/16/

1.3K 122 11
                                        

Beberapa minggu ini, Jesara Salvia sedang disibukkan dengan meeting dan kegiatan tidak penting dijadwalnya. Kepalanya sedikit mengantuk dan lagi pula, memang dia kekurangan tidur beberapa hari ini.

Meninggalnya Inggrita, membuat sahabatnya yang sinting Mikail Delano menyerahkan beberapa kekuasaan tidak merata pada anggota Phillos lainnya. Ditambah, Dias juga sepertinya sedang dalam keadaan tidak warasnya beberapa minggu ini.

Jesara dan Fabian serta Nuha bekerja cukup esktra untuk tetap menjalankan perusahaan mereka yang sudah berkembang pesat. Hanya saja, mereka belum bisa mengganti posisi Inge dalam perusahaan itu.

Sialan sepupunya karena membiarkan gadis kecil kesayangannya meninggal begitu saja. Sialan sepupunya yang lain karena tidak mau mengakui gadis itu sebagai istrinya. Sialan semua orang yang membuat rencana hidupnya berantakan.

Jesara masuk ke ruang kerja Julian setelah tidak mengetuk sama sekali pintu putih itu dan menemukan Julian sedang memeriksa pasien, "Bisa Anda keluar dan tinggalkan dokter Julian karena saya ada urusan dengan dia secara pribadi..."

Pasien Julian yang sudah berusia lanjut itu memandang marah Jesara, "Anda tidak punya tata krama?! Saya ini..."

"Maafkan adik saya, Pak Handoko. Adik saya memang tabiatnya agak sedikit kurang ajar"

Pak Handoko melongo dengan penjelasan Julian tapi kemudian keluar karena tidak ingin lama-lama berada di ruangan yang sama dengan Jesara.

"Jadi, kenapa?"

"Jul, gue sakit kayaknya..."

Julian memutar bola matanya dan bersandar pada kursinya, "Lo bisa sakit?"

"Bisa dong. Gue kan manusia..."

"Nope. You're cruella devile. Lo titisan setan yang sampe sekarang makin menjadi-jadi dan bikin Papa pusing sama kelakuan lo... So what?"

"Eugh. Thanks for remind me big bro. Periksa gue..."

Julian hanya mendengus setelah itu menyerah dan mendekati adiknya. Mengecek suhu tubuh Jesara, beralih mengecek denyut nadinya. Dan sedikit mengernyitkan keningnya. "Lumayan mendekati normal tingkat manusia. Lo bisa cek ke dokter lain..."

"Oh, apa gunanya gue punya saudara dokter kalo gue ke dokter lain..."

"Dokter kejiwaan bangsalnya deket sini, Yara. You can walk from here and ask stupid people out there for direction"

"Bangsat emang lo, ya? I'm out..."

Julian tertawa pelan dan menghentikan pergerakan Jesara dengan ucapannya yang agak serius, "Ke bangsal Ibu dan Anak, Jesara. You need it..."

"What? Are you out of your mind?" Jesara melangkah keluar dari ruangan kakaknya sebelum akhirnya dia membanting pintu di belakangnya bukan malah menutup dengan pelan sehingga beberapa suster serta pasien disekitarnya menatap marah Jesara

...

Hamil. Positif. Laki-laki brengsek mana yang menghamilinya? Pikiran itu terus berputar di otak Jesara tidak memedulikan bisik-bisik di dekatnya.

Jesara harus segera menyingkirkan anak dalam kandungannya ini karena toh dia tidak ingin Fabian mengetahui janin itu hidup dalam perutnya. Bisa-bisa laki-laki itu meninggalkannya.

Tidak ketika pernikahan mereka sudah dekat. Tidak ketika Jesara memesan gaun dari Monique Lhuillier dan menghabiskan hampir seratus ribu dollar untuk gaun pernikahannya.

"Selamat datang di rapat pemegang saham bulan ini..."

Ya, ya. Masa bodoh dengan rapat sialan yang membuat dirinya harus hadir karena Jesara memiliki investasi di perusahaan ini.

"Silahkan pak. Ada yang bapak ingin sampaikan..."

Sebuah suara menghentikan pikiran liarnya dan Jesara mengangkat kepalanya untuk melihat suara itu. Sekedar untuk menunjukkan rasa sopannya pada pemimpin perusahaan ini.

"Saya Marvellino Luson euh, yah Marvellino Lusson Delano. Saya akan memimpin perusahaan ini sampai kakak saya cukup sehat. Mohon kerja samanya..."

Dan pandangan laki-laki itu lurus mengunci Jesara. "Hell, no way"

Kiamat kecil untuk dunia Jesara. Apa? Dia adiknya Kay? Apa? Oh sialan. Aku lupa kalau aku tidur sama dia? Shit. Dia sepupu gue? God, what i've done?

"Ms. Jesara Anda terlihat pu..."

Sekertaris Jesara belum menyelesaikan ucapannya ketika perempuan itu akhirnya pingsan dan membuat ruangan sedikit heboh dengan pingsannya seorang Jesara Salvia.

FortuityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang