NO MERCY
NO FORGIVENESS
ONLY REVENGE WOULD BE THE ULTIMATE PEACE
.
.
.
UNDER WATER
.
.
.
Aku tidak bisa mendapatkan jawaban dari Yegi karena tahu-tahu sebuah kepalan tangan entah datang dari mana menghantam pipi Yegi lalu membuatnya terpental cukup jauh, baru kutahu ternyata Tuan Murov-lah yang melakukannya.
"Yegi!" Saat aku hendak berlari menyelamatkan Yegi yang terbujur, Tuan Murov sigap menahan lenganku.
"Apa yang kau pikirkan, Nak?! Orang itu penuh tipu daya jadi jangan percaya pada setiap omongannya!"
"Tuan Murov, Yegi berusaha mengatakan sesuatu-"
"Berhenti mempercayai Yegi, tidakkah kau lihat jemariku hilang satu karena ulahnya?" Tuan Murov mengapit kedua tangannya di kedua pundakku, menggoyangkanku seperti sebuah boneka. Tak cukup dari itu, ia menunjukkan jemarinya yang hilang satu. "Kau pasti sudah meraba belakang telinganya, bukan? Kautahu ada benjolan di sana, 'kan? Sadarlah, Nak, jika ucapannya tak lebih dari tipu muslihat."
Aku menahan erangan, mengalihkan pandang dari Tuan Murov ke Yegi yang berusaha bangkit dari tanah sembari mengusap pipinya yang memar kemerahan. Tetapi Tuan Murov sigap mengarahkan kedua tangannya ke kedua pipiku, menggerakkan kepalaku kepadanya agar tak mengelak lagi. "Dia jahat," tegas Tuan Murov, kumisnya ikut berkedut mengikuti irama gerakan mulutnya yang bergetar. "Dia, mereka, pihak luar kubah, dan setiap orang yang berkonspirasi mengekang kita adalah orang jahat. Mereka membunuh Kroskan dan Lyra, Sergey kakekmu, Nyonya Marilla ... mereka membunuh orang-orang yang memperjuangkan hak-hak kita; mereka membunuh orang-orang kita, Nak Macica." Tangan besar Tuan Murov menghimpit kepalaku lebih kuat lagi, menatapku lebih intens. "Tidak ada belas kasihan; tidak ada pengampunan; hanya balas dendam yang akan menjadi perdamaian tertinggi."
Sendi yang mengunci ketegangan di kedua bahuku mulai mengendor, napas memburu yang menguasai mulai mereda, mataku yang melebar segera melemah, dan aku menundukkan kepala setelah kedua tangan Tuan Murov dijauhkan. Lantas kuulangi perkataan Tuan Murov sekali lagi, "Tidak ada belas kasihan; tidak ada pengampunan ...." Kudongakkan kepalaku ke atas langit. "Hanya balas dendam yang akan menjadi perdamaian tertinggi."
Langit biru yang semula menaungi kami telah berubah menjadi dipenuhi awan kelabu dan kesenduan semenjak pertarungan pertama, tepatnya saat Hebize gugur dan hujan turun setelahnya. Tidak ada lagi langit biru selain mendung tebal yang berarak di manapun kami pergi. Akan tetapi kali ini awan kelabu berubah menjadi awan kehitaman dalam waktu yang terlampau cepat.
Tepat di atas kepalaku awan itu semakin menggelap di tiap detiknya, menumpahkan tinta kegelapan-persis seperti suasana malam yang gelap gulita. Bersamaan dengan itu datanglah angin berkesiur kencang dari atas langit yang kelam, meniup kami seperti guyuran air hujan.
Daun pepohonan yang masih bertahan bergemerisik keras lantas melepaskan diri dari ranting karena saking kuatnya. Rumput ilalang melambai liar tak tentu arah. Debu-debu jauh lebih agresif menyerang mata dan saluran pernapasan sehingga aku harus menutup hidung dan menyipitkan mata, dan rambutku turut melambai disapu angin dari atas langit sana.
Area ini berubah menjadi sangat buruk-buruk sekali sampai aku harus mempertahankan posisi kakiku di atas tanah yang mulai bergoyang. Aku tidak sempat memantau Ruvallo dari sini, debu-debu ini menutup mataku dengan warna cokelat muda dan kerikil yang terbang bebas, didukung oleh keadaan langit yang semakin kelam membuat mataku tak dapat berfungsi dengan baik kala menatap Ruvallo yang cukup jauh dariku tempatku berada.
Saat aku hendak berlutut demi mempertahankan posisi, sepasang tangan buru-buru menahanku. "Kita harus menjauh dari arena ini!" teriaknya di sela-sela angin yang menyapu wajah. "Lima kapal akan segera jatuh ke sini!" Tanpa menunggu persetujuanku, Tuan Murov mencoba membawaku pergi dari arena pertarungan.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNDER WATER
Fantasy[Pemenang Wattys 2021 Kategori Fantasi dan Dunia Paling Atraktif] Ketika dunia telah lenyap bersama sejarah jauh tertimbun berselimutkan perairan tanpa ujung, maka pohon Azera memberi secerca harapan untuk bertahan. Manusia yang tersisa mulai memban...
