Sebuah gelembung itu menarik.
Mereka bisa terbang bebas tanpa bantuan baling-baling, yang biasa digunakan manusia bila mereka ingin terbang. Namun sebagaimana sebuah gelembung, mereka rapuh.
Disentuh sedikit mereka musnah. Tiada angin yang mau membawanya ke langit, mereka akan musnah di permukaan tanah. Mungkin akan sangat beruntung jika mereka masih mampu 'bertahan hidup' di lantai keramik. Dengan bentuk yang tak lagi sama, gelembung ini bertransformasi menjadi gelembung setengah lingkaran. Menarik sekali.
Dan atas dasar kesengajaan, di dalam gelembung tersebut telah ditambahkan suatu kehidupan rumit untuk dijaga dengan ketat.
Dijaga oleh siapa?
"Pegasus ...." Jeda sejenak, Zain mengamati para staf yang akan melalui lorong. "Organisasi konyol yang sampai saat ini mengisolasi para manusia di dalam gelembung itu. Dan saat ini mereka kewalahan menghadapi beberapa dari mereka," kata Zain.
Tepat setelah itu rombongan staf tergesa-gesa melintas tanpa sempat menyapa Zain beserta rekannya yang bersandar santai di dinding lorong. Mereka terlalu sibuk untuk menoleh sedikit pun. Kali ini keadaan sedang gawat: staf bagian divisi pengawasan dan pengendalian tengah berusaha keras mengontrol keadaan.
Lorong panjang kembali senyap. Punggung-punggung mereka mulai menghilang di balik persimpangan lorong. Setelah Zain memastikan tidak ada ketukan suara pantofel asing di keramik, ia kembali berjalan.
"Haha ... itu lucu." Tidak, lawan bicara Zain tentu saja tidak tertawa. "Kau dan aku adalah bagian dari Pegasus, Zain. Lihat! Kita mengenakan seragam organisasi yang katamu konyol."
Zain tidak segera membalas sarkasme rekannya, ia masih merecoki diri dengan tablet seukuran selembar kertas. Kelima jemari Zain bergerak gesit mengetuk layar sementara kakinya terus melangkah, sesekali menatap ke depan kalau-kalau ada staf lain berpapasan. Saat rekannya mulai mengomel—karena diabaikan begitu saja—Zain akhirnya menghentikan perjalanan. Kening pria itu terlipat dalam; bertemu di satu titik. Matanya pun tak bisa lagi menatap sekitar sebab seluruh perhatiannya terfokus pada tabletnya. Seiring waktu terus berlalu tangan Zain semakin cepat mengetuk layar tablet.
"Apa yang terjadi?" tanya rekan Zain penasaran. Niat diri hendak memanjangkan leher untuk mengintip, Zain kontan menjauhkan layar tablet dari rekannya dengan memeluknya di dada.
"Pusat pengendalian Pegasus terletak tepat di bawah tanah divisi pertahanan. Dan tentu saja penjagaannya ketat." Zain mematikan tabletnya lantas melipatnya menjadi sebesar kartu nama untuk dimasukkan kembali ke dalam saku celana. "Ada enam lapis keamanan. Untuk melewati keamanan pertama kita masih harus ditanyai banyak hal yang merepotkan, belum lagi menunjukkan identitas diri pada petugas yang berjaga, dan jangan lupakan untuk melewati sensor pendeteksi kebohongan."
Pria itu menyusuri lorong dan kembali ke ruang kerjanya di mana seluruh staf bersatu membuat kesibukan dengan berfokus pada layar hologramnya masing-masing. Riuh rendah suara mereka menghubungi divisi lainnya dan lalu-lalang para staf membuat divisi mereka tampak ramai dan menyesakkan.
Kini Zain dan rekannya juga turut melakukan tugasnya sebagai bagian dari mereka. Namun perlu digarisbawahi, Zain terlihat begitu santai mengetikkan jemarinya di atas keyboard hologram dibandingkan seisi ruangan yang terlihat sibuk bergerak dan serius menatap layar. Belum sempat rekannya menginterupsi tingkah Zain, ia sudah bergerak mengotak-atik keyboard rekannya. Bukan untuk membantu tugas rekannya, melainkan tengah mengotak-atik isi data yang sama sekali tak berkaitan dengan tugas mereka.
"Apa yang kau lakukan, Zain?" desis rekan Zain menyadari apa yang terjadi pada layarnya. Sontak rekannya keranjingan menatap orang-orang sekitar; takut-takut bila ada yang melihat tingkah nekat Zain.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNDER WATER
Fantasia[Pemenang Wattys 2021 Kategori Fantasi dan Dunia Paling Atraktif] Ketika dunia telah lenyap bersama sejarah jauh tertimbun berselimutkan perairan tanpa ujung, maka pohon Azera memberi secerca harapan untuk bertahan. Manusia yang tersisa mulai memban...
