|44|

1.5K 92 2
                                        

Lisa sudah berbicara melalui telpon seluler dengan Dr. Farlan keadaan Alvin yang sekarang ini lebih ingin menyendiri hanya bersamanya, atau kedua Abangnya Raka dan Dava tidak ingin bertemu dengan orang lain malahan terlihat sekali menghindar di ajak keluar untuk jalan-jalan saja Alvin enggan.

"Bisa saja Alvin sedang membangun kepercayaan kepada keluarga, ia hanya ingin dekat dengan saudara maupun tante sebagai Bundanya. Itu kemajuan yang sangat bagus bagi Alvin apalagi saat bersama Laras sebatas gurunya saja, ketika belajarpun sekarang Alvin lebih berani mengungkapkan kegelisahannya"

"Tetapi apa sudah mencoba mempertemukan Alvin dengan Kake dan saudara kembar ayahnya?"

"Untuk itu.. masih belum berani mempertemukannya"

"Apakah Alvin pernah menghindar ketika bertemu orang lain selain keluarga?"

"Beberapa kali terjadi ketika ada teman Dava atau Raka kerumah, Alvin selalu mengurung diri dikamar tidak ingin bergabung padahal itu adalah orang terdekatnya Alvin sudah tahu mereka"

"Alvin memilki trauma bila ia berdekatan dengan Raka atau Dava saat berkumpul bersama teman-temannya, serangan kecemasan pertama waktu itu adalah pada saat menemani Dava latihan basket bukan?"

"Iya benar, saat itu bersama Dava. Itu yang paling parah tetapi bukan teman Dava yang berbicara menyakiti perasaan Alvin"

"Memang bukan teman dekat Dava yang memberikan ucapan menyakitkan kepada Alvin. Tetapi ini situasi yang sama pada saat trauma itu datang, adalah ketika Alvin berdekatan dengan Dava serta banyak orang yang berkumpul"

"Bila Alvin terus seperti ini tidak baik juga baginya berfikiran cukup hanya dengan keluarga, sehingga melupakan lingkungan sosial disekitarnya enggan bertemu berinteraksi atau menghindar dari orang luar"

"Apa akhir-akhir ini tidurnya sempat terganggu?"

"Mungkin malam tadi iya, sehingga menggangu pembelajarannya bersama Miss Laras tidak sesuai jam yang di tentukan. Tante minta maaf sebesar-besarnya karena cukup lumayan lama menunggu Alvin bangun tadi"

"Tidak apa-apa tante kami memakluminya"

"Hasil dari terapi kognitif Alvin adanya peningkatan yang signifikan ini sangat bagus, untuk selanjutnya kita akan melakukan terapi eksposur dimana Alvin menghadapi trauma itu kembali tetapi dengan cara yang terkendali"

"Apakah tidak akan sama seperti waktu itu?"

"Tidak tante, pada waktu itu emosi Alvin meledak-ledak karena ia memendamnya untuk tidak mengungkapkannya. Berbeda dengan sekarang Alvin sudah bisa mengendalikan emosinya, sedikit demi sedikit dan mengungkapkan apa yang menjadi kegelisahannya bukan"

"Untuk melakukan terapi eksposur ini, kita pelan-pelan saja mungkin bisa dari teman dekat Alvin sendiri yang datang kerumah untuk membuatnya nyaman berinteraksi"

Itu yang di sampaikan Dr. Farlan melalui sambungan telpon untuk kondisi Alvin saat ini mungkin akan Lisa usahakan, meskipun kemarin ia memberikan tawarannya untuk Maren agar datang kerumah Alvin menolaknya. Dava dan Raka juga menyadari kebiasaa Alvin akhir-akhir ini yang enggan berinteraksi dengan dunia luar.

"Mau ikut bang Raka kekampus engga? Cuma sebentar, pulangnya kita jalan-jalan" tawar Raka sudah siap dengan tas ranselnya.

"Engga mau"

"Mau dibelilin apa pulangnya?" Tawar Raka bila tidak ikut setidaknya menawarkan makanan apa yang Alvin inginkan.

"Mau egg trat" ucap Alvin setelah berfikir cukup lama menjawab pertanyaan Raka.

ALvInTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang