Suasana rumah sakit pagi itu terasa tegang. Lampu neon di ruang gawat darurat memancarkan cahaya dingin, memantul di lantai putih yang licin. Bau antiseptik bercampur dengan aroma obat-obatan, menambah kesan dingin dan serius. Perawat lalu-lalang dengan langkah cepat, membawa tray berisi suntikan, infus, dan peralatan medis portable.
Hari ini telah tiba dimana Reval akan pergi bersama Zafar untuk melanjutkan pengobatannya di Singapore. Langga tidak bisa membantah apalagi dengan kondisi Reval yang semakin menurun setiap harinya. Ada rasa cemas tidak rela dengan kepergian Reval, tetapi ini demi kebaikan anaknya juga. Langga tidak boleh egois dengan keinginanya sendiri, sehingga bisa mengakibatkan Reval dalam keadaan yang kurang baik.
Reval terbaring di ranjang isolasi, tubuhnya lemah, wajah pucat dengan keringat dingin membasahi pelipis. Luka tembak di perutnya sudah dibalut, namun infeksi membuat kulit di sekitarnya tampak kemerahan. Monitor jantung di samping ranjang berbunyi ritmis, kadang melonjak ketika ia meracau. Dokter memberi instruksi tegas.
"Kami memberikan obat bius ringan, bukan untuk membuatnya tertidur penuh, melainkan agar ia tetap setengah sadar. Ini demi keamanan perjalanan, karena kondisi mentalnya rapuh. Jika dibiarkan sepenuhnya sadar, ia bisa meracau atau berontak." Dokter menjelaskan kepada Langga.
Jarum suntik menembus kulit tipis di lengan Reval, cairan obat perlahan masuk. Matanya setengah terbuka, pandangan kosong menatap langit-langit. Bibirnya bergerak, meracau nama Alvin, kadang berteriak lirih seolah dikejar bayangan. Perawat menepuk bahunya dengan lembut, mencoba menenangkan.
"Tenang, Nak... perjalananmu akan segera dimulai." Langga berdiri di sisi ranjang, menggenggam tangan anaknya erat. Ia menatap dokter dengan wajah penuh cemas.
"Apakah ini aman?" tanyanya.
"Ini langkah terbaik Pak Langga. Mentalnya rapuh, luka fisiknya terlambat ditangani. Kita harus memastikan ia tidak berbahaya bagi dirinya sendiri selama perjalanan."
Reval membuka mata perlahan, pandangan kosong menatap langit-langit. Bibirnya bergerak perawat menenangkan dengan sentuhan lembut di bahunya. Langga berdiri di sisi ranjang, menggenggam tangan anaknya yang dingin tidak menjauh.
Suasana kamar terasa tegang, namun penuh kehati-hatian. Dokter memastikan semua peralatan medis portable siap oksigen, monitor tekanan darah, dan obat penenang cadangan. Zafar sang kakek, duduk di kursi sudut ruangan wajahnya penuh doa dan kekhawatiran.
Ranjang dorong perlahan digerakkan keluar dari ruang isolasi. Suara roda berderit di lantai koridor, bergema di lorong panjang yang diterangi lampu neon. Langga berjalan di sisi kanan, menggenggam tangan Reval yang dingin. sementara Zafar mengikuti di belakang dengan langkah tertatih. Tongkatnya mengetuk lantai seirama dengan detak jantung yang terasa semakin berat.
Lorong itu terasa seperti jalan menuju takdir. Setiap langkah membawa mereka lebih dekat ke pintu keluar rumah sakit, di mana ambulans sudah menunggu dengan pintu terbuka.
"Reval, Papah di sini. Tenanglah, Nak," bisik Langga sambil menunduk. Reval membuka mata setengah, pandangan kosong, bibirnya bergetar.
"Papah" suaranya lirih, hampir tak terdengar. Langga menahan napas, lalu menjawab.
"Papah enggak akan pernah ninggalin kamu. Kita cuma berpindah tempat biar kamu sembuh." ucap Langga menenangkan.
Dava baru saja tiba di Rumah Sakit bersama Lingga, atensi keduanya tertuju pada brangkar yang di dorong oleh Langga dari jauh diikuti oleh Zafar kakenya ada di belakang.
"Dia mau di bawa kemana Om?" Tanya Dava mengerutkan kening heran.
"Singapore, bersama Opa Zaf. Kau ingin ikut?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ALvIn
أدب المراهقين*KARYA INI DI BUAT UNTUK DI NIKMATI* *BUKAN UNTUK DI PLAGIASI* 2019 - Hari ini #1 hope 12.09.2021 #1 hope 09.02.2022 #1 ingin 01.11.2021 #1 Alvin 07.01.2022 #1 Hyunjin 10.02.2022 #1 Masalah 24.02.2022 # 3 alone 08.12.2024 # 4 sick 18.11.2024 # 1 al...
