Hari ini, ruang sidang Pengadilan Negeri tampak penuh sesak. Deretan kursi kayu diisi oleh keluarga korban, awak media, serta masyarakat yang ingin menyaksikan jalannya persidangan. Udara terasa berat, seolah setiap orang menahan napas menunggu keputusan majelis hakim.
Di kursi pesakitan, tiga bawahan Dian duduk dengan wajah tertunduk. Mereka adalah pelaksana kejahatan yang diperintahkan oleh Dian, otak dari seluruh peristiwa kelam, yang telah bunuh diri di tempat kejadian. Wajah mereka pucat, tangan terikat di borgol, dan tatapan kosong seakan menyadari bahwa hari ini akan menentukan sisa hidup mereka.
Di sisi lain, kursi saksi diisi oleh Lisa, Raka, Dava dan Langga. Keempat nya duduk dengan wajah tegang, mengingat kembali malam penculikan yang hampir merenggut nyawa mereka. Lisa sesekali menunduk, menahan air mata. Dava menggenggam tangannya erat, sementara Raka menatap lurus ke depan dengan mata berkaca-kaca.
Langga hadir mendampingi Dava, duduk di sampingnya dengan sikap tenang namun penuh kebanggaan. Di bangku pengunjung, Lingga dan Zafar menyaksikan dengan wajah serius, mata mereka tak lepas dari jalannya persidangan.
Kasus ini menyita perhatian publik apalagi menimpa keluarga Bramasta yang terpandang. Atas penculikan, penyiksaan, penyerangan terhadap keluarga Lisa, pemalsuan dokumen kematian atas Langga, hingga rencana pembunuhan berencana. Alvin dan Reval, korban paling parah, masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit dengan pemantauan ketat dokter.
Ketika pintu ruang sidang terbuka, majelis hakim memasuki ruangan dengan langkah mantap. Semua hadirin berdiri, lalu duduk kembali setelah palu diketukkan. Suara palu itu bergema, menandai dimulainya sidang putusan yang akan menentukan nasib para terdakwa sekaligus menjadi titik balik bagi para korban.
"Sidang perkara pidana dengan terdakwa atas nama Zack Smith, Benino dan Robian dinyatakan dibuka kembali. Setelah melalui pemeriksaan saksi, alat bukti, serta keterangan terdakwa, majelis hakim akan membacakan putusan." Hakim Ketua mengetuk palu.
"Yang Mulia, perbuatan para terdakwa telah menimbulkan penderitaan mendalam. Alvin dan Reval masih menjalani perawatan intensif akibat luka berat. Kami menuntut agar para terdakwa dijatuhi pidana penjara seumur hidup. Tuntutan ini demi tegaknya hukum dan rasa keadilan bagi para korban." Jaksa Penuntut Umum.
"Saudara saksi, apakah benar saudara mengalami sebagaimana yang tertuang dalam berkas perkara?" Hakim anggota I
Langga memberikan kesaksian tentang pemalsuan dokumen kematian yang dilakukan Dian, serta bagaimana dirinya hampir menjadi korban percobaan pembunuhan. Suaranya tegas menyuarakan keberanian.
Lisa menceritakan ancaman senjata api yang dialaminya bersama keluarga. Ia menahan air mata ketika mengingat bagaimana nyawa mereka nyaris melayang.
Raka menambahkan detail tentang malam pencobaan pembunuhan itu, bagaimana ketakutan menyelimuti rumah mereka dengan suara tembakan bertubi-tubi, dan bagaimana mereka berusaha bertahan.
Kini giliran Dava menyuarakan kesaksiannya mengulang memori yang menakutkan kembali diingat. Membuat tubuhnya meremang dingin, sebelum berbicara Dava menghela nafas berat.
"Benar, Yang Mulia. Saya bersama Reval melihat Alvin disekap, disiksa, dan hampir kehilangan nyawa. Semua dilakukan atas perintah almarhum ibu Dian, namun para terdakwa ini adalah pelaksana di lapangan." Ucap Dava dengan suara yang bergetar.
"Saudara saksi Dava, mohon ceritakan kepada majelis hakim mengenai peristiwa penculikan yang saudara Alvin alami." Hakim Anggota I
Dava dengan suara bergetar, menunduk sejenak sebelum berbicara. Tubuhnya menegang kaku, Langga yang duduk di sebelahnya melihat respon tubuh Dava m3ngulurkan tangannya mengusap punggung kaku itu menyalurkan kehangatan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALvIn
Teen Fiction*KARYA INI DI BUAT UNTUK DI NIKMATI* *BUKAN UNTUK DI PLAGIASI* 2019 - Hari ini #1 hope 12.09.2021 #1 hope 09.02.2022 #1 ingin 01.11.2021 #1 Alvin 07.01.2022 #1 Hyunjin 10.02.2022 #1 Masalah 24.02.2022 # 3 alone 08.12.2024 # 4 sick 18.11.2024 # 1 al...
