|66|

678 65 4
                                        

Mobil yang di kendarai oleh Lingga menurunkan kecepatannya, saat terdapat pesan dari Dava bahwa ia telah mendapatkan alamat keberadaan Alvin. Suasana dalam mobil penuh dengan ketegangan, dimana Zafar tidak henti-hentinya menelpone.

Zafar mengkoordinasikan bawahannya untuk mengikuti mobil yang di bawa oleh kedua cucunya Reval dan Dava. Ia sudah memberi tahu juga pada Ayah kedua anak tersebut, Langga untuk segera menuju tempat itu. Serta ia menyiapakan bawahannya untuk segera mengepung tempat itu nantinya.

"Kita kehilangan jejak mobil itu Lingga?" Tanya Zafar yang duduk di sebelah, sesangkan Lingga sedang mengemudi mobil.

"Tidak pak, Dava telah mengirimkan tempat dimana Alvin berada" ucap Lingga.

"Terus Reval dan Dava mereka kemana? Apa Dava membawa Reval ke tempat yang aman, Mension?" Tanya Lisa memastikan.

"Mereka sama menuju kesana" ucap Lingga

"Itu bukan tempat yang aman buat mereka berdua om" ucap Raka terselip rasa khawatir dengan keputusan kedua adiknya itu. Adik? ya Raka telah menerima Reval sebagai adiknya.

"Raka telpone Dava sekarang, bilang kalau dia harus pulang" Perintah Lisa pada Raka.

"Dia enggak bawa handpone Bunda" jawab Raka.

"Kalau gitu telpone Reval, jangan sampai Reval kembali bertemu Dian" Lisa mulai khawatir dengan keadaan keduanya nanti.

"Nombernya enggak aktif bunda" Jawab Raka.

"Lisa jangan khawatir dengan keadaan mereka. Bapak pastikan semuanya akan baik-baik saja, Bapak janji itu" ucap Zafar menenangkan.

Hati ibu mana yang tidak gelisah anak bungsunya sudah dua hari tanpa kabar, sekarang Dava dan Reval keduanya malah mendekat pada bahaya. Ia sebagai ibu hanya bisa merapalkan doa dalam diamnya, memohon keselamatan untuk semua anaknya.

Tentang Reval semua ini bukan salahnya, anak itu tidak tahu apa-apa atas masalah kedua orang tuanya. Yang patut di salahkan adalah perilaku dari Dian yang membuat semua ini semakin rumit. Dari awal ia tahu bahwa Reval karena hadir rasa sakit dan kecewa itu ada, tetapi tak sepenuhnya ia tujukan dan salahkan pada anak yang telah lahir dalam keadaan suci tidak tahu apa-apa. Yang seharusnya mennagung dosa adalah orang tuanya.

Lisa telah menganggap Reval anaknya sendiri, bagaimanapun tidak bisa di pungkiri darah Langga mengalir di tubuh Reval.

🍃🍃🍃


Tempat Alvin berada cukup jauh dari perkotaan, sekitar dua jam perjalan mobil yang dikendarai Reval melewati hutan dengan pepohonan yang julang tinggi. Jarang transportasi yang melewati jalanan ini, sesekali hanya ada truk pengangkut barang besar.

Mobil berbelok kearah kanan memasuki jalan yang hanya bisa di lewati oleh satu mobil saja. Bila hanya melewati jalan besar saja jalan ini tidak akan terlihat oleh ilalang yang cukup tinggi menutupi setiap jalannya.

"Lo yakin ini tempatnya?"

"Ini tempatnya" yakin Reval.

Jalanan yang tidak rata tak diaspal membuat mobil beberapa kali terguncang, karena jalanan licin oleh tanah berpasir gersang. Mobil yang di kendari melaju kencang meninggalkan debu pasir.

"Ini pegang"

"Reval lo jangan becanda"

"Gue serius Dava"

Reval memberikan senjata api kepada Dava sebagai bentuk pertahanan untuknya nanti, senjata ini ia ambil dari penjaga saat kabur dari rumah sang Mamah. Entah berapa peluru yang tersisa disana. Yapi setidaknya bila Dava dan dirinya membawa itu keduanya, akan aman meskipun tidak terampil dalam menggunakannya. Bila keadaan mendesak semua bisa dilakukan.

ALvInTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang