"Hei rambut cokelat! Kau yakin mereka berdua Yegi dan Ruvallo?" Hebize menyejajari langkah panjang Jean dengan sesekali menilik awas ke sekitar. Lawan bicara menahan letupan kejengkelan dengan berfokus pada alat yang membuat salah satu matanya sering berkedip menyesuaikan penglihatan.
"Hei rambut cokelat berhenti!" tutur Hebize menyekal lengan Jean. Menahan pemuda itu pergi lebih jauh lagi.
"Kubilang panggil aku Jean—dan apa?!" ketus Jean bersidekap sekaligus menaikkan dagunya sedikit ke atas.
"Kau tidak mendengar pertanyaanku sebelumnya, ya?" tanpa menunggu balasan Hebize melanjutkan. "Tak masalah—abaikan," tutur Hebize santai lalu mendahului Jean dan Macica yang tertinggal di belakang.
Macica menyejajari Jean yang nampak lebih berisi karena rompi yang disesaki kantung berbagai ukuran. Mulanya Macica diam mengamati lelaki yang memerengut sebal yang sudah dipastikan untuk siapa, lalu Macica menyikut pelan perkenaan lengan Jean agar dia meliriknya. Jean menaikkan dagunya santai ke atas—menuntut alasan dari tindakan Macica.
"Bagaimana kau yakin mereka yang kita tuju itu Ruvallo dan Yegi?" tanya Macica ragu—takut Jean akan mengabaikan pertanyaannya sama seperti Hebize walau mustahil bagi Jean membiarkan.
"Satunya tinggi, sampingnya pendek. Seperti kakak adik—Oi! Jangan jauh-jauh dari kami, pirang!" Jean berdecak kesal di tengah penjelasan Hebize melangkah lebih cepat.
Macica menoleh ke arah yang dituju. Hebize semakin gencar menuju ke barat seakan tak ingin meninggalkan momen langka jika terlambat sedikit saja. Mula-mula Hebize melangkah cepat, lambat laun temponya meningkat tajam sampai kondisi mengatakan jika Hebize berlari kencang diikuti Jean dan Macica yang kebingungan di belakang yang berusaha mengikuti Hebize.
Melewati semak belukar dan pepohonan rindang menjulang, menginjak tanah kecoklatan dan genangan air yang memercik ke penjuru arah—mengotori boots mereka lebih gencar, mereka bertiga mengabaikan. Saling kucing-kucingan, mengejar si pirang yang berlari gesit melompati batang lapuk dan batu yang dihinggapi paku-pakuan.
Entah kali keberapa, dentuman menyusul setelahnya. Dari arah barat—tempat yang menjadi tujuan—tempat di mana Jean meyakini dua kakak adik itu berada sekarang. Bukan tidak mungkin jika itu hanya sebuah jebakan remeh seperti seekor rusa yang menarik perhatian Macica untuk mengelus pantatnya. Sekali perangkap dibuat, tiga mangsa terjerat.
Jean menyipitkan netra hazelnya. Dari arah barat, tepat di lensa aneh itu masih tergambar dua awak menyerupai manusia yang bergerak maju. Jean mengigit bibirnya, bagaimana bisa dia menyimpulkan sesempit itu sedang Hebize semakin cepat bergerak, melupakan nalarnya karena mungkin saja Ruvallo dan Yegi terancam sementara ia lupa mungkin kini mereka yang terancam, lagi.
Macica merasa tenaganya terkuras habis karena perlawanan yang diberikan pada tiga orang berompi hijau tadi. Cukup sengit membabat organ mereka agar tak melawan dan mencelakai, namun itu semua impas karena msing-masing dari mereka bertiga membawa senjata laras panjang dan laras pendek silver yang nyaman digenggam tapi merepotkan pergerakan.
Senjata yang tersampir di punggung Macica bergoyang pelan. Sangat pelan. Ukuran dan bobotnya cukup menyiksa Macica yang tengah berlari, ia merasa heran kenapa Hebize dan Ruvallo sebegitu santainya bergerak seakan hanya seikat ranting ramping yang menggelandoti punggungnya.
"Hebize berhenti!" pinta Jean tentu diabaikan, sebagai penolakan Hebize berlari lebih gesit lagi yang disusul oleh Jean beberapa meter dan Macica yang tertatih-tatih di belakang punggung Jean.
Hebize menulikan pendengaran pula dibutakan buaian dan menonaktifkan sinyal kewaspadaan. Dia sudah terlampau kalut dengan keadaan Ruvallo dan Yegi. "Mereka pasti butuh bantuan sekarang juga!" cemas Hebize.
Jean dan Macica kompak mengeluarkan laras panjangnya di balik punggung. Bersiaga sebelum memasuki arena, Hebize lebih memilih menggenggam erat dua buah belati di tangan kanan dan kirinya kenimbang menggenggam senjata belalai panjang di balik punggungnya.
Ketika dentuman semakin nyalak terdengar ganas, Hebize berlindung di balik pohon beringin dikelilingi belukar liar yang disemati liana lebat, Macica berjongkok di bebatuan besar berlumut yang dihinggapi jamur kecokelatan dan Jean duduk bersandar di pohon mati yang kehilangan setengah bagian atasnya namun masih mampu menutupi pundak Jean. Sekumpulan pohon beringin membentuk benteng acak di depan pandangan—menutupi penglihatan mereka yang tengah bertanya-tanya apakah tindakan yang diputuskan sudah benar.
UNDER WATER
Yegi bersiaga tepat di samping Ruvallo yang mengarahkan moncongnya ke arah di mana lawan berada. Ruvallo tidak tahu apa senjata yang digunakan tapi saat ia tak sengaja melepas pelatuk, pohon mahoni yang berada di dekat Ruvallo hancur sebagian menciptakan lengkungan kasar yang menganga lebar dengan kepulan dan gosong pekat di sana sebelum batangnya ambruk ke tanah.
Dengan memercayakan alat aneh yang menutup salah satu mata Ruvallo, ia cukup yakin senjata yang mengarah pada objek dengan akurat. Ruvallo tinggal sekali tindakan saat ketiga objek itu mendekat—hancurkan dadanya, atau kepalanya. Pengkhianat tidak boleh mati dalam keadaan yang indah.
Perlahan, Ruvallo membuat telunjuknya bersiap menarik pelatuk. Ruvallo mengarahkan mocongnya pada salah satu dari mereka—tepat di kepala. "Mati!" Ruvallo menarik pelatuk.
Coba tebak siapa yang akan mati setelah ini.
UNDER WATER
.
.
~('-'~) ~('-')~ (~'-')~
740 kata
Kamis, 10 Oktober 2019
Hmm ... menuju penghujung acara
KAMU SEDANG MEMBACA
UNDER WATER
Fantasi[Pemenang Wattys 2021 Kategori Fantasi dan Dunia Paling Atraktif] Ketika dunia telah lenyap bersama sejarah jauh tertimbun berselimutkan perairan tanpa ujung, maka pohon Azera memberi secerca harapan untuk bertahan. Manusia yang tersisa mulai memban...
