Rumah terasa lebih dingin dari biasanya tawa hangat menyelimuti digantikan dingin yang menyusup menyelinap dengan hujan rintik-rintik serta kilat beberapa kali suara petir terdengar, kini rumah megah Lisa redup tanpa lampu yang biasanya menerangi setiap sudut rumah menjadi mati tanpa kehidupan.
Malik berdiri tegap bersiaga di depan ketiganya yang masih terduduk di ruangan kecil tempat persediaan makanan tubuh tegap itu tetap bersiaga akan kemungkinan yang terjadi selanjutnya tanpa memperdulikan tangannya yang tertembak mengeluarkan darah, sampai terdengar suara mesin mobil mendekat dan sorot lampu menyilaukan terlihat masuk kehalaman depan rumah sepertinya bantuan telah datang dengan cepat.
"Bantuan sudah datang" Ucap Malik.
Entah berapa banyak orang yang datang derap langkah terdengar nyaring keluar dari depan rumah menghampiri mereka, orang-orang berbadan tegap seperti Malik dengan baju hitam tertutup menggunakan rompi anti peluru serta senjata lengkap di tanganya.
Mereka menyebar kesetiap sudut rumah Lisa ada yang naik keatas tangga lantai dua, serta menjaga di setiap langkah yang terlewati oleh Zafar dan Lingga dengan wajah dingin berwibawa namun masih menyiratkan rasa khawatir berjalan tergesa mendekat.
"Apa semuanya baik-baik saja? Raka? Dava?" Ucap Zafar langsung terduduk di hadapan cucunya mengusap wajah keduanya lembut memastikan keadaannya.
"Opa Zaf" lirih Dava langsung memeluk tubuh sang Opa dengan erat.
"Ada Opa disini, semuanya aman tenanglah" ucapnya mengusap punggung Dava yang bergetar karena menangis, mencoba menenangkan cucu kesayangannya yang dilanda ketakutan mendalam.
"Malik apa yang terjadi?! Mengapa semuanya bisa seperti ini?!" Ucap Lingga tegas menatap tajam pada Malik yang menunduk.
"Alvin!! Dia di bawa mereka Lingga, mereka membawanya dariku hiks.. Tolong bawa dia kembali hiks.." Histeris Lisa wajahnya sudah kacau dengan air mata, tak ada lagi Lisa yang elegan serta kelembutan yang selalu ia suarakan hanya ada rasa putus asa dengan keadaan saat ini.
"Tenangkanlah dirimu Lisa" Ucap Lingga meskipun dirinya juga merasakan khawatir pada keponakannya.
Tim medis sekitar dua orang mendekat kearah Lisa memberikannya selimut untuk tubuhnya yang bergetar kedinginan, di boyong berjalan menuju mobil oleh dua orang perawat untuk menenangkannya serta ada sedikit luka goresan akibat pecahan kaca di area kaki dan tanggannya.
"Raka baik-baik saja? Ayo minum dulu" Tanya Lingga menatapnya membantunya minum karena kedua tangannya bergetar.
Raka pandangan kosong hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia baik-baik saja tanpa luka tapi mentalnya cukup terguncang ia syok berat dengan apa yang terjadi, Raka sedang makan bersama Dava malahan keduanya sedang terjadi adu mulut tanpa di sangka sang Bunda berteriak. Menjatuhkan nampan makanan yang akan ia bawa untuk Alvin dan segera berlari menarik Raka serta Dava ketika suara tembakan terdengar.
Namun, pada saat keadaan mereka sudah aman tapi mereka melupakan satu orang yaitu Alvin sedang sendirian di kamarnya beserta tembakan yang tanpa henti terus terdengar Malik juga tidak sempat menyelamatkan Alvin malah terkena tembakan.
"Ayo ke Mension Opa, disana kalian tinggal untuk sementara waktu sebelum semuanya baik-baik saja" Putus Zafar merangkul Dava berjalan keluar rumah menuju mobil.
Pandangannya kosong air mata terus keluar dari pelupuk matanya, ia terguncang atas yang terjadi saat ini. Dava berhenti berjalan saat di depan rumahnya, tubuhnya menegang tak bisa berjalan saat melihat banyak tergelatak pengawal dari Opa Zaf sudah terkapar tewas. Mereka semua sudah tewas mengenaskan karena tembakan fatal di kepala dan leher.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALvIn
Teen Fiction*KARYA INI DI BUAT UNTUK DI NIKMATI* *BUKAN UNTUK DI PLAGIASI* 2019 - Hari ini #1 hope 12.09.2021 #1 hope 09.02.2022 #1 ingin 01.11.2021 #1 Alvin 07.01.2022 #1 Hyunjin 10.02.2022 #1 Masalah 24.02.2022 # 3 alone 08.12.2024 # 4 sick 18.11.2024 # 1 al...
