|68|

446 59 7
                                        

Langga berdiri terpaku matanya membelalak tak percaya pada apa yang baru saja terjadi. Suara letupan masih bergema di telinganya, tubuh di depannya terjatuh begitu cepat meninggalkan keheningan yang menyesakkan. Ia hanya bisa menatap kemejanya yang ternodai oleh percikan yang membuat kenyataan semakin sulit diterima, seolah dunia berhenti berputar dan semua logika runtuh dalam sekejap.

Membuatnya terjebak antara rasa takut, kaget, dan penolakan untuk menerima bahwa peristiwa itu benar-benar nyata. Sementara pikirannya berputar mencari alasan, jawaban, atau sekadar pegangan agar tidak tenggelam dalam keterkejutan yang melumpuhkan.

"Alvin.. Nak bertahanlah Ayah mohon"

Langga menghampiri tubuh Alvin yang sudah tergeletak tidak berdaya di lantai gudang. Tangannya bergetar membuka dengan pelan ikatan tali tambang, tidak ingin menambah rasa sakit pada tubuh Alvin.

"Ini Ayah nak.. Ayah datang Alvin"

Tubuh lemah itu Langga dekap masuk kedalam pelukan hangatnya, bercak merah segar mengkilat menutupi sebagian wajah Alvin yang lemah. Hanya terdengar ringisan lirih setiap Alvin menarikan nafas dengan sangat pelan.

Tangan bergetar Langga menyentuh pipi Alvin mengusapnya pelan berusaha memberikan afeksi, namun tidak ada respon untuknya meskipun kedua mata itu masih berusah untuk tidak tertutup.

Suara sirine ambulance dan polisi bersautan semakin mendekat kearah gedung terbengkalai, Tim medis segera tiba bersama bawahan Zafar, mereka langsung melakukan primary survey (ABCDE).

"Medis.. Alvin butuh medis cepat!" Ucap Langga bergetar.

Tim medis segera mengambil penangana awal. Wajahnya berlumuran darah akibat hematemesis yang dipicu oleh gastritis kronis. Napasnya tersengal karena fraktur pada dua tulang rusuk kanan yang menekan rongga toraks. Dalam dekapan Langga, tubuh Alvin bergetar, menandakan distress respirasi yang serius. 

“Airway paten, tapi ada darah di rongga mulut. Bersihkan segera!”

Perintah seorang dokter lapangan. Seorang petugas menggunakan suction untuk mengeluarkan darah dan lendir, lalu memasang kanula orofaring untuk menjaga jalan napas tetap terbuka. 

"Engghhh!!!"

Alvin mengerang serak dengan mulut pucat yang terbuka mengernyit sakit, tubuh lemah itu memberikan respon saat tangan medis terlapisi sarung tangan memeriksa bagian tubuhnya.

“Breathing compromised. Ada fraktur costae kanan, kemungkinan menyebabkan splinting pernapasan. Pasang oksigen non-rebreathing mask, 10 liter per menit”

Masker oksigen segera dipasang, membantu saturasi yang mulai menurun. Seorang paramedis memeriksa tangan kanan Alvin.

“Ada deformitas, kemungkinan dislokasi radius-ulna. Kita imobilisasi dengan bidai sementara.” Bidai dipasang, kemudian tangan dibalut dengan perban elastis untuk mencegah pergerakan lebih lanjut. 

Langga yang masih menggenggam tangan Alvin bertanya cemas, “Apakah dia bisa bertahan?” 

Dokter menjawab tegas, “Kondisinya kritis, tapi stabilisasi awal sudah dilakukan. Kita harus segera bawa kerumah sakit” 

Sementara itu, wajah Alvin dibersihkan dengan kasa steril. “Hematemesis akibat gastritis. Berikan cairan intravena Ringer Laktat, siapkan proton pump inhibitor injeksi di ambulans,”

instruksi dokter terdengar jelas. Jarum infus segera dipasang di lengan kiri Alvin, cairan mulai mengalir untuk mencegah syok hipovolemik. 

Alvin ditandu dengan hati-hati menuju ambulans. Sirene sudah meraung, menandakan perjalanan darurat. Alvin sempat membuka mata, menatap Langga dengan lemah.

ALvInTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang