|57|

1.1K 80 2
                                        

Tubuh itu kini terbaring di tempat tidur yang nyaman nan hangat dengan selimut sebatas dadanya, namun berbeda dengan keadaan tubuhnya penuh dengan keringat dikening serta lehernya suhu tubuhnya meningkat drastis dari tiga jam yang yang lalu.

Mata indah itu masih terpejam tertidur sepertinya tidak nyenyak namun tak ada yang ingin membangunkannya karena mereka tahu tubuh itu terlalu lelah butuh untuk istirahat, meskipun dalam mimpipun Alvin masih tak diijinkan untuk merasakan rasa aman dan nyaman. Nascal kanul masih bertengger dihidung lancipnya, bantuan oksigen untuk tubuhnya mengalir dengan lancar entah apa yang dialami dalam mimpinya helaan nafas terus terdengar ditelinga dengan mulut yang sekali-kali terbuka mengambil oksigen.

"Bunda ini enggak di bangunin aja?" Tanya Raka duduk disisi ranjang menatap Alvin.

"Bentar lagi bangun ko Alvin" ucap Lisa tenang.

Hati Lisa masih terasa was-was dengan keadaan anak bungsunya yang kembali drop, ada rasa syukur terselip di hatinya keadaan Alvin tidak sampai menyakiti dirinya sendiri seperti biasanya. Bila emosi yang meledak-ledak tak bisa Alvin kendalikan kedua tangan serta telinga dan bagian pundak akan habis oleh bekas cakaran yang membentang merah, kekhawatiran Lisa yang seperti ini tidak terjadi pada Alvin saat ini.

Anak bungsunya itu hanya histeris tak ingin ditinggal sendiri kedua tangan yang biasanya memiliki tenaga ekstra untuk menyakiti dirinya sendiri, kini hanya memiliki respon yang lemah seluruh tubuhnya bergetar ketakutan dengan mata sayu yang berair menangis.

"Sakit"

"Sakit"

Lirihan Alvin tampa henti terus keluar dari mulut kering pucat itu hanya terdapat rona merah di kedua pipi karena suhu badan yang tinggi, Lisa dengan telaten mengusap pelan kening serta leher Alvin agar terasa lebih nyaman.

"Udah makannya Dav?" Tanya Lisa melihat anak tengahnya berjalan masuk kekamar Alvin dengan masih mengunyah makanan entah apa.

"udah, giliran Bunda sekarang makan" ucap Dava yang berdiri di hadapan Lisa yang duduk di kasur Alvin.

"Nanti kalau Alvin bangun, tawarin makan ya.."

"Heem"

Setelah menitip pesan pada Dava ia beridiri dari duduknya di pinggir kasur Alvin berjalan keluar kamar, menyisakan Raka yang masih setia mengusap sesekali memijat pergelangan tangan Alvin.

Setelah tahu sang Bunda keluar dari kamar dengan kasar jauh dari kata hati-hati takut Alvin bangun, tubuh yang lumayan besar itu langsung tertidur di kasur yang sama dengan Alvin membuat badan adiknya yang sedang sakit itu bergerak akibat pergerakan Dava yang tiba-tiba mata Raka menatapnya tajam.

"Apa!?"

Bukannya sadar dengan tingkah lakunya yang tak berperasaan itu malah menatap sewot pada Raka tampa rasa takut fokus kembali membuka handpone.

Plak

Tamparan kasih sayang pada kakinya yang hanya menggunakan celana pendek langsung muncul warna merah dikulit, terasa panas tercetak jelas telapak tangan besar Raka di kakinya menandakan seberapa besar tenaga dari tangan Raka.

"SAKIT BANGG!!" Teriak Dava mengaduh dengan tangan yang meraba bagian yang di tampar Raka terasa panas.

"Jangan berisik" ucap Raka kesal langsung mengambil bantal kecil dan melemparkannya pada wajah Dava yang massih mengaduh meringis kakinya yang sakit.

"Masih tidur juga engga ke ganggu tuh liat" ucapnya tak terima dengan tangan menunjuk kearah Alvin.

"Ya jangan kaya gitu, kalau badan lagi gaenak terus tiba-tiba ada orang yang grasak-grusuk kaya gitu makin pening tahu Dava"

ALvInTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang