59. Kepada Yegi

1.5K 453 80
                                        

Sebilah pedang yang kugenggam masih enggan kuacungkan, pun milikmu yang teronggok diam di sisi kanan-kiri. Tidak ada dari kita yang bergerak seinchi untuk memulai pertarungan meskipun dentuman-dentuman, jelaga-jelaga hitam, lidah api yang menyambar, dan angin yang menerbangkan debu-debu di tanah memenuhi tiap-tiap arena.

Pada kesempatan kali ini, pada posisi yang berbeda, aku akan mengakhirinya sampai di sini. Bertaruh pada kekuatan yang ada, aku akan menghabiskan waktuku di sini-di dinding utara.

Tepat setelah pandangan kami berserobok, aku memulai serangan ... begitu pula Yegi yang mengacungkan pedangnya. Aku menghunus pedangku, ia menangkis dengan salah satu pedangnya lalu berbalik menghunusku dengan pedang lainnya. Namun secepat mungkin aku mengelak dan berguling ke lain sisi.

Satu detik kemudian kuubah pedangku menjadi sebuah senapan, membidiknya tepat di jantung Yegi tetapi ia buru-buru memotong selongsong senapan dengan pedangnya seenteng memotong ranting pohon.

Dua buah lidah pedang Yegi menyabet leherku secara horizontal. Aku sontak berjongkok, menjegal kakinya. Saat punggung kakiku nyaris menyentuh kakinya, ia loncat lebih dulu.

Sebelum Yegi menusuk kepalaku dengan pedangnya, segera kubayangkan sebuah tongkat besi sedepa, lantas menangkis dua pedangnya. Tak hanya dua pedangnya, lengan Yegi juga terkena pukulan tongkat panjangku. Sontak ia mengibas-ngibaskan kedua tangannya sambil berdecih pelan.

Aku kembali menyambarnya dengan tongkatku, tanpa kuduga ia membelokkan arah serangannya, lantas-dalam posisi menyamping-aku ditendang oleh salah satu kakinya. Perutku ditendang tepat di luka yang belum menutup. Bagus sekali.

Sejurus kemudian ia datang menyambar, melayangkan pukulannya. Dalam keadaan perut nyeri dan kewaspadaan yang berkurang, aku tak mampu menahan pukulannya, maka dalam sekali hantam ia memukul tepat di ulu hati. Belum sampai di sana, Yegi memutar tubuh seraya mengayun kakinya ke lengan sisi kananku sekuat tenaga. Aku terlempar untuk kesekian kali sebelum akhirnya terkapar tak berdaya.

Sembari menahan sensasi rasa tusukan di sekujur tubuh, aku mencoba bangkit. Namun kakinya lagi-lagi menendangku layaknya sebuah bola. Aku terlempar lagi, terbanting lagi, dan terkapar tak berdaya lagi. Lidahku merasakan cairan rasa besi di rongga mulut, lalu cairannya mengalir melalui sudut-sudut bibir sebelum menyembur-menodai tanah. Darah ini juga keluar melalui hidungku setelahnya.

Ruvallo bilang aku tidak boleh mengeluarkan semua kekuatan yang tersisa, tetapi jika tidak kulakukan, kekuatanku tidak akan bisa menandingi Yegi. Jika aku gagal menahan Yegi, maka ia akan menyerang kelompok dalam kubah yang tersisa dengan membabi buta.

Tidak ada pilihan lain ... ini akan jadi yang terakhir kalinya.

Kaki Yegi yang menendangku segera kuhentikan. Kutahan kakinya yang hampir menginjak wajahku. "Rasanya sakit, sialan!" Dengan segenap tenaga kubanting Yegi sampai tanah yang menahan bobotnya retak.

Pada kesempatan yang berharga ini, aku mundur perlahan dan menenangkan diri demi mengumpulkan kekuatan tersisa untuk pertarungan yang tersisa. Kutenangkan pikiranku dengan mengabaikan rasa besi, lengketnya tekstur darah membasahi mulut dan dagu, dan membiarkan sensasi sakit di sekujur badan.

Selagi aku tengah mengistirahatkan diri, Yegi muncul di depanku dengan kepalan tangan mengarah ke wajah. Telapak tangan kiriku terulur mengungkung pukulannya. "Sekarang kita seimbang, Yegi," kataku seraya mengulas segaris seringaian.

Berkat bantuan tekanan udara pada arloji, aku membalas pukulannya dengan mengarahkan telapak tangan kananku ke dada-mendorongnya sekuat tenaga. Ia terpental, terbentur, dan tergolek persis seperti yang kualami sebelumnya.

Aku berlari menyusul, melompat seraya mengarahkan kepalan tangan ke wajahnya. Namun, ia sanggup bangkit dan membuat tameng sepersekian detik sebelum kepalan tanganku menyentuh wajahnya.

UNDER WATERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang