|71|

529 73 16
                                        

Lampu putih rumah sakit menyilaukan mata Lisa. Aroma antiseptik menusuk hidung, membuat suasana semakin tegang. Tiga anaknya Alvin, Dava, dan Reval baru saja dibawa masuk ke ruang penanganan darurat. Pintu ruang itu tertutup rapat, hanya suara langkah cepat para dokter dan perawat yang terdengar dari baliknya. 

Lisa duduk di kursi tunggu, tubuhnya lemah, matanya kosong menatap lantai. Air matanya masih mengalir, bercampur antara rasa syukur anak-anaknya masih hidup dan rasa takut akan kondisi mereka. 

Di tengah keheningan itu, langkah berat terdengar mendekat. Langga. Mantan suaminya. Sosok yang selama ini ia yakini telah tiada, kini berdiri di hadapannya dengan wajah penuh bercak darah yang belum sempat dibersihkan. 

Lisa mendongak, matanya membesar, tubuhnya menegang. “Langga…?” suaranya bergetar, antara marah, rindu, dan tidak percaya. 

Langga menarik napas panjang, menundukkan kepala. “Lisa… aku tahu aku tak pantas muncul di hadapanmu. Aku tahu semua ini membuatmu hancur. Tapi aku harus menjelaskan…” 

Suasana ruang tunggu seakan berhenti. Zafar dan Raka yang berdiri tak jauh darinya saling bertukar pandang, sementara Malik tetap beejaga tidak jauh dari sana.

Plak

Suara tamparan keras menggema nyaring di lorong rumah sakit, Raka yang melihat pertengakran keduua orang tuanya hanya bisa terdiam duduk. Kejadian ini mengingatkannya pada saat ia masih kecil, dimana suara teriakan-teriakan terdengar menyakitkan di dalam rumah.

"Kau melanggar janji mu Langga"

ucap Lisa menatap tajam penuh amarah pada Langga yang menunduk. Bekas tamparan yang keras terlihat ruam kemerahan di wajah sebelah kirinya. Keberanian yang ia kumpulkan untuk berkata 'maaf' kini menghilang tenggelam dalam penyeslaan yang mendalam.

"Alvin, Dafa.. Reval anakmu yang menjadi korban saat ini"

"Aku orang yang melahirkannya dia darah dagingku, aku ibunya.. mengapa kau melakukan ini pada Alvin" Tangan lentik itu bergetar menunjuk dada Langga dengan dorongan emosi yang menggebu-gebu.

"Dia anak mu juga Langga, dia darah daging mu" ucap Lisa penuh penekanan, meremas kemeja Langga yang penuh darah melampiaskan kekesalannya.

"Apa kau masih ingat? Alvin anak bungsu yang paling kau nantikan kelahiran dan kehadirannya. Amarah mu yang menghilangkan kasih sayang pada Alvin"

Ucap Lisa dengan cekalan di kemeja Langga mendorong tubuh tegap itu, sempat membuatnya mundur kebelakang karena Langga yag sudah dititik lelah.

"Aku menerima dengan berat hati keputusan hak asuh Alvin saat itu. Kau mengambilnya dengan baik-baik, maka kau harus mengembalikannya dengan keadaan yang baik juga padaku" jelas Lisa dengan nada bergetar.

"Aku tidak mempermasalahkan kehadiran Reval, aku menerimanya sebagai anak ku sendiri. Anak tidak seharusnya tahu dan dilibatkan dengan permasalahan kedua orang tuanya Langga"

"Bila kamu hancur maka biarlah menjadi urusan mu, jangan melampiaskan semua itu pada anak mu. Aku tidak menerima semua yang telah kau lakukan pada Alvin"

Lisa melepaskan cekalan di kemeja Langga dengan kasar, membuat tubuh itu mundur beberapa langkah ke belakang.

"Maaf" Lirihnya.

“Aku terjebak dalam sesuatu yang tak pernah bisa aku ceritakan. Aku berusaha melindungi kalian, tapi justru membuatmu menderita”

"Maaf Lisa.. aku memang salah, maafkan aku yang telah mengambil keputusan yang salah" Langga memberanikan diri melangkah mendekat pada Lisa, namun responnya kembali penolakan yang besar.

ALvInTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang