Sebelum Reval tidak sadarkan diri. Di area semak-semak tengah hutan tidak jauh dari gudang terbengkalai dimana Alvin di sekap. Banyak bawahan Zafar telah berdiri bersiaga dengan senjata api di tangannya masih-masih.
"Bangun! Bangun! Bangun!"
Suara tegas itu menyambut kesadaran Reval, dengan kedua pipi terasa sedikit sakit akibat tamparan-tamparan kecil. Guncangan pada tubuhnya membuat Reval kembali sadar akan keadaannya yang langsung bersiaga melihat sekitar. Tubuhnya di tahan oleh orang yang membangunkannya, ketika ingin berteriak Reval baru sadar bahwa mulutnya tertutup lakban.
"Tuan muda Reval sudah sadar" ucap orang itu.
"Hhhmm! Hhhmm! Hhhmm!"
Tubuh Reval kembali berontak dengan tenaga yang tersisa, ingin melepaskan diri dari kedua tangan orang yang memegang tubuhnya untuk tetap tegak duduk menempel di kursi.
"Tenang tuan muda" Ucapnya kembali dengan suara tenang.
"Hhhmm! Hhhmm!"
Reval tidak bisa tenang ia tidak tahu sekarang berada di mana entah tempat aman atau tempat berbahaya. Sekitar sepuluh orang berdekatan menjaga disekitarnya. Mereka berbeda dengan bawahan dari Mamahnya, orang-orang ini terlalu rapih dan tenang bersiaga.
"Tuan zafar" ucap salah satunya.
Reval menegang dengan sambutan hormat itu. Apakah dirinya juga akan di eksekusi oleh keluarga papahnya, tentu saja nyawa di bayar nyawa bukan. Apakah ini akhir dari perjuangannya untuk menyelamatkan Alvin.
Zafar dia berjalan dengan tenang penuh ketegasan mendekat kearahnya, sorot mata itu tajam namun tidak menyakitkan. Ada rasa khawatir di sorot mata tua itu, Reval hanya diam dengan degub jantung semakin menggila. Saat tangan yang telah keriput itu mendekap membuka lakban di mulutnya pelan.
"Reval.. aku kake mu Zafar. Aku sudah menerima surat mu, aku juga sudah membacanya. Selama kau hidup didunia ini, aku tidak tahu bahwa kau benar-benar hadir diantara keluarga anak sulungku" jelasnya tenang.
"Aku kira, hidup mu jauh lebih baik dari pada Alvin. Ternyata kalian merasakan sakit yang sama"
Ucapan itu terasa tenang namun menusuk di hatinya, tetapi Reval tidak mengelak bukan. Dirinya hanyalah anak dari seorang jalang yang muncul di keluarga kecil papah nya. Ia tidak berani menyela ataupun berbicara sebelum diizinkan, Reval terlalu kotor dan hina dihadapan sang Kake.
"Kake mu ini sangat menghargai akan sebuah pengorbanan. Kau berani mendekat, walau tidak dianggap. Menyayanginya, walaupun tidak pernah merasakan kasih sayang. Melindunginya, padahal kau lebih butuh perlindungan.. meskipun tidak diakui sebagi seorang saudara"
Zafar tidak memberikan sebuah ucapan yang menyudutkan posisinya sebagai anak yang tidak diinginkan. Kake nya di hadapannya memberikan senyuman yang teduh padanya. Ketakutan Reval sedikit demi sedikit mencair.
"Aku tidak membenci mu nak"
Ucapan Zafar seperti penenang di antara badai. Hatinya menghangat disaat orang lain tidak menerimanya, dengan sorotan tajam berperilaku kasar. Disinilah Zafar hadir sebagai pengakuan atas kehadirannya.
"Aku tahu kau sangat menyayangi adik mu.. Alvin" ucapan itu membuat Reval kembali mendongak menatap kearah Zafar.
"Sebagai hadiah atas pengorbanan mu. Hak asuh mu akan berpindah ketangan Ayahmu Langga. Di akui sebagai bagian keluarga Bramasta"
Ada rasa tidak percaya, sedih dan bahagia bercampur menjadi satu. Antara pengakuan selama delapan belas tahun yang ia nantikan tercapai dan antara kesedihan akan nasib sang Mamah yang melahirkannya. Wajah Reval sedikit mengkerut heran, apa dia tidak salah mendengar ucapan sang kake ada yang mebuatnya menganjal.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALvIn
Fiksi Remaja*KARYA INI DI BUAT UNTUK DI NIKMATI* *BUKAN UNTUK DI PLAGIASI* 2019 - Hari ini #1 hope 12.09.2021 #1 hope 09.02.2022 #1 ingin 01.11.2021 #1 Alvin 07.01.2022 #1 Hyunjin 10.02.2022 #1 Masalah 24.02.2022 # 3 alone 08.12.2024 # 4 sick 18.11.2024 # 1 al...
