Cinta Yang Kembali 04

4.9K 193 14
                                    

"hahaha, Ngaco lo ki. ya enggak lah."

Ridho tertawa dengan renyahnya setelah berhasil menjawab pertanyaan rizki dengan lancar. 

Namun tawa dari ridho semakin membuat kecurigaan dalam diri rizki semakin besar. Ia tidak pernah melihat saudara nya ini tertawa hanya untuk hal kecil, yang bahkan menurut rizki tidaklah lucu sama sekali. 

"lagian ya ki, apa yang lo liat dari anak kecil itu?  Inget yah.! Lo gak boleh suka sama dia, karena dia gak selevel sama kita.!" peringat ridho dan kembali memasang wajah datarnya.

"dan juga, kalo papah tau. Lo tau kan apa yang akan dia lakuin ?" rizki kembali memikirkan semua ucapan ridho. 

Memang apa yang dikatakan oleh ridho adalah benar. Rizki tidak seharusnya menyukai putri, gadis itu adalah gadis yang seharusnya dijauhi oleh rizki karena ia hanyalah seorang pembantu.

Derajat keduanya sangat berbeda jauh, apalagi jika sang ayah tau tentang hal ini. Rizki yakin, ayahnya itu akan menghancurkan hidup putri seperti pria itu juga pernah menghancurkan hidup alesia, mantan kekasih ridho. 

"jadi lebih baik lo kubur perasaan lo dalam-dalam ke dia ki, jangan sampai ada alesia yang lain lagi." lirih ridho mengalihkan tatapan nya dari rizki yang saat ini sudah menatapnya dengan tatapan iba.

Dan ridho sangat benci jika ada orang yang menatap dirinya dengan tatapan iba. Ia benci untuk di kasihani. 

"lo gak perlu natap gw seperti itu. Gw bukan orang lemah yang perlu lo kasihani." peringat ridho tegas. Ridho mengalihkan tatapannya keluar jendela dan berusaha menyembunyikan rasa sakit yang kembali menyerangnya.

Rizki menghembuskan nafasnya dan memilih diam karena ia tau perasaan ridho kembali tersakiti. Sama saat seperti lima tahun lalu. 

Setibanya dirumah, rizki hanya menurunkan ridho saja. Ia tidak ikut masuk kerumah karena ia sudah memiliki janji dengan salah seorang temannya.

"lo hati-hati, dan jangan pulang malem." pesan ridho melalui jendela mobil yang masih terbuka.

Rizki hanya mengangkat ibu jarinya sebagai tanda serta tersenyum pada saudaranya itu.

Ridho memasuki rumah yang terlihat sepi, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah minimalis itu dan tidak menemukan kehadiran putri dimanapun. 

Ia melangkahkan kakinya menuju kolam renang, dan benar saja putri rupanya tengah membersihkan kolam renang dari dedaunan yang jatuh.

Merasa ada yang menggeserkan kaca penghubung membuat putri menghentikan pekerjaannya dan mendongkakkan kepalanya.

"eh den ridho sudah pulang." sapa putri seperti biasanya. Ramah dan juga ceria. 

"den ridho mau makan ? Atau mau putri buatkan minuman ?" tanya putri. Ia langsung mengatupkan kedua bibirnya, dilihatnya langkah ridho yang mulai mendekat ke arahnya. 

Mata putri seketika membulat saat merasakan sebuah dekapan hangat dari majikan nya ini.

"den ri-ridho." lirih putri terbata-bata.

Ia merasakan pelukan ridho semakin mengencang pada tubuhnya, bahkan putri mulai merasa sesak karena pelukan ridho yang sangat erat.

"biarkan seperti ini." bisik ridho tanpa berniat melepaskan pelukannya. 
Justeru pria itu lebih berani saat menenggelamkan kepalanya di ceruk leher putri. 

"den ridho kenapa ? Sakit?" tanya putri berusaha mengatur detak jantungnya yang terasa berpacu dengan sangat kencang. 

Putri bisa merasakan gelengan kepala dari ridho. Ia tau bahwa saat ini ridho pasti tengah memiliki pikiran yang cukup berat hingga pria itu butuh sandaran untuk dirinya. 

Putri membiarkan saja ridho yang masih betah memeluknya, walau sebenarnya bahu putri mulai terasa sakit karena terlalu lama dipeluk oleh ridho.

"den idho, kalau mau cerita putri siap dengerin kok." kembali putri bersuara dan mencoba mencari tau alasan dari keanehan sikap majikannya ini.

Ridho yang tersadar seketika melepaskan pelukan putri. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi santai yang ia sediakan di pinggir kolam renangnya.

"put, akumau tanya sesuatu boleh ?" tanya ridho yang terdengar lebih lembut daripada biasanya.

"bo-boleh den." jawab putri ragu-ragu.
Sejenak ridho menatap ke arah air kolam renang yang terasa sangat tenang dan jernih.  Bahkan ridho seakan terhipnotis dengan ketenangan air berwarna biru itu. 

"menurut kamu rizki itu seperti apa ?" pertanyaan ridho membuat kening putri mengkerut seketika.

Ia mencoba memikirkan kemana arah pembicaraan ini, namun sepertinya putri sama sekali belum mengerti. 

"den rikzi ?" tanya putri balik. 

Ridho menepuk tempat kosong yang ada disisinya pertanda menyuruh putri untuk duduk. "duduk." perintah ridho kembali dengan nada tegasnya.

Walau sempat ragu, tapi saat melihat wajah tegas ridho membuat putri mau tak mau menuruti nya.

"jadi gimana?" tanya ridho lagi. Ia menatap putri yang sudah duduk di sisinya dengan kaku.

"gi-gimana ya den ? Haduhh ini mau ngobrolin apa sih kita den ?" putri yang merasa bingung harus menjawab apa akhirnya mengalihkan pertanyaan ridho dengan balik bertanya.

Ridho begitu gemas melihat sikap polos yang begitu natural yang di tunjukkan oleh putri. 

Pria itu memberanikan diri untuk meraih tangan putri ke dalam genggamannya.

"jadi ? Bagaimana rizki itu ?" ridho yang merasa tak puas dengan jawaban putri kembali menanyakan pertanyaan yang sama. 
Putri terdiam sejenak, dan mencoba memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan ridho.

"den rizki itu orangnya baik banget, dia murah senyum lagi dan yang membuat putri seneng sama den rizki itu adalah dia selalu ada disaat putri lagi sedih." wajah putri terlihat membayangkan bagaimana rizki yang memang selama ini ada untuk nya.  Bahkan rizki sudah menjadi temen curhat bagi putri, dan teman berbagi semua yang dirasakan olehnya. 

Ridho mengepalkan tangannya, ia merasa tak senang ketika melihat bagaima wajah putri yang menampakan kekagumannya pada rizki.

"lalu bagaimana dengan aku ?"

Putri menutup bibirnya dengan rapat saat mendapatkan pertanyaan dari ridho. Ia terlihat gelisah dalam duduknya,  bahkan putri terlihat memainkan jari-jarinya yang diletakkan diatas pahanya.

"put." panggil ridho mengatur nada nya agar tidak sedingin biasanya.

"buat putri, den idho itu." lagi, putri menutup bibirnya.  Ia berusaha mengatakan apa yang memang ada di dalam hatinya tapi ternyata semua tidak semuda yang putri bayangkan.

"buat putri den idho baik, ya walaupun terkadang den idho suka bersikap dingin sama putri. Apalagi kalo putri masaknya gak enak, den idho pasti marah-marah terus." protes putri jujur. Ia diam-diam melirik ridho dari sudut matanya, dan dapat putri lihat bahwa pria disampingnya itu tengah merajuk.

"tapi, di sisi lain dari semua itu putri sebenernya.." putri terlihat gugup. Bahkan gadis cantik itu terlihat menggit bibir bawahnya. 

"sebenernya ?" tanya ridho yang begitu penasaran dengan kelanjutan ucapan dari putri. 

"sebenernya putri.."

"ridho, rizki..!"

Teriakan dari ruang tamu membuat putri berdiri dari tempatnya dan memainkan jari-jarinya. Kegiatan yang akan dilakukan putri jika ia tengah gugup.

"papah." pekik ridho yang sudah sangat pamiliar dengan suara berat itu.

"kamu lanjutin aja ya." perintah ridho. Pemuda itu meninggalkan putri di kolam renang seorang diri.

Ridho berdiri tegap di hadapan sang ayah yang sudah duduk di ruang keluarga begitu saja.

Kedua pria berbeda usia itu terlihat saling pandang. Namun bukan tatapan kerinduan yang terpancar dimata keduanya, justeru sangat jelas terlihat tatapan tajam ridho yang di tujukan pada sang ayah.

"mau apa papah kemari ?" tanya ridho tanpa menghilangkan tatapan tajamnya pada sang ayah.

To Be Continued

Cinta Yang Kembali [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang