Tidak ada hujan tapi awan kelabu masih berjingkat di atas kepala. Hutan terdiam, mengungkung kesedihan di balik kedinginan.
"Apa batu ini cukup dijadikan sebagai penanda?" tanya Macica sembari mengusap batu lonjong setinggi tiga jengkal.
"Aku sudah mengukir nama Hebize di sana," ucap Ruvallo. "Aku berani bertaruh nama Hebize tidak akan terhapus oleh apapun."
Macica mengeluarkan setangkai bunga kuning. "Tadi aku sedikit berkeliling mencari bunga di antara hancurnya hutan ini, dan aku mendapat bunga berwarna kuning ini. Aku tidak tahu apa namanya tapi bunga ini mengingatkanku padamu, Hebize." Macica mengusap pelan mahkota bunga tersebut. "Aku tahu warna kuning sama sekali tidak mirip dengan warna pirang rambutmu, Hebize. Tapi ini tetap tampak cantik." Macica menyematkan bunga itu di kaki nisan Hebize.
Tangan Ruvallo menyentuh pundak Macica, itu adalah sebuah isyarat agar ia lekas berdir—melanjutkan perjalanan.
Macica mulai menegakkan kaki. Ujung jemarinya menghapus sisa-sisa air mata seraya berkata, "Ayo kita pulang ...."
Ruvallo mengangguk. "Pulang ke tempat yang seharusnya."
UNDER WATER
Empat pasang kaki itu berlari tangkas melewati haling rintang, kaki mereka ringan melompat batuan lumut dan kayu-kayu lapuk. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, mereka berlari lebih cepat dari sebelumnya. Ruvallo dan Jean berlari sejajar memimpin ke depan, sementara Macica dan Yegi mengekor di belakang.
"Negatif. Tidak ada pergerakan apapun di permukaan tebing," kata Jean di sela-sela pelarian. "Aku hanya mendeteksi kalor di tubuh pohon raksasa di atas tebing yang akan kita lewati nantinya."
"Tetap waspada! Perangkap mungkin telah disiapkan di atas tebing," perintah Ruvallo.
"Tiga puluh meter menuju kaki tebing!" lapor Jean.
"Persiapkan boots kalian, kita akan mendaki tebing sebentar lagi!"
"Siap!" ujar Macica, Jean, dan Yegi serempak.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, di depan mereka bertiga ada tebing menjulang membentuk tatanan berundak menyerupai tangga zig-zag yang menempel di tebingnya. Mereka dimudahkan untuk melewati akses jalan kali ini.
Tentulah tidak semudah yang dibayangkan hanya dengan berlari seperti meniti tangga. Selepas hujan mendera, tanah dan batuan menjadi licin, belum lagi batuan cadas yang berujung tajam seperti mata tombak, itu masih belum terhitung kemiringan tanah begitu curam. Kaki mereka benar-benar diuji.
Mereka berempat bahu-membahu saling mengawasi dan memperingatkan. Yegi tergelincir, Jean sigap membantu pun sebaliknya. Mata Macica awas menatap di atas bukit sambil bersiap diri menghadapi apa yang ada di depannya dan sesekali melirik kaki pohon raksasa yang tumbuh di atas bukit hingga menembus langit buatan sampai tak sadar ia berada di ujung pendakian.
Tangan Ruvallo sigap menarik lengan Macica, gadis itu hampir terjun bebas karena melewati pembatas tangga. "Fokus, Macica!" Ruvallo menarik Macica lebih dekat lagi. "Kau boleh menatap awas di atasmu tapi tetap perhatikan jalan. Kau mengerti?"
"Aku mengerti," lirih Macica. "Maaf ..."
"Lihatlah! Kita sampai di atas tebing!" ujar Yegi menunjuk arah di depannya.
Menakjubkan.
Mata mereka disuguhkan pemandangan lagi memanjakan mata. Tempat di mana keempat orang itu memijakkan kaki mereka pada sesuatu menyerupai karpet raksasa digelar panjang dikhususkan untuk mereka, namun ini bukan permadani hijau rerumputan melainkan bekas aliran sungai yang mengering—menyisakan bebatuan besar dan kerikil yang ditinggalkan air. Amat besar sekali ceruk bekas sungai ini, keempat remaja itu malah menyerupai udang-udang kecil yang tersesat di bekas aliran sungai.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNDER WATER
Fantasía[Pemenang Wattys 2021 Kategori Fantasi dan Dunia Paling Atraktif] Ketika dunia telah lenyap bersama sejarah jauh tertimbun berselimutkan perairan tanpa ujung, maka pohon Azera memberi secerca harapan untuk bertahan. Manusia yang tersisa mulai memban...
