Siap-siap, ini bakalan panjang, yaitu kurang lebih 3856 kata. Aku di sini bakal ngehantam kalian sama banyak informasi tentang Pegasus ... juga ngasih tau beberapa hal di chapter ini yang bikin Under Water makin keliatan ceritanya nggantung banget.
Ini murni cerita fiksi tanpa ada maksud menyudutkan siapa pun dan apa pun. Segalanya yang saya buat di sini murni karangan atau istilahnya halu :3
Pegasus
Selamat Anantha Yegi!
Datanglah saat matahari berakhir di batu barat, pada hari di mana Pegasus dilahirkan.
Tertanda,
Pegasus
Isi pesan yang sesungguhnya adalah kebalikannya, mengutip dari namaku yang sengaja dibuat terbalik.
"Datanglah saat matahari berakhir di batu barat", seharusnya menjadi: "Datanglah saat matahari berawal di batu timur". Artinya pagi hari, saat matahari terbit. Lalu "Pada hari di mana Pegasus dilahirkan", seharusnya menjadi "Pada hari di mana Pegasus mati." Artinya aku harus datang pada hari di mana Pegasus mati.
Pegasus pernah mati ... tapi kapan?
Sekolahku menerangkan segelintir organisasi Pegasus—termasuk kelahirannya, namun tidak dengan kematian Pegasus—aku bahkan baru tahu organisasi Pegasus pernah mati! Satu-satunya alasan kenapa aku pergi ke perpustakaan kota ialah untuk mencari bukti yang tidak pernah kuketahui: Pegasus pernah mati.
Seperti dugaan, perpustakaan ini tidak terkunci—perpustakaan termegah nomor dua di pulau melarat ini (setelah Pegasus) seumur-umur tidak pernah dikunci. Aku bisa melenggang masuk di antara siraman cahaya lampu perpustakaan yang tak pernah padam layaknya seorang pelanggan perpustakaan, menuju ke penjaga perpustakaan di dekat pintu utama.
"Halo, Sayang, bisa kau tunjukkan padaku buku sejarah organisasi Pegasus?" tanyaku sok akrab pada sebuah robot metalik mengkilat yang kuyakini berkelamin perempuan (dia memiliki dua buah gunung besi di dadanya, mengenakan blus dan rok hitam yang senada, juga rambut cokelat sintetis yang tergerai sampai ke punggung).
"Lorong dua puluh, rak A-12," katanya. Tanpa banyak basa-basi aku melipat origamiku, memasukkannya ke saku jaket lalu pergi ke tempat yang diarahkan.
Rak-rak tinggi tersusun menutupi jendela-jendela mozaik yang ada di dinding. Aku tidak bisa memperkirakan sekarang jam berapa, namun aku yakin waktuku terbuang cukup banyak. Hatiku sedikit mencelos saat aku melihat dengan jelas bahwa tatanan buku di deretan rak ini sedikit berantakan, artinya ada orang yang selangkah lebih cepat dariku.
Dengan sedikit hempasan rasa iri, aku memfokuskan diri membaca tulisan di punggung buku dengan teliti. Ada banyak buku yang mirip-mirip judulnya atau kecil tulisannya karena saking panjang judulnya. Aku mengerahkan segenap usaha untuk membolak-balikkan halaman demi halaman sejarah Pegasus.
Entah karena aku terlalu lelah atau memang dari sekian banyak buku sejarah Pegasus tidak menyinggung sedikitpun kematian Pegasus. Yang kukhawatirkan dari isi pesannya adalah: pendaftarannya dibuka hanya untuk sekali, yaitu hari ini. Sementara itu aku masih belum mengantongi tiket menuju ke Pegasus dan perasaanku mengatakan matahari mulai terbit.
"Tenang, Yegi, jangan panik. Coba kau pikir kenapa kematian organisasi Pegasus tak pernah diceritakan? Rahasia, 'kan? Pasti ada hari di mana Pegasus mengalami masa-masa kelam. Masa di mana nyawa organisasinya dipertaruhan, namun mereka bisa bangkit dan menjadi kesayangan pemerintah Rusia. Pertanyaannya, bagaimana caraku mengetahui rahasia itu?"
Tanpa pikir panjang kurogoh saku jaket lantas meletakkan origami ajaib ini di atas buku sejarah Pegasus seri pertama, karena tak ada reaksi apa pun, kulakukan hal serupa di buku seri kedua. Aku hampir membanting buku-buku ini saat origami mulai bereaksi di seri terakhir buku sejarah Pegasus. Hologram kebiruan kembali menunjukkan wujudnya—menampilkan angka empat, yaitu hari ini. Setelah itu origami itu berubah warnanya menjadi biru metalik.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNDER WATER
Fantasía[Pemenang Wattys 2021 Kategori Fantasi dan Dunia Paling Atraktif] Ketika dunia telah lenyap bersama sejarah jauh tertimbun berselimutkan perairan tanpa ujung, maka pohon Azera memberi secerca harapan untuk bertahan. Manusia yang tersisa mulai memban...
