|76|

362 70 3
                                        

Hari-hari panjang di ruang ICU akhirnya menunjukkan tanda perubahan. Setelah hampir tiga bulan bergantung pada ventilator, tubuh Alvin mulai memberi -kan sinyal kehidupan. Saturasi oksigen yang sebelumnya fluktuatif kini lebih stabil, tetapi belum cukup kuat untuk melepas ventilator.Tekanan darah terjaga, dan refleks neurologis perlahan kembali. 

Mata itu terbuka perlahan setelah menanti hampir dua bulan lebih berada dalam koma, Lisa duduk di dekat brangkarnya menggenggam tangan kiri Alvin memberikan afeksi secara hangat.

Alvin beberapa kali memejamkan matanya mengernyit keningnya, ia seperti lupa bagiamana cara bernafas setiap tarikan nafas yang di lakukan dadanya sakit. Bukan hanya karena adanya alat bantu nafas ventilator saja, sakit di tenggorokannya seperti menganjal tetapi dadanya juga menimbulkan rasa ngilu.

Lisa yang melihat itu berusaha untuk tenang melihat keadaan Alvin, kata Dokter fraktur rusuk kanan masih menimbulkan nyeri hebat. Sehingga analgesik intravena tetap diberikan.

"Alvin, ini Bunda sayang. Kamu dengar suara Bunda nak" Suara Lisa pelan lembut terdengar di telinganya, meskipun respon Alvin lambat untuk fokus ke sumber suara. Tetapi Alvin dapat langsung menatap kearahnya.

"Bungsu bunda hebat, bisa laluin rasa sakitnya. Makasih ya sayang udah mau bangun" ucapnya serak menahan tangis, dengan mengusap helaian rambut Alvin membuatnya terpejam dan kembali membuka mata.

Alvin merasakan setiap genggaman lembut yang dilakukan Lisa, ia kira nyawanya akan berakhir di gudang terbengkalai sana. Ditempat yang kotor tidak layak untuk menjadi tempat terakhirnya hidup.

Ia sangat takut bila tidak akan bertemu dengan Bundanya ataupun kedua abangnya sekedar untuk memberikan kata perpisahan. Matanya berembun berkaca-kaca satu tetes air mata keluar dari sudut matanya, tangan Lisa yang masih bergetar mengusap dengan ibu jarinya lembut.

"Jangan nangis.. Alvin enggak sendirian sekarang. Ada Bunda, Ayah sama Abang yang nunggu kamu bangun nak" Jelas Lisa menenangkan dengan tangan yang mengusap pipi Alvin.

"Maafin Bunda, sekarang Alvin aman disini" Pertahanan Lisa kembali runtuh ia menangis mengenggam tangan kiri Alvin dengan kedua tangannya, rasa takut akan kehilangan selama dua bulan itu menghantuinya setiap hari.

"Alvin.. ini Abang Raka"

Ucap Raka dengan suara bergetar matanya berkaca-kaca melihat adiknya telah sadar melewati masa komanya. Mata itu tidak langsung menatap kearah Raka. Respon Alvin masih lambat terfokus pada Lisa, tetapi ketika tangan Raka menggenggam tangannya mata itu menatapnya.

Terdengar suara gumaman tidak jelas pada saat Alvin menyadari Raka didekatnya, suara itu terhalang oleh ventilator yang masih di pasang beberapa kali berusaha bergumam dan kembali merasa sakit.

"Iya, ini Abang Raka. Makasih udah bertahan" ucap Raka menatap lembut memberikan senyum.

Kesadarannya memang belum seratus persen merespon masih lambat. Telinganya sesekali mendengar ketika dokter menanganinya ataupun Lisa yang selalu berada di sampingnya membuat Alvin merasa aman dan nyaman.

Sesekali bergantian dengan Raka yang selalu mengajaknya berbicara, terkadang suara Raka jelas ditelinganya. Tetapi kembali berdenging hampa, tidak bisa mendengar ia hanya bisa menatap Raka yang sedang berbicara padanya.

Kesadarannyapun timbul tenggelam penglihatannya memburam kurang jelas, butuh waktu yang lama untuk Alvin mengenal Lisa dan Raka yang mendekat kearah brangkar nya. Dari balik kaca ICU siluet samar tiga orang berdiri disana mengamatinya, ingin melihat lebih jelas tetapi terhalang oleh ventilator.

"Engghh.."

Lengguhan itu kembali terdengar dengan tarikan nafas yang dalam bahunya sedikit bergetar menahan sakit. Lisa ingin sekali mendekapnya memberikan kenyamanan, tetapi keadaan alvin masih tidak memungkin -kan alat-alat pembantu hidupnya masih terpasang. Tubuh itu sedang menyesuai -kan kembali untuk hidup.

ALvInTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang