratur. Matanya tak pernah lepas dari sosok Alvin yang terbaring lemah di ranjang putih itu. Kabel monitor menyalurkan detak jantung ke layar yang berkelip hijau, dan suara mesin pernapasan yang berulang
—hisss… klik… hisss… klik…—
Bau obat-obatan bercampur dengan aroma cairan pembersih, menambah kesan steril sekaligus dingin.
Setiap pagi, Langga datang lebih awal dari jam besuk. Ia duduk di kursi panjang koridor rumah sakit, menunggu izin perawat untuk sekadar berdiri di depan kaca. Baginya, melihat Alvin meski hanya dari balik transparansi itu sudah cukup untuk memberi harapan.
“Ayah di sini, Nak” bisiknya pelan, meski ia tahu Alvin tak bisa mendengar.
Kaca transparan yang memisahkan seorang anak dengan seorang Ayah menjadi batas emosional yang berat. Dari luar, ia hanya bisa menatap, menempelkan tangan, atau berbisik lirih, berharap suaranya menembus ruang kedap itu.
Kursi tunggu di depan kaca menjadi saksi bahwa Langga berdoa dalam diam dengan mata sembab, terkadang hanya menatap kosong menunggu sebuah keajaiban.
Malam harinya, rumah sakit berubah suasana. Lampu koridor meredup, suara langkah berkurang, tapi mesin-mesin di ruang ICU tetap bekerja tanpa henti. Sesekali terdengar suara roda brankar berderit, atau panggilan perawat melalui interkom. Di luar jendela, cahaya lampu kota tampak jauh, kontras dengan ketegangan yang terus menggantung di dalam gedung.
Bagi Langga, setiap detail itu terasa menusuk dinginnya udara AC suara mesin yang monoton, aroma obat yang tajam, bahkan kursi besi yang keras. Semua menjadi bagian dari rutinitas menunggu, rutinitas penuh harapan agar Alvin suatu hari membuka mata dan menatapnya kembali.
Suasana ruang ICU selalu sama dingin, sunyi, hanya sesekali terdengar langkah cepat perawat atau suara alat monitor yang berbunyi lebih keras. Namun bagi Langga, setiap detik adalah perjuangan.
Ia menatap wajah Alvin yang pucat, rambutnya sedikit berantakan, dan dada kecilnya naik turun mengikuti ritme mesin. Malam hari, ketika lampu koridor meredup, Langga masih bertahan. Ia menolak pulang terlalu cepat.
“Kalau Alvin bangun. Nak, ayah ingin jadi orang pertama yang kamu lihat,” ucapnya dengan suara bergetar.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Meski lelah, Langga tak pernah absen. Ia percaya bahwa kehadirannya, meski hanya dari balik kaca, adalah cahaya kecil yang akan menuntun Alvin kembali.
"Operasi Alvin sudah selesai dengan baik. Kami menemukan dua tulang rusuk yang patah, tepatnya pada costa ke-6 dan ke-7. Syukurlah, tidak ada kerusakan pada paru-paru maupun pleura, jadi fungsi pernapasan tetap aman."
"Kami melakukan fiksasi internal. Fragmen tulang yang patah kami reduksi ke posisi anatomis, lalu kami pasang Titanium Rib Plates & Screws. Dengan fiksasi ini, tulang akan lebih stabil dan proses penyembuhan lebih cepat."
"Untuk saat ini tidak ada tanda gangguan respirasi. Saturasi oksigen stabil sepanjang operasi, dan setelah pemasangan plat kami pastikan tidak ada kebocoran udara ke pleura. Prognosis sangat baik"
Ucap dokter saat itu.
Langga menatap kosong ke arah jendela yang buram oleh embun pagi. Di balik kaca itu, ia melihat bayangan dirinya seorang ayah yang gagal. Bayangan yang selama ini ia hindari, kini menatap balik dengan tatapan penuh tuduhan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALvIn
Teen Fiction*KARYA INI DI BUAT UNTUK DI NIKMATI* *BUKAN UNTUK DI PLAGIASI* 2019 - Hari ini #1 hope 12.09.2021 #1 hope 09.02.2022 #1 ingin 01.11.2021 #1 Alvin 07.01.2022 #1 Hyunjin 10.02.2022 #1 Masalah 24.02.2022 # 3 alone 08.12.2024 # 4 sick 18.11.2024 # 1 al...
