11. Kita Sama-Sama Pernah Mengalami Ini

4.5K 993 21
                                        

Zavilash, nama negeri itu. Berada sedikit jauh dari Filerra. Membentuk suatu tatanan negeri yang indah dengan cahaya biru dan hijau. Di kala hari berganti mengubah langit gelap seutuhnya, cahaya-cahaya itu lebih terang benerang. Penduduk memutari Zavilash layak biasanya sebelum tengah malam bertandang.

Bila tengah malam tiba, penduduk masih setia memeriahkan negerinya walau itu sekedar bercengkerama dengan tetangganya. Tiada hari tanpa keheningan.

Benar kata Ruvallo, jenis seperti mereka tak memerlukan tidur untuk beristirahat. Bila mereka tidur tanda bahwa tubuh mereka bermasalah atau biasa disebut sakit.

Hiruk-pikuk negeri Zavilash membuat Macica ikut-ikutan memilih duduk di samping jendela mengawasi mereka walau kantuk menyerangnya. Masalahnya kantuk itu tak sebanding dengan perkataan Ruvallo yang masih terbit di kepala Macica.

Beberapa waktu lalu seorang lelaki muda yang lebih pantas dianggap adik mengaku dengan bangga menyebut dirinya pemuda. Dia datang dari bawah dermaga dan menjumpai Macica karena sebuah ranting mengenai kepalanya.

Dia berharap semoga dipertemukan kembali dan berjodoh, katanya. Macica memaklumi, seorang lelaki yang lebih layak disebut adik menginginkan bersanding dengan dia. Wajar, bukan?

Ia lantas pergi dan tak kembali lalu Macica menganggap percakapan itu hanya angin lalu sebelum air benar-benar menghempasnya di kala itu.

Macica masih mengingatnya, Yegi Hawky. Namun sebuah nama tidak selamanya untuk satu manusia, bukan? Pasti ada banyak nama kembar teruntuk orang-orang tak sedarah.

Macica mengelus rambut hitam yang gayanya telah berubah menjadi berdiri di atas kepalanya. Aneh rasanya ia mengelus rambut hitamnya seperti itu, namun lebih anehnya lagi ia masih saja memikirkan hal tak penting seperti: nama Yegi.

Macica merebahkan diri di kasur yang lebih pantas disebut alas papan untuk bersiap menutup mata. Namun matanya kembali terbuka saat ia melayang di atas papan itu hingga hampir menabrak atap. Lagi-lagi dia harus beradaptasi dan harus memuaskan diri tidur melayang walau itu sulit dilakukan.

UNDER WATER

Terulang kembali.

Adegan penyiksaan brutal dilakukan oleh oknum berbeda. Kali ini kelihaiannya memainkan pisau mungkin lebih baik satu tingkat dari Ruvallo. Entahlah, gerakannya lebih berseni namun juga mengerikan.

Darah pekat ikan menyebar lebih luas bersama bau anyir segarnya membuat Macica harus menahan mual menjaga etika sopan santunnya di depan Kakek Ivan. Macica harus lebih lihai menghindar dari kepulan darah yang semakin lama semakin banyak.

Sekali lagi irisan pada ikan tuna maka ritual akan berakhir dan Macica bisa bernapas lega. Tangan Kakek terulur menyerahkan bagian daging tersebut pada Macica yang kini memasang ekspresi pucat.

Ruvallo yang melihat di kejauhan bergegas ke sana hendak menegur Kakek. "Kakek, bukankah kukatakan kemarin kalau jangan mencincang ikan di depan Macica?" tanya Ruvallo memastikan. "Juga kukatakan bahwa Macica tak suka makanan mentah!"

"Oh ya? Kalau begitu aku lupa," sahut Kakek Ivan menarik uluran tangannya lantas memakan daging tersebut. "Kalau begitu Nak Macica pemakan buah ya? Sayang sekali sebagian besar penduduk Zavilash lebih suka makan ikan kenimbang buah."

Macica sedikit aneh dengan sebutan pemakan buah. Dia sebenarnya juga suka makan ikan namun tidak dengan melihat adegan mutilasi dan memakannya mentah-mentah, perutnya pasti bergejolak ingin ke luar saat itu juga.

"Biar aku yang membawa kakak cantik ke Filerra!"

Kedua alis Macica terangkat, matanya mengatakan seolah-olah dia bertemu kembali dengan lelaki di depannya. Ternyata memang benar, lelaki di depannya ini persis seperti yang ditemuinya di dermaga.

UNDER WATERCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang