Sebelum baca, jangan lupa vote ya!🤟
Hujan telah mereda, tersisa kabut tebal yang memayungi jurang kokoh dengan bebatuan besar itu.
Pelangi mematung, matanya menerawang kosong, sayu, seakan jiwanya ikut terenggut ketika embun menjatuhkan dirinya kedalam jurang gelap dihadapannya.
Pelangi tidak bersuara, hanya air matanya yang mengalir deras, napasnya tercekat seolah paru-parunya di rekat kuat oleh benda tak kasat mata. disela-sela kebisuannya, hutan pun ikut bungkam.
Pepohonan tidak lagi bersuara, tidak juga berani menggerakkan rantingnya yang melayu karena hujan.
Tubuhnya melemah, arah pandangnya berbayang hingga akhirnya otaknya memilih menggerus kesadaran, alih alih meraung lebih kuat.
Disaat yang bersamaan, suara kecipak genangan air dan lumpur terdengar ramai. Dari balik pepohonan dan semak belukar, Ara dan yang lainnya muncul.
Mereka semua terluka, wajah, tangan dan seluruh tubuh mereka penuh dengan tanah, juga darah yang telah mengering.
Aluna berdiri lelah. Ara menatap pasrah ke langit gelap, di bahunya Larissa menyandarkan kepalanya dengan bibir membiru, tubuhnya melemah dengan darah yang lagi-lagi merembes kuat. Kain yang ia pakai untuk menyumbat luka, kini berubah lengket penuh dengan darah.
Disampingnya, Helene terpaku, menatap sekeliling dengan sedikit rasa lega.
Tungkai bawah nya terasa kebas, ngilu dan penuh dengan lebam biru.
"Apa kita selamat?" Bella menggumam lemah, tubuhnya meluruh, bersandar lelah ke pohon besar di sisinya.
Ara menggeleng, "belum... tapi ini lebih baik daripada di dalam sana."
"Pelangi dimana? Jangan-jangan dia masih didalam." Larissa berbicara dengan susah payah, matanya bertambah sayu, namun ia masih bertanya tentang keberadaan pelangi.
Para gadis itu terhenyak, hampir saja mereka lupa tentang satu sahabat mereka.
Kelima gadis itu lantas mengedarkan pandangannya, mencari jejak yang bisa membawa mereka bertemu dengan sahabatnya itu.
Aluna melangkahkan kakinya menembus semak belukar berduri hingga akhirnya tiba di bibir jurang, saat matanya mengedar lagi, ia akhirnya melihat pelangi yang masih terikat pada pohon besar, tepat di tepian jurang.
"GUYS!! PELANGI DISINI!!!" Teriak Aluna.
Helena berlari lebih dulu, disusul ara yang menggendong Larissa di punggung nya.
Saat mereka tiba, yang mereka lihat adalah pemandangan pelangi yang terikat dengan tubuh basah kuyup, luka dimana-mana dengan satu luka tembak menganga di lengannya.
Wajahnya putih, nyaris seperti mayat.
"Pelangi bangun!" Ara berteriak sembari menepuk pipi pelangi, tapi gadis itu tak bergeming sedikitpun.
"Buka dulu ikatannya!" Bella terseru cemas. Tangannya gemeter, berusaha sekuat mungkin membuka tambang besar yang digunakan Scarlett untuk mengikat pelangi.
"Susah, bel!" Keluh Ara, wajahnya setengah frustasi.
"Coba terus ra! Pelangi bisa mati kalau keikat terus. Gak ada ruang buat dia paru-parunya napas!" Aluna histeris.
"Tenang lun! Pelan-pelan! Kalau lo salah tarik, bukannya kebuka, simpulnya malah tambah erat!" Helene mengingatkan Aluna yang tergesa-gesa. Jangan sampai karena ketidak sabaran mereka, pelangi justru dalam bahaya.
"Bisa!" Aluna berseru, "ayo tarik talinya!"
Beberapa menit berusaha Akhirnya tambang yang melilit pelangi berhasil mereka buka, tubuh pelangi langsung terjatuh ke pelukan Ara, bekas tambang terlihat membiru di lengannya.
Tak ada tanda-tanda gadis itu akan terbangun.
"Ayo kita bawa pelangi!"
"Embun? Gimana sama dia?" Bella memutar tubuhnya, mencari keberadaan embun, tapi nihil. Tidak ada siapa-siapa di sini, selain pelangi yang terikat.
KAMU SEDANG MEMBACA
sibling's
Non-FictionJANGAN LUPA VOTE YA GUYS!!!❤️ Ini kisah pelangi yang indah disandingkan dengan Embun yang penuh dengan kesederhanaan. •Dua gadis, dengan dua karakter yang berbeda. •Kisah yang di bumbui dengan tragedi, serta teror misteri pembunuhan berantai. •sebua...
