39. Ketua Masih Punya Hati

1.7K 460 46
                                        

Sudah cukup Yegi bermain air bersama Jean, sudah cukup Yegi menelan kobokan dan menghamburkan air bergantian, sudah cukup Yegi terombang-ambing di goyangan air dan meronta-ronta sambil terantuk batuan besar. Sudah cukup! Ia tak ingin diobok-obok lagi barang lima detik.

Laut tempat tinggalnya—dulu—tidak pernah bergerak liar apalagi mengobok-obok penghuni Zavilash. Tidak pernah sekalipun. Sekarang dengan arloji ajaib di pergelangan tangannya, ia harus menghentikan laju air bah sebelum menyeratnya—juga lainnya—ke tebing di belakang mereka, lalu terjun bebas dan mati sia-sia.

Yegi berhenti sejenak; menjulurkan tangan kanannya ke depan; berkonsentrasi menatap lawannya (air bah) setinggi lima kali tingginya. "Aktifkan ..." Arloji di pergelangan tangan Yegi menyala kebiruan, membuat spiral biru muda. "Mode ofensif!" Seketika tameng biru pudar pasang badan di depan tuannya, berpijar kebiruan hangat, berputar 360 derajat sesuai keinginan pemiliknya—yang banyak gaya, suara desing antar logam terdengar setelahnya, lalu lima buah misil tertanam di sekitaran tameng terlontar, menukik tajam—telak mengenai sasaran.

Jika air itu—setidaknya—bernyawa, ia sudah terluka pada saat itu juga; meraung gila karena terkena ledakan akibat ulah seorang bocah banyak gaya. Seharusnya begitu, menurut Yegi, apa mau dikata yang namanya air bah tetaplah air bah. Digempur sejuta misil miliknya pun tidak akan berpengaruh. Di sini Yegi telah menyia-nyiakan waktu untuk menyelamatkan diri hanya untuk bergaya.

"Hei Pintar! Kenapa kau masih diam saja?! Ayo lari!" Pada akhirnya Jean—lagi-lagi—harus turun tangan, menyelamatkan Yegi yang memaku diri. Sebenarnya kakaknya Yegi itu Jean atau Ruvallo? Sedikit jauh di depannya, Ruvallo bahkan tak repot-repot melirik keadaan mereka berdua, terutama adiknya.

"Sebentar lagi kita terkena air bah!" kata Jean.

"Jangan Kak Jean! Aku tidak mau dibuat mainan oleh air-air itu lagi!"

Jean melompati bebatuan, setelah itu melihat air bah yang terus bergulung cepat hendak melindas mereka berempat. "Aku tahu ..." Jeda sejenak. "Tapi kita tidak akan sempat!"

Mereka tak lebih dari tim kutu yang baru saja mencapai setengah langkah kaki manusia biasa, sementara itu air bah semakin dekat.

"Cari batu kokoh untuk bertahan!" pinta Ruvallo.

Mau tak mau, suka tak suka, mereka mencari batu sebagai pegangan sebelum menghadapi skenario terburuk (sekaligus mengasah cengkraman tangan mereka).

"Hah ..." Yegi menghela napas kasar, tubuhnya telah memeluk mesra batuan besar, bibirnya bahkan sudah mencium batuan itu sebelumnya. "Aku tidak menyangka akan bermain air lagi!"

"Aku juga!" Surai legam Macica berkibar-kibar ke belakang, sementara mata daunnya lamat menatap air. Ia semakin kuat mencengkeram batuan.

"Aktifkan mode defensif!" Seketika tameng kebiruan melingkupi tubuh mereka masing-masing, membentuk kubah kecil sebagai tameng pelindung.

Byur!

Air datang menghantam para penghuni dadakan yang masih terlindungi oleh tameng di sana. Tanpa pilih kasih ia mulai menggilas batuan kerikil untuk dibawanya terjun ke tebing jauh di belakang sekaligus ingin membawa remaja-remaja itu. Namun—seperti dugaan orang luar kubah—mereka tangguh dan sulit dihancurkan, seperti bintang laut mereka menempel erat pada batuan pun dengan sengaja mengaktifkan tameng demi mengurangi gempuran air, setidaknya mereka kering untuk sementara berkat perlindungan dari tameng.

Tetapi inilah prediksi kedua orang kubah: semakin kuat tekanan yang diciptakan air bah, semakin besar peluang retaknya tameng transparan itu. Memang benar tameng itu didesain sekuat mungkin untuk menahan serangan musuh (dalam artian para mutan), tetapi skenario menahan tekanan air mengalir tidak masuk ke dalam fungsi dari arloji.

UNDER WATERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang