|49|

1.5K 94 3
                                        

Zafar yang melihat itu semua tersenyum miris ternyata Lingga pemikiran jauh lebih dewasa dari pada saudaranya Langga, ia sendiri cukup bangga dengan sikap Lingga ini memang yang lebih banyak merawat Alvin itu Lingga dari pada saudaranya sendiri yang lepas dari tanggung jawab karena emosinya yang menguasi seluruh pikirannya tanpa memperdulikan bahwa Alvin masih membutuhkan kasih sayang seorang Ayah.

Di saat Alvin mengejar perhatian dari ayah kandungnya Langga yang tak memperdulikan hanya melihatnya sebelah mata, disanalah Lingga mengisi kekosongan menjadi sosok pengganti seorang Ayah bagi Alvin apalagi keduanya sangat mirip.

Penampilan Lingga sudah berantakan kancing kemeja terbuka, lipatan baju ditangan kiri dan kanan berbeda. Rambut yang biasanya tertata rapih itu kini berantakan karena Alvin berontak saat bersamanya. Namun, kini menjadi lebih tenang didekapannya Lingga masih merasakan debaran kencang jantung Alvin dan nafas yang memburu tak beraturan.

Zafar mendekat kearah keduanya duduk didekat Alvin, Zafar menatap kaki itu yang kini mulus tanpa bekas siksaan seperti dulu. Tangan yang keriput itu mengusap kaki serta punggung yang rapuh, merasakan rasa bersalah yang sangat besar akan keadaan Alvin saat ini.

"Opa Zaf minta maaf Alvin"  ucap Zafar lirih, sudut matanya menitikkan air mata dengan tangan kiri ia usap menunduk.

Suara tangisan itu berhenti menikmati kenyamanan diberikan, kedua tanggannya masih bergetar didekapan Lingga. Alvin masih mencerna semua yang terjadi tadi pikirannya seperti lostcontrol. Ia mulai meringis rasa sakit kini terasa bermunculan akibat tadi memberontak, tangan kirinya yang di perban Alvin baru menyadari bahwa itu kembali terluka dan mengeluarkan darah terus-menerus dan itu mulai terasa sakit.

"Raka apa ada oksigen?" Ucap Lingga, karena merasakan nafas Alvin yang sesak akibat emosi Alvin terlalu meluap-luap.

"Ada, sebentar"

Raka dengan cekatan membawa tabung oksigen kecil yang simpan disebelah lemari segera mengatur saturasi oksigen dan menggunakannya, Alvin merasakan hawa dingin nan sejuk masuk membuat nafasnya sedikit tenang dengan tubuh yang rileks memejamkan mata.

"Nyaman?" Tanya Raka hanya dibalas anggukan.

Lisa segera membereskan badcover Alvin yang terkena darah, mendengar pernyataan Alvin tadi membuatnya bersedih kembali. Tentu saja ia pantas mendapatkan ini Alvin masih belum percaya sepenuhnya pada Lisa padahal dirinya adalah seorang ibu. Berkali-kali ia merasakan kegagalan menjadi seorang ibu bagi Alvin, ia segera keluar dari kamar untuk menyimpan badcover yang kotor.

Lingga membenarkan rambut yang sudah lepek karena berkeringat cukup banyak itu, tanganngannya menempel di kening Alvin benar saja suhu hangat mulai terasa. Lingga tak bisa bersikap lembut jujur saja dirinya kaku bila menghadapi Alvin yang seperti ini, ada rasa khawatir namun ia cukup dengan diam dan mengamati tanpa pergerakan.

"Ihh apaan tuh darah" ucap Dava.

Dava baru saja masuk kekamar Alvin bersama Dr. Rahman, kegaduhan tadi Dava hanya diam dibawah bukan tidak khawatir tapi Dava lebih sedih bila yang ia lihat adalah keadaan Alvin seperti ini. Dava lebih banyak menghindar dari pada harus menyaksikan.

"Sstt.."

Ringisan terdengar dari Alvin dengan tangan kiri bergetar, Lingga baru menyadari tangan yang berada didadanya itu kini terdapat darah yang lumayan banyak sampai menempel pada kemeja yang dipakainya.

"Ck, sakitkan!"

Lingga dengan nada kesalnya membuka perban ditangan kiri Alvin dengan kasar. Setelah perban seluruhnya dibuka terdapat luka cukup lumayan terbuka, darah keluar tak berhenti Raka mengambil tisu kering dan menumpukannya sebagai alas agar darah itu tak banyak mengalir pada kemeja Omnya.

ALvInTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang