Setidaknya sudah satu bulan Macica ogah-ogahan masuk sekolah. Materi yang dibawakan selalu itu-itu saja. Pelajaran ditanamkan sedikit demi sedikit ke kepala para murid sampai akhirnya berhasil mengakar kuat. Jikalau ada salah satu murid yang terlalu rewel bertanya 'kenapa' dan 'bagaimana', maka guru-guru bertindak halus dengan mengatasnamakan Tuhan. Misalnya: "kenapa Pohon Azera itu ada?" Si guru menjawab, "Pohon Azera itu ada berkat Tuhan."
Gambaran sederhananya seperti itu, kalau lebih telatennya lagi sejak umur satu tahun mereka sudah diceritakan banyak kisah tentang sejarah Azera. Saat bayi-bayi ini mulai tumbuh dan belajar, orang dewasa suka menasehati agar jangan banyak mengeluh, kurangi kebiasaan protes, dan belajar rajin di sekolah. Kelak dewasa nanti anak-anak ini akan menjadi manusia dogmatis.
Orang yang menyia-nyiakan sekolah sama saja hidup dalam kegelapan. Tapi bagi Macica yang tumbuh dan berkembang di lingkungan berbeda merasa sekolah adalah biang kegelapan. Selagi sekolahnya masih menganut sistem konservatif, Macica tak keberatan bila dia mendapat peringkat terbawah lagi nantinya. Bila ditotal ada kurang lebih satu tahun masa sekolah disia-siakan. Alasan utama karena dia tak terima dengan segala materi yang diberikan.
Sungguh demi apa pun tindakan Macica tergolong nekat, aksi kenekatannya sendiri berujung fatal. Kini Macica sungguh ingin merutuki dirinya sendiri karena syarat kelulusan sekolah tingkat akhir ialah minimal berhasil dalam dua tes dari tiga tes yang diberikan yaitu: memanjat, bergelantung, dan berenang. Sederhana memang, ujian kelulusan dipermudah untuk tahun ini tapi mari kita lihat sesederhana apa bagi Macica.
Untuk tes berenang dia sudah kalap, gerakannya seperti seseorang yang tengah berusaha menyelamatkan diri dari dalam air. Dalam kurun waktu lima detik di kubangan air, Macica menjerit memanggil nama Jean tanpa peduli teman sekelasnya tertawa melihat aksi Macica. Jean sendiri berupaya menahan diri untuk tidak menunjukkan kesedihan akibat gunjingan yang mengarah langsung pada Macica.
Macica Yalkhi gagal dalam praktek berenang.
Gagalnya dia di tes pertama tak membuat Macica kalut karena peraturan kelulusan ialah minimal lulus dalam dua tes. Untuk tes memanjat Macica bisa bernafas dengan lega karena dia memperoleh nilai rata-rata. Setidaknya aku lulus dalam tes memanjat batin Macica.
Namun Macica kini kembali dihadapkan pada bayangan 'gagal lulus sekolah' karena pandangannya tertuju pada sejumlah akar. Itu adalah tes bergelantung. Layaknya pohon beringin, Azera memiliki sulur-sulur yang menempel di tiap dahan—berdampingan dengan katrol-katrol. Kadang-kadang orang bergelantung dari akar satu ke akar lainnya jika tangga lilit tak bisa diakses. Penggunaan akar-akar ini hanya digunakan sebagai akses jalan alternatif saja, semisal ada orang Azera yang tidak mampu bergelantung pun tidak masalah (entah apa yang dipikirkan pembuat peraturan sekolah dengan memasukkan praktek bergelantung sebagai syarat kelulusan).
Macica waswas karena sebentar lagi gilirannya praktik. Memang benar minimal dia lulus dalam dua tes, kendalanya adalah Macica hanya bisa memanjat namun tidak untuk berenang dan bergelantung. Andai Macica memiliki kekuatan yang tersimpan di dalam dirinya, dia tak perlu memikirkan hal semacam ini.
Oke Macica, kau pasti bisa! Macica memotivasi diri. Ditatap fokus akar gantung yang mengayun pelan. Gestur tubuh memberi isyarat bahwa Macica siap untuk melompat menggapai akar. Namun mau bagaimanapun siapnya tubuh Macica, pandangannya selalu curi-curi pandang menatap ke bawah, alhasil dia sedikit gentar.
Satu ... dua ... tiga!
Digapainya akar dengan momentum yang pas dan didukung oleh genggaman erat Macica. Gadis bersurai hitam itu berhasil bergelantung, ini membuatnya terisi oleh beberapa biji kepercayaan diri.
Diayunkan tubuh Macica ke belakang untuk mendapat ayunan kuat ke depan. Saat dirasa momentum sudah pas, Macica dengan cepat meraih akar nomor dua.
"Cukup sampai akar ke tujuh maka aku akan lulus dari semua siksaan ini," gumam Macica sedikit bergetar—tubuhnya mulai kelelahan bergelantung di akar nomor empat.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNDER WATER
Fantasi[Pemenang Wattys 2021 Kategori Fantasi dan Dunia Paling Atraktif] Ketika dunia telah lenyap bersama sejarah jauh tertimbun berselimutkan perairan tanpa ujung, maka pohon Azera memberi secerca harapan untuk bertahan. Manusia yang tersisa mulai memban...
