|59|

738 42 0
                                        

Tidak ada raut wajah ramah dari Langga yang duduk menatap setiap kalimat yang tertera rapih di setiap lembaran kertas di meja, semua ini telah ia siapkan secara detail dan lengkap untuk membuat Dian dapat tersadar akan posisinya dengan apa yang telah dilakukannya pada Alvin serta hak asuh Reval dapat berada di tangannya.

Orang yang ditunggunya cukup lamapun datang dengan menggunakan gaun putih sebawah lutut, serta sepatu hels hitam menambah kesan elegan dengan tatanan rambut pendek sebahu. Senyum bahagia tertera di wajahnya berjalan melangkah menuju Langga yang sudah menunggunya, ia menarik nafas merapihkan penampilannya sebaik mungkin Dian harus tampil cantik dan rapih dihadapan Langga.

"Maaf menunggu ku lama" Ucap Dian.

Dian duduk dengan pelan dihadapan Langga menyimpan tas kecil yang dibawa sebelahnya, keduanya saling bertatapan tetapi Langga tak terlalu ramah menyambutnya.

"Baca" Ucapnya singkat.

Senyum Dian masih terpatri di wajah cantiknya menurutnya Langga ingin bertemu dengannya saat ini memberikan harapan besar pada Dian, tangannya terulur mengambil kertas yang berada dihadapannya membaca setiap kalimat yang tertera.

Namun, senyum di wajahnya luntur digantikan dengan kerutan kening dengan wajah yang gelagapan kebingungan tersenyum hambar menatap Langga tetapi responnya tidak bersahabat sangat dingin mencekam penuh emosi.

Di lembaran pertama terdapat surat pernyataan mengenai hak asuh Reval selanjutnya terdapat bukti-bukti kekerasan fisik di tubuh Reval seperti lebam di dahi, area pipi yang merah keungun, serta tangan yang di perban. Foto itu cukup jelas dan sangat banyak entah bagaimana Langga memiliki foto-foto ini, dan yang membuat tubuh Dian menegang.

Ibu tidak mampu atau tidak layak: 
Ibu terbukti memiliki perilaku buruk (seperti berjudi, mabuk-mabukan) atau tidak mampu menjamin keselamatan fisik dan emosional anak. 

Point tersebut sangat membuat Dian mengeratkan pegangannya pada lembaran kertas di tangannya tentu saja ia tak terima dengan alasan tersebut meskipun itu semua benar, lembaran berikutnya yang sangat-sangat membuat Dian tidak percaya adalah bukti-bukti dimana kecelakaan yang dialami oleh Langga serta surat kematian palsu yang di buat oleh Dian saat itu terbukti bahwa ia yang melakukannya.

"Langga.. dapat dari mana semua ini? Kamu percaya sama aku kan?!
L-langga i-ini..." Ucap Dian gugup menatap Langga yang sedang menatapnya tajam.

"Cukup, sekarang tanda tangani surat ini" Ucapnya dingin tangannya menunjuk bagian kertas.

"Enggak, enggak Langga aku enggak akan mentanda tangani ini" ucapnya tak setuju mengelengkan kepala.

"Semua ini salah Langga! Kamu harus percaya sama aku" Ucap Dian melempar lembaran berkas itu di meja, tepat di hadapan Langga membuatnya tersenyum sinis mentapnya.

"Kamu percaya sama aku kan, aku yang membawa kamu kerumah sakit saat kecelakaan terjadi. Aku yang ngerawat kamu sampai kamu sembuh, enggak mungkin.. e-enggak mungkin aku Langga"

Tubuh Dian mendekat kearah Langga yang ada dihadapannya yang terhalang meja, tangannya terulur merayu lengan Langga mengusapnya pelan dengan tersenyum meyakinkan mencoba untuk menatap kearah wajah Langga.

"Langga.. kamu harus ingat pada Reval, anak kita berdua dia butuh kamu.. dia butuh Ayahnya ada disampingnya" Senyum Dian luntur saat Langga melepaskan tangannya kasar menatapnya tajam penuh emosi.

"Reval hanya butuh aku sebagai Ayahnya, Reval tidak butuh ibu seperti kamu" ucapnya dengan menekankan setiap kata, menatap wajahnya Dian dengan tajam dan tegas penuh amarah.

Keduanya hening tampa ada yang berbicara setelah itu, Dian menunduk badannya bergetar menahan tangis. Tangannya lentiknya mengusap pelan air mata yang keluar pada pelupuk matanya, tapi tidak membuat keadaan semakin membaik di wajah Langga masih menatap tegas tak akan tertipu lagi dengan semua kebohongan Dian.

ALvInTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang