|74|

367 64 7
                                        

Langga membuktikan ucapannya dengan tindakan-tindakan kecil yang mulai di rasakan oleh Raka dan Dava, bahwa sosok Ayah itu ada berada didekatnya. Mension Zafar memang memiliki maid yang mengatur dapur, tetapi hari ini berbeda Langga dari pagi sekali sudah berada disana menyiapkan sarapan untuk kedua anaknya.

"Selamat Pagi! Ayo kita sarapan" ucap Langga menyambut keduanya.

Raka dan Dava baru saja datang keduanya di kagetkan dengan nasi goreng yang masih mengepul hangat tersedia tiga porsi di meja makan. Seingat Raka dulu Ayahnya tidak pernah menyentuh peralatan masak apalagi membuat makanan sepeeti ini.

"Ayo duduk-duduk" Ajaknya kembali ketika melihat kedua anaknya hanya mematung kaku.

Meja makan diisi dengan suara sendok, Dava menyuapkan nasi itu kedalam mulut. Mengunyahnya sebentar dan berhenti mengerutkan kening, tetapi setelah itu kembali menyuapkan nasinya kembali. Raka sendiri menyuapkan sedikit, tangannya yang memegang sendok memainkan nasi goreng yang masih mengepul itu.

"Nasi goreng telur tanpa kecap buatan Ayah, gimana enak?" Tanya Langga setelah melihat ekpresi yang berbeda dari kedua anaknya.

"Lumayan, tapi enak nasi goreng buatan Bunda" ucap Dava.

"Ini enak" jawab Raka.

Langga tersenyum kecut setidaknya ia telah berusaha dengan hasil yang tidak terlalu buruk, lumayan untuk bisa dimakan menjadi sarapan pagi ini. Keduanya telah berbicara dengan jujur padanya hari ini dengan respon positif sedikit membuat hatinya menghangat untuk mengawali hari yang berat.

Semakin hari Raka sadari penampilan Ayahnya tidak sekacau awal Alvin dinyatakan coma tetapi, wajah lelah dengan lingkran hitam di bawah mata tidak dapat disembunyikan. Tubuh tegap  Langga kini mulai kehilangan berat badan cukup banyak. Namun, masih memaksa untuk tersenyum dan menyempatkan waktu untuk keduanya.

Langga sendiri memiliki porsi nasi goreng lebih sedikit dari keduanya, napsu makan menurun drastis terkadang bila tidak diingatkan oleh Adam asistennya ia akan lupa sampai perutnya mengirim sinyal untuk di isi.

Piring kotor Langga kumpulkan ia bawa menuju wastafel, ia kembali lagi ke meja makan memberikan beberala potong buah untuk pencuci mulut. Kakinya berjalan menuju wastafel mencuci piring kotor bekas nasi goreng ketiganya.

"Ayah berangkat kerumah sakit ya, enggak pulang lagi Ayah nginap disana" ucap Langga pamit dengan mengusap kepala keduanya dan mencium kepala anaknya secara bergantian.

Keduanya mendengar ucapan sang Ayah tetapi enggan untuk sekedar bertanya kembali. Beginilah keadaan Mension saat Lisa pulang menginap di Mension, kini giliran Langga yang menginap di Rumah Sakit. Bagimana hubungan keduanya membaik berkomunikasi saja tidak apalagi sekedar bertemu seperti orang tidak kenal.

Kini mobil yang ia tumpangi melaju meninggalkan Mension Zafar, ia duduk di kursi penumpang sedangkan Adam asiten pribadinya sebagai pengemudi. Terkadang ia teringat saat dulu pagi-pagi berangkat menuju kantor, yang ada dipikirannya adalah strategi bisnis serta kekhawatirannya terhadap untung rugi perusahaan. Apalagi dengan jadwal meeting yang padat dan berkas-berkas laporan yang menumpuk.

Sekarang, keadaan jauh berbeda dipikirannya terbagi menjadi dua antara keadaan sang bungsu yang sedang terbaring coma dalam pemantuan ketat dokter. Satunya lagi Reval harus dirawat dengan ekstra kesabaran yang besar. Kedua tangannya kini sibuk dengan lembaran hasil medis dari keadaan kedua anaknya.

Mobil itu telah sampai di rumah sakit, Langga turun dengan membawa tas berisikan baju ganti punyanya dan sebagian besar punya Reval. Ia berjalan tegap masuk menyelusuri lorong rumah sakit yang sudah familiar dengan bau antiseptik selama hampir dua bulan ini.

ALvInTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang