|48|

1.3K 73 1
                                        

Alvin menatap tumpukkan buku yang berada di meja belajarnya, tas sekolah yang biasanya ia pakai kini hanya disimpan menjadi pajangan. Bila melihat kearah meja belajar, berkaitan dengan sekolah rasanya hati Alvin terasa sesak bukan karena materi pembelajaran disekolah. Namun, ingatan akan orang lain yang memberikannya sebuah ucapan yang menyakitkan seperti berputar dikepalanya dan terdengar ketelinga dengan jelas.

Padahal kini Alvin hanya duduk di beanbag dekat dengan kaca jendela kamarnya, menjadi kebiasaannya akhir-akhir ini. Ia mengalihkan pandangannya kearah kaca jendela, agar membuat hatinya tenang. Pandangannya tak henti mengamati taman yang kini banyak terdapat bunga yang memanjakan mata, pemandangan baru ini semakin membuat Alvin betah meskipun hanya lewat kaca.

Clek

Suara pintu kamar Alvin dibuka membuatnya tubuhnya sedikit tersentak, melihat kearah pintu ternyata bundanya membawa sarapan untuknya. Berjalan kearahnya dengan wajah yang tersenyum lembut, membuat Alvin menunduk. Ia masih ingat kemarin membentak sang Bunda dan belum meminta maaf, Alvin terbawa emosi kemarin susana hatinya sangat berantakan.

Lisa duduk didepan Alvin berhadapan, anak bungsunya itu masih menunduk tak berani menatapnya. Dapat dilihat dengan kaki yang Alvin tekuk serta dua tangan yang berada dipangkuannya saling menggenggam.

"Makan dulu ya.. Bunda suapi"

Lisa mengusap lutut Alvin dengan lembuat sehingga tubuh itu merespon dengan tubuh yang ditegakkan tidak bersandar pada beanbag kesayangannya.

"Makannya harus habis, Bunda buat porsinya sedikit"

Lembut Lisa tersenyum dengan sendok ditangannya menyuapinya, seyumnya tak luntur meskipun Alvin masih terdiam dengan makan yang tak lahap seperti biasanya. Bagaimanapun keadaan Alvin saat ini Lisa tak akan pernah lelah dan putus asa dirinya sudah berjanji akan merawatnya, meskipun hatinya terasa sakit bila bungsunya sedang drop seperti ini Lisa merasakan kehilangan senyuman manis Alvin.

Uuhhuk.. uhhuk..

"Maaf-maaf Bunda kecepetan ya suapin Alvinnya" Lisa memberikan tisu pada Alvin, segera mengambil gelas minum disebelahnya.

"Minum dulu sayang" Tangannya dengan telaten membantu Alvin untuk minum.

Uhhuk..

Alvin masih terbatuk tersedak makanannya, ini salah Lisa yang melamun sambil menyuapi Alvin sangat gegabah. Kini Alvin tersedak karenanya raut wajah Lisa khwatir menatap anak bungsunya yang menetralkan nafasnya, piring ditanganngan berisi soup itu tinggal sedikit ia tak akan memaksa untuk dihabiskan bila seperti ini.

"Udah aja ya.. makannya, sekarang minum obat sesudah makan dulu"

Tangan itu dengan telaten memberikan obat untuknya, mengambil tisu kotor ditangan Alvin membereskan bekas soup dan menambahkan Alvin air minum di gelasnya.

Keningnya mengkerut matanya terpejam mulutnya merasakan rasa pahit dari obat yang diberikan sang Bunda, ketika membuka mata Lisa sudah menyiapkan mangga yang dipotong kotak ditusuk menggunakan garpu. Bundanya sangat tahu apa yang Alvin butuhkan, dengan senang hati ia mengambil mangga itu dan segera memakannya kedalam mulut rasa pahit itu kini diganti dengan rasa mangga yang manis.

"Obatnya pahit Nak, ayo makan lagi Mangganya biar enggak pahit"

Lisa memberikan potongan mangga di piring kecil, Alvin menerimanya menyimpan dipangkuannya menunduk melihat kearah potongan Mangga sesekali melahapnya.

Lisa berdiri dari duduknya membuka laci sebelah kasur, disana terdapat kotak P3K ia akan mengobati tangan Alvin yang terluka. Luka itu masih belum mengering setiap selesai mandi perban akan diganti dan Alvin belum menggunakan perban untuk luka yang terbuka itu.

ALvInTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang