43. Menanti yang Sudah Pasti

1.6K 476 64
                                        

Angin bertiup kencang menerpa masing-masing tubuh dari mereka yang mulai melemah di setiap langkah. Seolah mengerti, salju pun ikut berhamburan menyerang ke segala sisi, sekilas terlihat tidak berbahaya namun itu lebih dari cukup membuat mereka berempat mati perlahan-lahan dengan cara yang menyakitkan.

Yegi mengusap wajahnya yang kebas akibat terpaan tanpa banyak omelan, kali ini ia hanya memilih diam untuk menghemat tenaganya alih-alih menggerutu seperti biasa. Sedangkan Macica menanti keadaan Jean yang semakin melemah di punggung Ruvallo, sesekali ia mengusap halus dinginnya pipi Jean yang terhalang masker atau melingkupi salah satu tangannya yang lunglai dengan kehangatan di kedua tangan Macica. Gadis itu melakukan hal itu demi menghibur dirinya juga menghapus jauh-jauh pikiran buruk yang mungkin akan terjadi pada Jean l ke depannya.

"Hampir ...," lirih Ruvallo terengah-engah.

Macica dan Yegi menelengkan wajahnya-bertanya-tanya.

"Hampir sampai." Sejenak Ruvallo menaikkan Jean yang melorot di punggungnya. "Kita hampir sampai .... Di balik perbukitan ini ... sekitar lima ratus meter lagi kita akan menjumpai padang, hutan-hutan, dan perbukitan."

"Benarkah, Kak Ruvallo?!" Yegi menjulurkan lehernya di dekat wajah Ruvallo. "K-kita akan se-selamat! Kita a-akan selamat, Kak Maci, Kak Jean."

"Jean, kau ... dengar itu? Kita akan ... selamat." Sepasang mata hijau Macica berbinar-binar menatap mata Jean yang meredup dari waktu ke waktu. Lagi-lagi Macica mengusap lembut tangan Jean yang menjuntai di dekatnya sambil memasang senyuman lembut untuknya.

Sementara tangan di sisi lain Jean membuka bebatan kain yang menutupi sebagian wajahnya. Tampak sekali wajah Jean layu dan kebas ditandai dengan bibirnya memucat dan bergetar, namun Jean menampilkan cengiran demi membalas senyuman Macica. "Aku baik-baik saja, Macica," lirih Jean terkalahkan oleh angin yang menderu, namun Macica dapat mendengarnya dengan sangat baik. Namun untuk selanjutnya hanya mimik bibir Jean yang bergerak tanpa suara. "Kau tak perlu ... khawatir" begitu mimik bibir berkata tanpa kata.

Seharusnya Macica tak perlu khawatir lagi setelah melihat cengiran bahagia Jean, tapi hal itu tak dapat diwujudkan karena satu detik kemudian ia membeliakkan mata. Lalu dalam gerakan cepat Jean menarik tangannya dari genggaman Macica untuk segera menutup mulutnya. Belum sempat Macica bertanya, tiba-tiba rembesan cairan merah pekat keluar dari celah-celah jemari Jean-mengotori sarung tangannya dan mewarnai salju di bawahnya akibat tetesannya.

Sontak Macica dan Yegi menatap horor sementara Ruvallo menggertakkan gigi. Ruvallo berharap ia bisa terbang untuk membawa Jean dan dua kawan lainnya menjauhi bukit laknat ini segera.

"Oh tidak!"

Agak memaksa Macica berusaha menjauhkan kokohnya telapak tangan yang menutupi mulut Jean, saat Macica memohon barulah Jean mau mengendurkan pertahanan. Terpampang nyata wajah Jean semakin memucat: matanya tampak seperti orang yang mengantuk berat, mulut dan hidung terciprat oleh darahnya sendiri, kembang-kempis cuping hidung Jean mengais udara. Bibir Jean memang tak lagi memucat sebab telah sepenuhnya telah dilumuri merahnya darah yang kini sisa-sisanya berkumpul di dagu Jean untuk selanjutnya menetes--menodai salju dan bahu seragam Ruvallo.

"Racun ... sejak kapan Kak Jean ...." Sontak Yegi menempelkan tangan pada keningnya sendiri yang terlihat seperti hendak meremukkan tempurung kepalanya demi mengingat kejadian-kejadian sebelum ini. Lantas Yegi melirik lengan Kak Jean yang terbebat kain. "Tidak mungkin ... karena luka itu, bukan?"

Ruvallo sedikit menambahkan. "Mereka melumuri racun pada senjata-senjata itu ... lalu Jean yang sial mengenainya." Jeda sejenak. "Tapi kenapa hanya Jean saja ... yang kena?"

Macica mengabaikan diskusi dua orang di dekatnya, dengan kain seadanya Macica mengusap sisa-sisa darah yang menempel di wajah Jean sambil menahan isakan. "Jean," panggil Macica pada saudaranya yang semakin melemah. "Bertahanlah ...."

UNDER WATERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang