spesial bersama 'Dava'🍃

427 41 8
                                        

Dava abang keduanya berbeda dengan Raka, yang selalu meberikan pelukan hangat atau usapan di kepala. Dava itu sedikit kasar dan sangat jail, tetapi Alvin tahu abang keduanya memberikan kasih sayang dengan cara yang berbeda.

"Abang Dava!"

Panggil Alvin berlari dari arah dapur menemani sang Bunda masak, terdengar suara Dava pulang setelah mengikuti perlombaan basket antar sekolah.

Langga yang baru saja menutup pintu rumah ditangannya terdapat piala berukuran sedang, sedangkan Dava membawa sebuah mendali emas di lehernya.

"Wooaahhh!! Keren.. Abang keren"

Antusias Alvin menyambut kepulangan Dava dari perlombaan, mendali itu ia kalungkan ke leher Alvin. Senyumannya semakin lebar dengan kedua tangan menggengam mendali itu penuh bangga.

"Coba gigit" jail Dava.

Alvin kecil yang memang sangat penurut tidak curiga dengan perintah Dava, meskipun beberapa kali abang satunya itu sangat jail padanya.Tangan kanannya menggenggam mendali emas itu, diarahkan kemulutnya tepat saat di gigit terasa dingin dan tentu saja keras linu terkena gigi.

"Keras, sakit gigi Alvin" ucap Alvin meringis menjauhkan mendali dari mulutnya

"Hahahaa... Bagus berarti asli"

Dava yang melihat kepolosan adik kecilnya tertawa lepas, mengapa adiknya ini sangat penurut padanya. Wajah alvin bersemu merah saat melihat Dava tertawa di hadapannya, dengan satu kali gerakan tangan kecilnya mencubit kecil paha Dava dengan keras.

"Aww! Sakit. berani heh!! sini.. sini enggak" Dava mengaduh memegangi bagian yang di cubit kecil sang adik.

Alvin ingin berlari menjauh kearah dapur menuju Lisa mengadu. Tetapi kedua tangan Dava sangat cepat menangkup kepalanya erat, tubuh kecil itu mundur sedikit tersered memutar menghadapnya. Membuat Alvin meringis sakit dengan perlakuan Dava.

Apalagi kedua pipi yang berisi itu terhimpit tangan cukup keras. Seperti bola basket yang selalu ia pegang. Kepala Alvin yang berada di tangannya itu, ia dorong kekanan kekiri dengan kedua tangan tidak lepas dari kedua sisi kepala Alvin. Membuat tubuh Alvin terhuyung mengikuti arah tangan Dava, kedua tangannya berontak mengenggem tangan sang abang tapi percuma tenaganya tidak sepadan.

"Aaaa!! BUNDA!! AYAH!!" Teriak Alvin.

"DAVA!! ADIK KAMU BUKAN BOLA BASKET!!" Peringat Langga.

Dava hanya tertawa melihat keadaan sang adik yang menurutnya sangat lucu, setelah mendorongnya kekanan dan kekiri. Tubuh Alvin kecil itu ia gotong memutar cepat dan melemparnya ke sofa empuk di ruang keluarga.

Dava itu sebenarnya sayang dengan sang adik, hanya saja dengan cara yang cukup kasar tetapi tidak sampai menyakiti. Dia itu tipe abang yang gregetan saat berhadapan dengan kepolosan adiknya.

Saat itu Alvin di tegur oleh sang Ayah, karena terus mengganggu Raka yang sedang belajar untuk olimpiade sekolah. Tubuh kecil itu bergetar menangis. Mengadu pada sang Bunda sama-sama mengomel, tidak ada yang membelanya atau sekedar menenangkannya memberikan pelukan.

"Jangan nangis"

Peringatan Dava tidak mempan malah suara tangisan itu semakin melengking membuat telinganya sakit. Terbesit satu ide adiknya ini adalah maniak coklat, ia menarik tangan kecil itu untuk mengikutinya kearah dapur.

"Jangan bilang siapa-siapa, cuman kita berdua okey"

Tangis itu sedikit berhenti ketika melihat toples penuh berisikan coklat yang Alvin sukai, tangan Dava membuka toples itu dengan sekali tarikan. Mengambil coklat itu memasukkannya ke dalam mulut, sedangkan Alvin hanya diam melihat dengan mulut terbuka.

ALvInCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang