|54|

1.1K 81 3
                                        

Apakah Alvin boleh menarik ucapannya bahwa ia sangat ingin ikut melihat pertandingan basket Dava, entah saking senang atau dirinya sendiri belum siap untuk kembali ke sekolah malam ini rasa kantuk itu menghilang tidak ia rasakan.

Posisi tidurnya sudah beberapa kali berganti dari mulai terlentang, tidur menghadap kanan, dan menghadap kiri. Sampai bantal dan guling menumpuk semuanya diujung kasur. Alvin tertidur hanya menggunakan selimut yang menutupinya sampai leher, matanya memang terpejam ketika akan merasakan tidur yang nyenyak tapi kesadarannya direnggut kembali entah kenapa.

Alvin membuka matanya jam menunjukan pukul satu dini hari dan ia belum tertidur dengan benar, bila keadaan seperti ini suasana hatinya sangat tak baik air matanya keluar tanpa diminta. Rasa kesal menghinggapi hatinya, tubuhnya meminta tidur ia lelah telah melakukan medical chek up.

Clek

Suara pintu kamarnya terbuka disana Lisa telah menggunakan mukena berwana hitam, Alvin menatapnya dengan mata yang merah berkaca-kaca. Lisa berjalan pelan menghampiri ranjang sang bungsu, ia tadi telah melakukan shalat malam untuk ketenangan hatinya mengahadapi hari-hari yang berat.

Lisa kira Alvin sudah tidur ternyata bungsunya itu masih terjaga menatapnya, ia tersenyum lembut keduanya saling bertatapan. Duduk di ranjang dengan kedua tangan ia ulurkan untuk membingkai wajah Alvin mencium keningnya lembut membuat matanya terpejam merasakan kasih sayang sang bunda.

"Kenapa belum tidur hem?"

Alvin selalu suka bila sang bunda membangunkannya dengan lembut dan mukena yang digunakannya membuat hatinya lebih tenang, apalagi sang bunda selalu memanjakannya mendekapnya lembut memberikan kata-kata penenang mengusap lembut rambutnya Alvin menikmati itu.

"Mau tidur"

Suara serak Alvin mengeluh padanya menjawab bahwa ia kembali susah untuk tidur, Lisa merasa bersalah seharusnya tadi malam ia terus mengecek atau tidur dikamar Alvin saja. Ia terlalu lelah sehingga membuatnnya tertidur tanpa mengecek Alvin terlebih dahulu setelah makan malam.

"Iya tidur sama Bunda, udah jam 1 nanti kesiangan nonton tandingnya bang Dava"

Dengan mukeuna yang masih Lisa gunakan ia tertidur di sebelah Alvin mendekapnya lembut mengecup puncak kepala, Alvin mencoba menyamankan posisi didekapan sang bunda kain mukena yang terasa lembut dan dingin di kulit Alvin membuatnya nyaman apalagi sang bunda mengusap-usap punggungnya.

Lisa yang akan kembali mencoba untuk tidur mendekap tubuh sang bungsu malah meraaakan tubuh itu bergetar dan suara lirihan tangis terdengar ditelinganya membuat Lisa kembali membuka mata.

Ia usap lelehan air mata yang keluar dengan ibu jarinya lembut, tak ingin bertanya mengapa Alvin seperti ini. Lisa tahu bahwa sang bungsu kesal karena susah untuk tertidur, padahal bila sudah chek up selalu nyenyak untuk tidur apalagi setelah meminum obatnya.

"Bunda disini"

Alvin memiliki resep obat penenang serta obat tidur dari Dr. Farlan waktu itu dimana mentalnya sedang hancur-hancurnya, setiap malam tidak bisa tidur mimpi buruk selalu menghampirinya dosis dari obatnyapun Lisa tahu itu sangat tinggi untuk Alvin. Bila obat itu di resepkan kembali untuk Alvin rasanya Lisa sangat sakit hati sekali mengingat masa dimana Alvin tidak nyaman dengan keadaan tubuhnya sendiri, hanya untuk tidur mengistirahatkan tubuh dan fikirannya saja tidak bisa masih di ganggu oleh mimpi buruknya.

Suara adzan subuh berkumandang membangunkan Lisa, dilihatnya Alvin masih tertidur tenang didekapannya membuatnya menghembuskan nafas berat.

"Bunda"

Itu suara panggilan dari Raka yang baru saja masuk ke kamar melihat sang bunda yang tertidur menemani adiknya, Raka tahu bila sang Bunda ada di kamar Alvin berarti malam yang buruk sedang adiknya rasakan.

ALvInTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang