|63|

670 78 7
                                        

Kesadarannya hilang dan timbul tak sepenuhnya terkumpul namun rasa sakit di sekujur tubuhnya terasa menyakitkan. Keningnya mengerut ringisan-ringisan keluar dari mulut pucat Alvin. Ia berusaha untuk mempertahankan kesadarannya mengerjapkan matanya perlahan. Namun, tubuh itu terlalu lemah menanggung rasa sakit penglihatannya masih belum jelas dengan setiap tarikan nafas yang lemah serta menyakitkan.

Suhu udara di sekitarnya semakin dingin menerpa kulit Alvin yang hanya dengan memakai pakaian tipis, di suhu udara malam yang dingin serta angin yang menyelinap cukup kencang dari sela-sela bangunan itu. Matanya masih terpejam sesekali giginya gemelutuk menahan udara dingin di tubuhnya, ruangan ini seperti gudang yang tak terpakai terasa pengap berdebu.

Tenggorakannya terasa kering dengan bibir yang mulai perih pecah-pecah, Alvin menghembuskan nafasnya memberikan ketenangan untuk dirinya sendiri. Saat dirasa kedua tangannya di ikat dengan kencang kebelakang dengan tali tambang bertekstur kasar. Semakin ia menggerakan untuk lepas, semakin ia juga dapat menyakiti tangannya yang mulai terasa perih akibat gesekan kulitnya pada tali tambang yang kasar. Dipastikan kedua pergelangan tangannya sudah berwarna merah.

Air matanya keluar tanpa diminta, ia kembali teringat dengan dengan apa yang terjadi pada dirinya. Bagaimana nasib sang Bunda serta kedua abangnya, nafasnya kembali memburu tak beraturan tubuhnya terlalu lemah hanya sekedar untuk bergerak kembali. Alvin menangis tanpa suara dadanya terasa sesak dengan gelombang emosi yang membuncah di hatinya tak dapat ia salurkan karena tubuh yang lemah ini, entah berapa lama ia menangis sampai mata itu terpejam kembali.

 Alvin menangis tanpa suara dadanya terasa sesak dengan gelombang emosi yang membuncah di hatinya tak dapat ia salurkan karena tubuh yang lemah ini, entah berapa lama ia menangis sampai mata itu terpejam kembali

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Cahaya matahari dengan teriknya menyelinap dari setiap jendela, tertuju kepada tubuh lemah Alvin yang duduk di kursi dengan tubuh yang diikat tali tambang erat. Kepala yang menunduk semalaman ia gerakkan menatap cahaya matahari yang menyilaukan penglihatannya, ringisan keluar saat lehernya terasa sakit untuk di gerakan.

Entah jam berapa saat ini, tapi cahaya matahari itu cukup membuat Alvin mengeluarkan keringat banyak. Terasa gerah karena suhu yang semakin panas serta pengap. Alvin jelas mengalami dehidrasi ia butuh air untuk menyegarkan tenggorokannya yang mulai kering dan sakit.

Di malam hari tubuh lemah Alvin merasakan rasa dingin yang menusuk ketulang, di siang hari cahaya matahari sangat panas menyengat membuat tubuh Alvin mengeluarkan keringat.

Mata indah itu terbuka penglihatannya kini terlihat jelas ternyata ia berada di gudang yang terbengkalai. Terlihat dari barang yang sudah berdebu, tak ada siapapun disini kecuali dirinya yang terduduk lemah dikursi diikat erat.

 Terlihat dari barang yang sudah berdebu, tak ada siapapun disini kecuali dirinya yang terduduk lemah dikursi diikat erat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ALvInTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang