56. Pembicaraan Kami

1.4K 425 17
                                        

Aku tidak pernah tahu bagaimana nasibku satu menit ke depan, satu jam ke depan, satu hari ke depan, satu tahun ke depan, dan seterusnya. Aku tidak akan pernah tahu bagaimana nasibku selagi jantung terus berdegup di balik dada dan kepala masih mampu untuk terus berpikir-memprediksikan apa yang akan terjadi tanpa tahu secara pasti.

Aku mungkin mampu memprediksikannya tapi aku tidak lebih siap menyambut takdir yang dilimpahkan padaku. Kadang aku bisa merasa begitu munafik dengan berpikiran optimis, tapi sejujurnya aku berpikiran pesimis di saat yang bersamaan.

Terus berjalan tanpa kepastian membuatku linglung. Antara ingin berhenti atau plihannya ada di kedua tanganku. Jika aku berhenti maka selesailah sudah, tapi jika aku terus berlajut perasaan tak pasti terus menggerus keyakinanku. Bahkan meskipun bala bantuan-yang terdiri dari seratus lima puluh orang-berdiri di belakang punggung pun tak mampu membuatku lebih percaya diri.

Padahal ada Ayah Walski dan Kakek Ivan yang telah membesarkan hatiku dan memunculkan kembali harapan yang kuinginkan. Padahal ada Tuan Simon yang lebih dari siap berdiri di garda depan. Ada Ruvallo yang masih ngotot ingin melawan meski kepalanya telah terbebat kain. Ada orang-orang Azera dan Zavilash yang mengelilingi. Ada pula Tuan Murov yang nanti akan menjadi pemimpin kami.

Tapi kenapa masih muncul rasa pesimistis yang tinggi? Apa karena aku sudah memprediksikan bagaimana akhir hidupku atau karena aku sejujurnya tidak siap menerima takdirku nantinya?

Langit yang menaungi kami menjadi cerah-secerah langit yang menjanjikan kebahagiaan di baliknya. Tapi langit hanyalah langit, tidak ada langit yang menyediakan akhir yang bahagia selain menjadi latar tempat penunjang akhir cerita. Sekali mataku terpejam dan menengadah kepada langit, tidak serta merta membuat perasaan negatifku menguap begitu saja, namun setidaknya aku masih bisa berdoa sebelum akhirnya aku mencapai akhir.

Ayah, kau pernah bilang bahwa hanya aku yang tahu bagaimana akhir cerita Bayi Olivia. Kini aku tahu akan jadi seperti apa akhir kisah Bayi Olivia karena akulah yang memegang alurnya. Bayi Olivia adalah perwujudan dari harapan, di mana akulah yang akan menentukan di mana harapan itu akan berlabuh. Ayah percayalah padaku, harapan-harapan kita akan sampai ke tempat tujuan karena aku sendiri yang akan mengantarkan Bayi Olivia ke tempat terakhir.

Ayah, mungkin nanti nyaliku akan ciut lagi tapi selagi aku membawa Bayi Olivia akan kupastikan ia mencapai titik akhir; akan kupastikan harapan kita sampai meskipun nyawaku adalah taruhannya ... meskipun aku kembali takut nantinya.

"Apa kau sudah selesai berdoa, Nak Macica?" Ketika kubuka kelopak mataku, Tuan Murov menjulurkan sebutir buah kuning ranum yang telah lama tak kujumpai semenjak meninggalkan Azera. "Makanlah ... kau sudah terlalu lama berlari."

Kedua tanganku menangkup pemberiannya-memakan buahnya dengan perlahan, menyesapi tiap rasa manis segar saat kukunyah, dan meneguk sari di dalamnya sambil kembali mengingat kapan terakhir kali Ibu mengupas buah aze untukku.

"Enak-rasanya enak. Terima kasih, Tuan Murov," kataku mengumbar segaris senyuman.

Tuan Murov membelai pucuk kepalaku, mencuri pandang di belakangku lalu berkata, "Sepertinya temanmu ingin berbincang denganmu."

Sambil menggenggam sebutir buah aze yang tinggal separuh, aku berjalan mendekati di mana Ruvallo berada, yaitu lima meter di belakangku; tengah duduk bersila di atas lembabnya tanah, bersandar pada salah satu box kosong seraya bersidekap kaku-mengabaikan perban tebal yang membebat kepala seakan ia dalam keadaan super prima.

"Katakan padaku apa yang kau rahasiakan selama ini!" pintanya agak ketus.

Aku mengalihkan pandang pada orang-orang yang berlalu lalang di sekeliling kami. "Maksudmu?"

UNDER WATERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang