10. Sedikit Penjelasan

4.3K 1K 29
                                        

Setelah berbasa-basi menyapa lantas kakek yang bernama Ivan itu mempersilahkan Macica duduk tepat berhadapan dengannya dan Ruvallo di samping beliau.

Situasi yang tak mengenakkan, kakek Ivan masih menatap Macica dengan  menautkan kelima jemari kiri dan kanannya di atas meja. Jenggot putih panjangnya terbelah jadi dua melayang ke atas membingkai wajah kakek itu membuat kewibawaannya sedikit terganggu di mata Macica.

Tak lama kecanggungan pecah berganti gelak tawa menggelegar dari kakek Ivan di depan Macica. Kewibawaan kakek itu berkurang lagi menurut Macica karena keanehannya menertawakan sesuatu hal yang tidak jelas.

Kakek Ivan berdehem dan menegakkan tulang punggungnya "Bagaimana menurutmu suasana Zavilash Nak Macica?" Kali ini beliau menyadar pada kursi karena punggungnya tak kuat menopang.

"Lebih ramai dari negeriku Tuan Ivan," sahut Macica

"Panggil aku Kakek Ivan saja"

"Eh? Umm ... baiklah Kakek ... Ivan"

Pertanyaan Macica yang ingin sekali dilontarkan hanya mampu bertahan di tenggorokannya. Bibirnya tertahan untuk mengucapkan sepatah kata lalu kembali mengulum bibirnya seperti yang sudah-sudah.

Poin yang Macica kurangi mengenai kakek Ivan tak membuat kewibawaan beliau berkurang drastis sebegitu cepatnya. Macica saja masih enggan sekedar bertanya alasan ia dibawa kemari secara 'kebetulan' oleh Ruvallo. Hal itu terlalu aneh.

"Aku menyuruh Ruvallo untuk memberitahukan keadaanmu di Azera hingga kau kemari," ujar Kakek Ivan memecah heningnya keadaan. "Aku hanya ingin mengumpulkan kalian untuk melakukan misi."

"A ... apa?" Macica mengerutkan keningnya menandakan ia tak paham.

"Aku tidak lagi muda untuk berjelajah. Maka kuutus kalian untuk melanjutkan"

Macica semakin tidak mengerti. Pasalnya ia dibawa kemari dengan alasan untuk melakukan misi. Tapi mengapa dari sekian banyak orang malah Macica yang diikutsertakan?

Menyadari kebingungan Macica, Kakek Ivan menegur Ruvallo yang hanya menopang dagu di atas meja dengan malasnya. "Hei Ruvallo! Apa kau tidak menjelaskan Nak Macica soal ini di perjalanan?!"

Ruvallo menegakkan badannya lalu menyandarkan diri pada kursi "Itu merepotkan Kek."

"Kau ini!" Lantas Kakek Ivan menjitak belakang kepala Ruvallo membuatnya mengaduh pelan.

Kakek Ivan memalingkan wajahnya dari Ruvallo pada Macica, "Aku mengutusmu karena kau salah seorang yang tidak terpengaruh dari kehidupan Azera."

"Bagaimana bisa kakek tahu?" tanya Macica keheranan

"Dari seseorang sebelummu," ujar Kakek memandangi meja tanpa berkedip. Tatapannya menerawang seperti menggali kembali ingatannya. "Seseorang yang sama-sama tidak terpengaruh denganmu."

Jujur Macica katakan dia tidak paham apa yang dikatakan oleh kakek Ivan. Dia hanya diam mendengarkan, memilih membiarkan sejumlah pertanyaan berjalan dan tertahan di ujung bibir.

"Kakekmu tidak terpengaruh dari segalanya tentang Azera, atau mungkin tentang ini semua," lanjut Kakek sambil menutup kedua matanya.

"Kakekku?"

Kakek Ivan hanya menimpali pertanyaanku dengan senyuman hangatnya, matanya memandangkan manik hijau Macica dengan keramahan. "Mungkin untuk selanjutkan pertanyaanmu akan dijawab secara berangsur oleh Ruvallo. Pemuda ini akan melaksanakan tugas yang tertunda."

Ruvallo menatap Kakek Ivan dengan malas, ia lebih memilih menutup mata seolah-olah ia tidur atau hanya karena ingin saja, Ruvallo masih setia untuk tidak menanggapi obrolan basa-basi ini meski namanya telah disinggung.

UNDER WATERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang