55. Apa yang Aku Inginkan

1.5K 448 70
                                        

Langit yang menaungi akan roboh dalam hitungan menit, setidaknya itulah perkiraanku.

Kapal yang mengawang akan lepas dari jeratan air langit buatan sebab ia tidak mampu menahan bobot lima benda besar itu, ibaratnya lapisan langit terakhir adalah selembar kaca tipis dan lima kapal adalah batu besar yang jatuh menghantamnya. Jika kapal itu berhasil lolos, maka serpihan-serpihan langit yang berupa air ikut tumpah-memukul apa pun yang ada di bawahnya. Itulah kiranya yang bisa kutangkap.

Air langit yang merembes kini berkembang menjadi hujan badai ganas. Air, angin, dan kerikil yang terbawa telak menampar keras permukaan kulit-terutama wajah. Sekujur tubuhku basah dibasuh air tak terkecuali mataku yang bahkan rutin berkedip setiap satu detik sekali demi melindungi diri agar tidak kemasukan kerikil kecil.

Terbungkuk-bungkuk aku berjalan mendaki gundukan tanah yang tidak seberapa tingginya. Berulang kali aku terjebak genangan air keruh di mana dasarnya telah terkumpul tanah halus yang menghisap kakiku, terkadang aku hampir limbung dihempas angin dan getaran tanah, atau jatuh berlutut karena payahnya tubuhku menahan beban Ruvallo di punggung, sedangkan tanganku mulai ikut kebas dan kaku saat menahan tubuhnya agar tak melorot.

Di atas langit kulihat kapal-kapal itu telah berhasil menembus pertahanan terakhir dari langit-pantat cokelat dari kapal-kapal itulah yang kulihat kali pertama. Berhentinya suara sirine dan gempa kecil menyusul setelahnya, tetapi tidak untuk badai hujan Kabar baiknya aku bisa mulai mempercepat langkah menjauhi area yang akan dijatuhi kapal-kapal, kabar buruknya setengah badan kapal lolos dari jeratan langit dan Ruvallo terbatuk kecil-meneteskan lebih banyak darah.

"Kita hampir sampai, Ruvallo!"

Kata hampir sampai yang kumaksud adalah setengah perjalanan lagi. Masih ada banyak genangan air yang harus kuinjak dan badai yang semakin liar akibat setengah bagian kapal berhasil meloloskan diri. Tapi setidaknya aku berhasil menjauhi titik yang paling berbahaya.

Di kejauhan tampak siluet seorang pria semakin membesar saat kudekati. Kulihat kedua tangannya menutupi kepala sementara kedua kakinya juga bergerak mengarah ke kami. Lalu saat jarak kami hanya terbentang dalam beberapa meter, kutahu siapa orang ini.

"Aku mencarimu ke mana-mana, Nak Macica!" Tanpa basa-basi ia memunggungiku dan berjongkok di depanku, mengalihfungsikan punggungnya sebagai tempat pengganti. Seusai kupindahkan Ruvallo ke punggungnya, ia segera berdiri sambil memperbaiki posisi, barulah setelah itu ia berkata, "Kepala plontosku tidak bisa menahan lebih banyak air dan kerikil jadi kita harus cepat-cepat pergi dari wilayah badai ini!"

Akan tetapi waktu tak memberi cukup banyak toleransi untuk kami bertiga. Tiga seperempat bagian kapal sudah terjulur dan siap meluncur kurang dari satu menit. Aku mengetahui ini karena sirine kembali diputar ulang, jauh lebih kencang dari sebelumnya seakan ia berteriak akibat langit tak mampu menahannya lebih lama.

"Ah kupingku!" gerutu Tuan Simon yang memimpin pelarian kami. "Suara sirine ini tepat di sisi kanan-kiri telingaku, dasar sialan!"

"Sirine-sirine itu sebagai peringatan, Tuan Simon! Lihatlah sebagian kecil dari langit akan segera jatuh bersama kapal-kapal!" teriakku tak kalah dari suara-suara sirine.

"Sudah cukup aku menaiki kapal! Percepat langkahmu agar kita tidak dicium oleh pantat-pantat besar mereka!"

"Tuan Murov, langitnya!"

Sontak aku dan Tuan Simon berteriak melihat kelima kapal jatuh berojolan membawa begitu banyak air untuk dilimpahkan pada daratan. Dan bum! Jatuhnya kapal seperti sebuah ledakan air yang besar, hempasan air dan anginnya mengarah ke kami seperti gelombang air bah. Seketika kuaktifkan arlojiku dan membuat sebuah perisai setengah bola yang melingkupi kami bertiga.

UNDER WATERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang