Langit sore tampak muram, seakan ikut menanggung beban hati Lisa. Dari balik kaca mobil, matanya tak pernah lepas menatap gedung terbengkalai yang kini dipenuhi polisi dan tim medis. Garis kuning bertuliskan POLICE LINE membentang, membatasi siapa pun untuk masuk. Namun bagi Lisa, batas itu tak mampu menahan derasnya keresahan seorang ibu.
Ia duduk di kursi penumpang, tubuhnya kaku, jemari saling meremas hingga pucat. Di sebelahnya, Zafar menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras. Sementara Raka duduk didepan sebelah kemudi sesekali melirik Lisa kebelakang, seolah ingin menenangkan tapi tak tahu harus berkata apa. Malik, bawahan sekaligus bodyguard Zafar duduk di depan kemudi matanya awas mengamati setiap gerakan di luar.
Detik terasa lambat. Setiap orang yang keluar masuk gedung membuat jantung Lisa berdegup lebih cepat. Nafasnya pendek, matanya berair, dan doa-doa lirih terus bergulir di bibirnya 'semoga anak-anaknya selamat'
Tiba-tiba, keributan kecil terdengar. Dua petugas medis berlari membawa tandu. Lisa menegakkan tubuhnya, matanya membesar. Alvin anak yang ia tunggu tubuhnya terbaring lemah, dibawa masuk ke dalam ambulans. Air mata Lisa jatuh tanpa bisa ditahan, bercampur antara lega dan takut.
Tak lama kemudian, Reval menyusul. Tubuhnya juga dinaikkan ke ambulans. Lisa hampir membuka pintu mobil, ingin berlari mendekat, namun Zafar menahan dengan tatapan tegas.
"Tunggu, Lisa. Biarkan mereka ditangani dulu."
Namun pandangan Lisa terhenti pada sosok lain. Di antara kerumunan, berdiri seorang pria dengan tubuh berlumuran darah. Langga. Mantan suaminya. Pria yang sudah lama dinyatakan mati. Lisa membeku, matanya tak percaya. Di sampingnya, berdiri Lingga kembarannya dengan bercak darah serupa di tangan dan baju.
Dunia Lisa seakan runtuh. Nafasnya tercekat, tubuhnya gemetar. "Tidak... ini tidak mungkin..." bisiknya lirih.
Di balik kaca mobil, Lisa menatap dua sosok itu. Antara kenyataan dan mimpi buruk, antara harapan dan ketakutan. Malam itu, keresahan seorang ibu mencapai puncaknya menanti keselamatan anak-anaknya, sekaligus berhadapan dengan masa lalu yang tiba-tiba bangkit kembali, berdiri di hadapannya dengan darah yang belum kering.
"Lisa ada yang Bapak ingin bicarakan.. ini tentang Langga. Ia masih hidup Lisa" ucapan Zafar membuatnya tertegun menatap tidak percaya.
"Enam bulan setelah berita kematian Langga yang di palsukan, dia pulang menemui Bapak"
"Kematiannya di palsukan?"
"Iya, Dian yang melakukannya"
"Dian"
Nama itu kembali menjadi sumber masalah dalam keluarga kecilnya, ada rasa sakit saat nama itu terus di sebut dalam kehancuran keluarganya.
"Ya.. Dian memanipulasi semua keadaan saat itu. Langga saat itu kecelakan mengharuskannya melakukan beberapa terapi dan chek up. Dia mengingat semua apa yang terjadi, tetapi tubuhnya masih lemah untuk sekedar menjauh dari Dian"
"Mungkin tuhan memberikannya kesempatan pada Langga. Dia bertemu dengan anak bungsu yang ia sia-siakan Lisa.. Langgalah yang sebenarnya membawa Alvin kerumah sakit saat itu"
Ucapan Zafar membuat Lisa menatap kearahnya. Kembali mengingat saat kedua anknya sama-sama terbaring sakit, saat itu ia melihat sekilas Langga di lorong rumah sakit berarti itu benar dia yang membawa Alvin.
Alvin sempat meracau tidak jelas mengenai kehadiran Langga, ia kira bahwa itu efek dari sang ank yang mengalami demam tinggi. Ternyata Alvin tidak berbohong.
"Dia memanfaatkan kesempatan untuk chek up kerumah sakit dengan menemui Alvin, serta berkomunikasi dengan Lingga"
"Langga selalu ada di dekat mu, tapi ia tidak memiliki keberanian hanya sekedar untuk berkata maaf"
KAMU SEDANG MEMBACA
ALvIn
Fiksi Remaja*KARYA INI DI BUAT UNTUK DI NIKMATI* *BUKAN UNTUK DI PLAGIASI* 2019 - Hari ini #1 hope 12.09.2021 #1 hope 09.02.2022 #1 ingin 01.11.2021 #1 Alvin 07.01.2022 #1 Hyunjin 10.02.2022 #1 Masalah 24.02.2022 # 3 alone 08.12.2024 # 4 sick 18.11.2024 # 1 al...
