Entah kenapa aku ngerasa ini ndak penting-penting amat, tapi ku tetap ingin nge-publish ini ;__;
Bagian ini ndak dibaca juga nggak papa soalnya gak ngaruh//kayaknya ;3
... kayaknya loh ya UwU
*******
"Hei hati-hati!"
Gadis bersurai hitam itu menulikan pendengarannya, mempertajam penglihatannya, dan memfokuskan diri pada objek di depannya.
Memulai awalan dengan lompatan kecil lantas menyusuri papan dengan langkah tajam, tak lupa meningkatkan kecepatan larinya sampai pada ujung papan, lantas melakukan tolakan dengan kekuatan betisnya. Kedua kakinya melayang, kedua tangannya bersiaga mencengkeram akar gantung di depannya.
Dia mengulas senyuman cerahnya, reaksi atas keberhasilan menggapai akar pohon Azera.
Tak cukup puas, dia mulai beringsut mengayunkan tubuh ke depan dan ke belakang, menciptakan momentum pas untuk berpindah ke akar selanjutnya--memilih pergi meninggalkan kedua sahabatnya yang tengah gigit jari menatap punggungnya. Mereka takut-takut gadis itu jatuh karena tak ada jaring pengaman terpasang di bawahnya.
Itu bukan hal yang sulit dilakukan, lengannya terampil walau hanya melewati lima akar di depannya tanpa mengalami keletihan berarti, yang ada matanya semakin berbinar.
"Lyra! Kau jangan ke mana-mana. Kami berdua akan ke sana!" Terlihat sekali lelaki jauh di depan Lyra memasang raut ngerinya.
Bergegaslah Krush dan Ibhe ke tempat di mana Lyra berada lalu menerjangnya dengan pelukan dari mereka berdua, membuat Lyra sesak napas.
"Le ... lepaskan," ujar Lyra terbata-bata, susah payah menghirup oksigen.
"Eh maafkan kami," balas mereka berdua serempak setelah melepaskan pelukan.
Lyra menahan tawanya. "Kalian serasi!"
Memilih mengabaikan komentar Lyra, Krush menjewer telinga Lyra. "Kali ini tantangan dari kau kelewat bahaya!"
Lyra mengerang pelan berusaha melepaskan pelintiran pada telinganya, melirik Ibhe dan memasang raut semelas mungkin agar dia ditolong olehnya.
"Sepuluh menit lagi jam pelajaran akan dimulai, kita harus segera bergegas. Masalah hukuman untuk Lyra kita pikir nanti," bujuk Ibhe pada Krush.
Tidak ada bujukan dari Ibhe yang tak ampuh bila ditujukan pada Krush. Tentu saja karena jelas-jelas Krush menyukai Ibhe, sayang sekali ungkapan Krush masih digantung oleh perempuan itu.
"Oh Ibhe sahabat terbaikku, kau bisa diandalkan bila berhadapan dengan Krush Walski." Lyra melambaikan tangan lalu berlari meninggalkan kedua orang itu menuju ke sekolah.
"Oi! Aku lebih tua darimu satu tahun! Kau harus memanggilku Kakak!" Krush berlari hendak memotong ketertinggalannya.
"Kau itu kakak dan sahabat tercerewetku!"
Ibhe hanya tersenyum menggelengkan kepala melihat tingkah mereka berdua, Ibhe mulai melangkahkan kaki menyusul mereka berdua.
Tiga remaja
Cepat-cepat Lyra menutupi rongga mulutnya dengan kedua telapak tangannya, tak ingin dia terkena masalah dengan guru pemarah di depannya.
Matanya membuka lebar tertahan oleh jemari lentiknya lalu kembali mengedipkan bila telah kering. Dan mengulangi kegiatannya itu agar tidak tertangkap basah karena tak sengaja tidur saat pelajaran tengah berlangsung.
"Siapkan pensil serta buku kalian! Ulangan akan segera dimulai."
Sial! Ulangan dadakan!
Diliriknya teman sebangku Lyra yang tengah menyiapkan alat-alat yang diperlukan dengan tenangnya. Mengabaikan Lyra yang menatap gerak-geriknya.
"Ekhem! Hei bolehkah aku meminjam pensilmu?"
Mata hijaunya menoleh ke sumber suara, lantas menatapnya heran. "Kemana pensil yang kau beli beberapa hari yang lalu?"
"Ah ya itu. Tak sengaja terjatuh saat melewati tangga."
"Kau tidak membawa alat tulis bukan? Lagipun kau hanya membawa satu buku." Ditatap tas Lyra yang hanya mencuat satu buku saja. Jelas sekali dia tidak niat belajar.
"Ayolah. Sebentar lagi guru itu akan memarahiku karena tidak membawa pensil! Jadi tolonglah aku"
"Kau bahkan tidak ingat nama siapa guru yang mengajar," ujarnya tenang lalu menyobek dua lembar kertas. "Kurasa guru telah mengumumkan bahwa sekarang ulangan. Setidaknya kemarin kau mendengarkannya."
"Oke aku lupa. Kau sudah tahu tabiat kawanmu ini Krosktan, jadi kumohon tolonglah aku."
Diserahkan sebatang pensil pada Lyra tanpa melepaskan pandangan pada guru yang mulai mendikte soal. "Ya aku tahu tabiatmu Lyra, cepat raut pensil itu dan dengarkan guru bicara."
"Krosktan kau kawanku yang terbaik! Terima kasih!"
"Kau satu-satunya perempuan enam belas tahun yang masih kekanakan di angkatan ini."
"Akan kubogem pipimu."
Diam lebih baik daripada menerima pukulan telak dari gadis di samping Krosktan.
Dan seorang teman sebangku
KAMU SEDANG MEMBACA
UNDER WATER
Kỳ ảo[Pemenang Wattys 2021 Kategori Fantasi dan Dunia Paling Atraktif] Ketika dunia telah lenyap bersama sejarah jauh tertimbun berselimutkan perairan tanpa ujung, maka pohon Azera memberi secerca harapan untuk bertahan. Manusia yang tersisa mulai memban...
