Sebuah konsekuensi ada selalu melekat pada sebuah keputusan.
Setiap manusia memiliki pilihan untuk keputusan yang diambil. Terlepas dari baik buruknya konsekuensi, akan ada bayaran sesuai dengan yang diperoleh. Namun dilain sisi penyesalan akan selalu ada di setiap langkah orang yang tidak yakin pada keputusannya.
Hal itu akan selalu ada dan nyata.
Tak akan terkuras penyesalan itu bila kita tak mencoba bergerak maju. Penyesalan akan selalu ada, tapi orang yang mengerti arti dari kata belajar tidak akan membiarkan diri semakin terpuruk.
Berbekal pengalaman ini orang bisa mengambil jalan yang telah disediakan, tergantung penyerapan peristiwa yang menimpanya.
Ada yang memilih jalan lurus ada yang memilih jalan berliku.
Orang memilih jalan berliku bisa jadi karena ia benar-benar bangkit dengan cara yang salah. Dari sekian banyak orang tipe ini, Murov merasa keputusan buruknya memberi hasil yang sejajar dengan konsekuensi yang diperoleh. Setelah melalui pergulatan diri Murov memilih pilihan kedua: membunuh guru.
Ia tahu ini keputusan yang berat, namun entah kenapa ada remahan hatinya berkoak lantang agar membunuh gurunya itu jika tak ingin kemalangan menimpa seisi Azera.
Murov yang malang. Kehilangan salah satu jari serta tekanan untuk segera membunuh Sergey membuat dia stress bukan kepalang. Sebagai guru pula sebagai ayah, Sergey bersedia mendengar keluh kesah Murov dengan tangisan mengiringi.
"Aku harus bagaimana? Membunuhmu bukan pilihan terbaik namun dilain sisi dia mengancamku jika ingin penduduk Azera selamat."
Sergey setia menampilkan senyuman terbaiknya untuk Murov "Sudah kukatakan bukan? Bunuh aku jika itu membuat Azera tetap berdiri"
Murov semakin gentar mendengar perkataan Sergey, sebilah pedang yang digenggam Murov kian bergetar. Murov tak kuasa menangis walau kenyataan sedingin apapun Murov, pria itu tetap memiliki sisi rapuh juga.
"Apa yang harus kukatakan pada Krosktan bila ia mengetahui Ayahnya mati?" Murov bersimpuh di hadapan Sergey. "Remaja itu hanya memiliki kau"
"Hmm ... apa ya? Mungkin kau bisa mengatakan bahwa aku mengalami kecelakaan kerja, sebuah ledakan dari eksperimen gagal menewaskanku," Sergey ikut bersimpuh menyejajari Murov. "Tapi rencanakan ledakan ini dengan baik agar aku mati seketika"
"Kenapa kau rela menjadi tumbal?! Kenapa kita tidak melawan saja! Bersama-sama!"
Sergey tersenyum menggeleng pelan lalu menyentuh pucuk kepala Murov lantas berkata, "Kekuatan kita masih belum cukup kuat. Nanti akan ada saatnya Azera melawan yang seharusnya dilawan. Untuk sekarang kau turuti perkataan dia."
Murov paham betul apa yang sebenarnya terjadi. Untuk saat ini hanya Sergey dan Murov yang masih memilih mengunci rapat informasi yang didapat demi detak jantung Azera. Jika itu harus mengorbankan nyawa demi keberlangsungan hidup Azera, Sergey bersedia.
"Oh ya ... kau pantau Krosktan setelah ini, amati perubahannya. Jika suatu saat nanti pria itu mengendus kedudukan Krosktan sebagai ilmuan, lakukan tindakan yang seharusnya demi keberlangsungan hidup Azera" Sergey mulai menegakkan badan dan membelakangi Murov. "Jika nyawa Krosktan sebagai bayarannya."
Murov semakin dirundung kesedihan. Menjadi malaikat maut bagi orang terdekat yang mengasihinya. Walau Sergey ikhlas, tetapi rasa bersalah ini akan selalu dibawa sampai mati.
"Jika kau menjelaskan ini pada Krosktan suatu saat nanti dia pasti akan mengerti. Aku mempercayakan hal ini padamu"
Murov menggelengkan kepalanya perlahan, isyarat dia tidak mampu melakukan hal yang sama pada keturunan Sergey.
"Cobaanmu sulit, Murov. Namun sesulit apapun rintangan yang kau hadapi ..."
KAMU SEDANG MEMBACA
UNDER WATER
Fantasia[Pemenang Wattys 2021 Kategori Fantasi dan Dunia Paling Atraktif] Ketika dunia telah lenyap bersama sejarah jauh tertimbun berselimutkan perairan tanpa ujung, maka pohon Azera memberi secerca harapan untuk bertahan. Manusia yang tersisa mulai memban...
