"JANGAN BERGERAK!! KALIAN SUDAH DI KEPUNG!!"
Suara itu mutlak sebagai putusan bahwa mereka tidak bisa lagi melakukan perlawanan. Suara riuh gesekan sepatu pada tanah berpasir, semakin terdengar mendekat dari arah pintu gerbang. Mereka muncul dengan cepat gerakan yang singkron dan tegas berjalan tanpa rasa takut. Ditangan mereka di lengkapi senjata siap untuk membidik bila terjadi ancaman.
Ketiga bawahan Dian melepaskan senjata mereka sehingga tergeletak di tanah, tidak ada perlawanan karena mereka kalah telak dengan jumlah. Dava yang sudah tidak sadarkan diri di bawa oleh Malik sedangkan Reval di bawa oleh Adam. Keduanya telah aman saat ini meskipun, Langga meringis melihat keadaan kedua anaknya yang sama-sama keras kepala itu berakhir dengan babak belur.
"Bawa mereka ketempat aman"
Langga melihat keadaan anaknya saat ini membuat tersulut amarah di dalam dirinya, Dian tidak lagi memandang Reval sebagai anaknya yang ia lahirkan. Tetapi ingin menyingkirkan orang yang menghalangi semua keinginannya.
"Tahan mereka, biarkan hidup sebagai saksi"
Dingin Langga tanpa melihat bawahan Dian yang sudah tidak berdaya di sered oleh beberapa orang dari Zafar.
Setiap langkahnya terasa berat, seolah setiap pijakan di tanah yang lembap menambah beban di dada. Siang itu matahari sangat terik, desir angin yang menyelinap di antara pepohonan. Namun, di balik kesunyian itu hatinya berdegup kencang penuh cemas dan amarah.
Gudang tua yang terbengkalai tampak samar dari kejauhan, berdiri muram dengan dinding kusam yang mulai retak. Bau karat dan debu seakan menyambutnya, menambah rasa ngeri yang merayap di sepanjang tubuh.
Setiap langkah mendekat membuat bayangan gudang semakin jelas. Seakan menegaskan bahwa di sanalah Alvin anak bungsunya, sedang disekap oleh tangan kejam Dian.
Matanya berkaca-kaca, antara harapan dan ketakutan. Nafasnya terengah, bukan karena lelah, melainkan karena rasa putus asa yang berusaha ia lawan.
“Bertahanlah, Nak…” bisiknya lirih, suara yang pecah oleh tangis tertahan.
Pintu gudang berderit pelan saat disentuh, seolah menjerit mengabarkan penderitaan yang tersembunyi di dalamnya. Gelap menyelimuti ruang, hanya cahaya matahari yang menembus celah-celah besi karat jendela.
Langga merasakan gelombang emosi yang tak terbendung amarah yang membara, cinta seorang ayah yang tak tergoyahkan, dan tekad untuk merebut kembali anaknya dari cengkeraman kejam.
Deg
Langga terhenti seketika. Nafasnya tercekat, matanya membelalak menatap pemandangan yang menusuk jantungnya. Di bawah lantai gudang yang kotor, penuh debu dan serpihan kayu lapuk Alvin duduk terikat.
Wajahnya penuh darah bengkak merah keunguan, Langga sempat tidak mengenalinya. Alvin tertunduk lemah mata itu tidak tampak berbinar hanya sorotan mata kosong, setiap tarikan nafasnya sangat pelan lemah.Tepat di belakang kepala anak bungsunya itu, Dian berdiri dengan senjata api terarah, dingin dan tanpa ragu.
Cahaya siang yang menembus celah-celah papan gudang membuat suasana semakin tegangkontras antara terang matahari dan kelam yang menyelimuti hati Langga. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, tangan mengepal, namun langkahnya tertahan oleh rasa takut kehilangan.
“Dian..”
Suara Langga bergetar, penuh amarah sekaligus memohon. Dian tersenyum tipis, senyum yang menusuk seperti belati.
“Jangan bergerak, Langga. Satu langkah lagi, dan kau akan melihat akhir dari anakmu.”
Langga merasakan dadanya seperti diremas. Antara keberanian untuk maju dan ketakutan yang menahan. Ia menatap Dian dengan sorot mata tajam, penuh tekad. Ia tidak mengancam membiarkan tangannya kosong tanpa senjata.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALvIn
أدب المراهقين*KARYA INI DI BUAT UNTUK DI NIKMATI* *BUKAN UNTUK DI PLAGIASI* 2019 - Hari ini #1 hope 12.09.2021 #1 hope 09.02.2022 #1 ingin 01.11.2021 #1 Alvin 07.01.2022 #1 Hyunjin 10.02.2022 #1 Masalah 24.02.2022 # 3 alone 08.12.2024 # 4 sick 18.11.2024 # 1 al...
