|64|

690 95 67
                                        

Setiap tarikan nafas pelannya di barengi dengan rasa menyakitkan di bagian tulang rusuknya membuat tubuh itu terus bergetar. Wajahnya kacau memar dimana-mana dengan keringat dingin terus keluar membasahi tubuhnya. Bercampur dengan warna merah darah yang telah mengering di pelipis maupun bagian tubuh lainnya menambah rasa perih.

Bergerak sedikit saja bagian tulang rusuk sebelah kirinya langsung terasa menyakitkan, ringisan lirih terdengar pelan dari mulutnya yang pucat serta sesak mendominasi. Mental dan fisik keduanya sama-sama memberikannya rasa sakit tiada henti.

Apalagi dengan kenyataan yang baru ia ketahui bahwa Reval adalah saudaranya mereka satu Ayah beda ibu, semua keluarga merahasiakan itu darinya tetapi Alvin memang tidak punya hak untuk tahu bukan.

Alvin hadir karena rasa sakit, egois dan kekecewaan. Disambut dengan kebahagiaan sebagai penyembuh dari rasa sakit kedua orang tuanya. Namun, tetap berujung dengan perpisahan yang menyakitkan.

Kini ia tak perlu bertanya-tanya mengapa sang Ayah sering memberikan luka pada tubuhnya. Mengapa sang Bunda selalu menghindar tak ingin bertemu dengannya. Mengapa Dava tak menyambutnya dengan baik saat ia kembali kerumah. Mengapa semua orang membencinya. Pertanyaan itu selalu muncul didalam pikirannya.

Alvin tahu jawaban dari rasa sakitnya, karena dirinya hadir bukan untuk menyembuhkan luka. Tetapi sebagai luka pengingat yang menyakitkan bagi kedua orang tuanya serta saudaranya.

"Hoek! uhhuk.."

Ia kembali memuntahkan cairan pekat berwarna merah yang tak tertahan. Perutnya kembali memberikan sinyal rasa sakit perih, panas, serta mual yang tak tertahan.

Alvin mengelengkan kepala mengumpulkan kesadarannya saat ini. Ia sudah tidak kuat dengan rasa sakit di tubuhnya, hanya berharap ia tidak sadarkan diri saja agar tidak merasakan rasa sakit ini.

Udara kembali terasa dingin menusuk tubuh lemahnya, ia tak tidur tetapi tidak sepenuhnya sadar juga. Entah sudah berapa hari dirinya berada disini tak di beri minum ataupun makan. 

Suara kunci gembok yang terdengar benggema nyaring di setiap sudut gudang, mengundang ketakutan didalam tubuh Alvin. Tubuh itu lemah tak bisa menghindar apalagi melawan. Orang itu orang yang sama menyiksanya dihari pertama ia disekap sampai saat ini, tak merasa iba maupun kasihan.

Sepatu fantopel yang mengkilap hitam itu terus menyiksanya tanpa ampun. Hanya suara tawa yang membuat sekujur tubuh Alvin merinding, apalagi dengan ekpresi wajah yang menatapnya hina. Alvin memejamkan mata karena rasa takut.

"Bangun tuan muda"

Byur

Tubuh lemah yang masih tergeletak di lantai dingin itu menegang, saat guyuran air dingin membasahi setengah badannya. Alvin membuka mata terperanjat kaget dengan rasa air yang dingin, mulutnya terbuka menghirup rakus oksigen.

Orang itu berjongkok di hadapan Alvin yang masih tertidur di lantai, dengan rahang yang kasar mencengkram dagu Alvin untuk menatapnya.

"Janganlah berharap untuk ingin hidup tuan muda, dunia terlalu kejam untuk orang yang lemah sepertimu" ucap orang itu.

Cengkraman di dagunya dilepas dengan kasar membuat kepala Alvin terbentur lantai secara langsung, ia memejamkan mata saat rasa pening melandanya.

Bugh

Bugh

Bugh

Suara benturan sepatu yang di layangkan pada bagian punggungnya, membuat nafasnya tersendat seketika menegang bergetar ketika akan menghirup oksigen.

Alvin meraung menangis memohon ampun dengan suara serak yang sudah lemah saat ini, hantaman menyakitkan terus di layangkan pada tubuh Alvin.

Telinganya berdenging terkadang jelas. Terdengar orang yang menyiksanya terus mengeluarkan kata-kata kasar yang menyakitkan padanya. Pandangannya memburam hanya menyisakan bayangan dari orang tersebut.

ALvInTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang