|61|

651 42 0
                                        

Sudah hampir tiga hari tubuhnya dapat di ajak kerjasama Alvin mulai bisa memasukan makanan meskipun hanya bubur lembut di sediakan Lisa di meja makan untuk makan bersama, setiap paginya Lisa menemaninya untuk sekedar berjalan-jalan sekitar pekarangan rumah untuk menghangat tubuhnya terkena cahaya matahari.

Alvin tubuhnya memang masih terasa lemas tetapi kini ia duduk di kursi terasa belakang rumah berhadapan dengan taman suasana yang tenang dengan udara pagi hari terasa menyegarkan, suara langkah kaki mendekat membuat Alvin menoleh kebelakang pada sumber suara itu ternyata sang Bunda yang menyambutnya dengan tersenyum.

"Ini handponenya, Bunda ke dapur dulu ngambil kue ya.."

"Iya Bunda"

Layar handpone itu kini menyala tangannya dengan lihai membuka aplikasi Whattshap membuka pesan. Namun, yang Alvin tunggu adalah pesan dari Reval sejak saat kejadian di sekolah mereka tak bertukar pesan ataupun adanya panggilan telpone.

Dengan sekali sentuhan ia memutuskan untuk menelpon Reval menanyakan kabarnya, mimpinya terlalu terasa nyata baginya ia tidak ingin benar-benar ditinggalkan dan merasakan kehilangan kembali. Rasa khawatir melingkupi dirinya telponenya tak aktif, tangannya dengan segera mengetik mengirimkan pesan sekedar menanyakan kabar. Namun, itu semua percuma Reval tak membalasnya seperti biasa.

"Jangan berharap, dia kalau masih punya muka harusnya minta maaf kesini bukannya ngilang gitu aja" Ucap Dava muncul di dekat pintu menyenderkan tubuhnya dengan kedua tangan disaku celana.

"Abang ketemu bang Reval enggak di sekolah?"

"Dia keluar dari sekolah"

"K-keluar?"

"Mana tahan dia diomongin satu sekolah, mentalnya terlalu payah buat ngehadapin semuanya sendiri. Enggak ada harga dirinya banget malah langsung keluar dari sekolah tanpa klarifikasi, sifatnya enggak berubah dari dulu terus aja ngehindar dari masalah. Dasar emang dia pengecut--....."

Sepertinya Dava kali ini keterlaluan dalam ucapan lisannya, tak terkontrol kembali tanpa memikirkan apa yang di ucapkannya dapat membuat orang lain sakit hati. Dilihat dari respon Alvin yang langsung berdiri dari duduknya, menatapnya tajam kearahnya dengan mata yang merah berkaca-kaca tangannya menggenggam erat handpone dengan bergetar.

"M-maksud gue--..."

Dava kelimpungan tubuhnya kini menegang melihat respon Alvin, ia segera mendekat kearah Alvin namun malah menghindar dan berjalan mundur satu langkah menatap Dava tajam.

"BANG DAVA ENGGAK TAHU APA-APA!!" Teriakan Alvin cukup kencang membuat Raka dan Lisa segera berlari menuju halaman belakang.

"Alvin"

panggil Raka membuat Dava menegang menatap Raka menyiratkan bahwa ia butuh bantuan, ia hanya bisa menghembuskan nafas pasrah terjadi lagi Dava tak bisa menjaga ucapannya.

"Ada apa ini Dava? Alvin kenapa?" Keduanya tak menjawab, Alvin yang segera meninggalkan halaman belakang dengan menunduk mengusap kasar air matanya.

"Maaf Bunda" ucap Dava menatap Lisa meringis saat sang bunda menjewer telinganya.

"Mulut kamu tuh dibuat dari apa sih Dava, kata Bunda jangan ngomong sembarangan. Tahu adiknya lagi sensitif apalagi ini ngomongin Reval aduhh.. Dava jangan buat bunda makin pusing" Tarikan ditelinga Dava semakin kencang saat Lisa terus mengomel.

"Bunnn sakit" Ringis Dava.

"Kamu itu dibilangin malah sengaja banget, omongannya yang keluar pedes semua enggak bisa di saring" Omel Lisa.

Raka meninggalkan sang Bunda yang mengomel Dava karena sifatnya yang asal ngomong tak berpikir terlebih dahulu apa yang diucapkan, ia menaiki tangga berjalan menuju kamar Alvin pintu kamarnya terbuka ia masuk kedalam.

ALvInTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang