Gadis pirang dengan setelan baju coklat muda senada dengan boots-nya menjelaskan suatu hal secara tiba-tiba. Tentang garis besar hidupnya yang serupa dengan garis besar hidup Macica. Setelah mendengarkannya Macica seperti merasa ada yang sejalan dengan pemikiran ayahnya, Tuan Krosktan.
Hebize pemilik mata abu-abu memilih duduk di ujung dermaga agar bisa lebih dekat dengan Macica. Alih-alih mendekatkan diri dengan kawan baru, Hebize memakan buah jingga itu sambil menikmati pemandangan lautan terbias cahaya mentari.
"Seperti biasa setelah memastikan aku tidur di ranjangku, Marina pergi ke tempat kerjanya, lokasinya berada sedikit jauh ke puncak tertinggi di Filerra dengan akses tangga lilit.
Pergi malam-malam dengan suhu dingin meniup tengkuk bukan masalah bagi Marina karena keinginannya untuk mengetahui atau bahkan menguak rahasia dunianya. Tentang bagaimana dunia ini terbentuk dan orang-orang yang lebih memilih patuh dengan sistem di Filerra.
Marina pemberontak. Ya, jelas mereka menjulukinya. Tidak percaya sejarah yang ada dan acuh pada seorang wanita merawat anak satu-satunya yang ditinggal oleh suami tercinta.
Marina tidak mempermasalahkan itu, selagi orang-orang di Filerra tidak mengusik kegiatan Marina. Maka Marina akan memilih bungkam merahasiakan ingatan spesialnya," ucap Hebize menghentikan ceritanya.
"Ingatan ... spesial?" tanya Macica
Hebize tersenyum menanggapi seraya berkata, "Marina salah seorang pemberontak memiliki keyakinan pula serpihan ingatan. Marina mewujudkan ingatannya dengan bereksperimen membuat suatu serum yaitu cairan kuning, pink, dan hijau. Serum kuning yang berdampak padamu saat ini Macica."
"Jadi cairan bercahaya itu buatan ibumu? Bagaimana bisa?"
"Hanya Marina yang mengerti serum itu, pengubah gen ekstrim dari bernapas dengan oksigen menjadi bernapas dengan air. Marina tahu 'resep' itu tentu dari ingatan yang beliau dapat, aku bahkan tidak tahu apa nama serum itu, hanya diperbolehkan melihatnya dan mengantarkannya pada Kakek Ivan. Marina berkontribusi dengan Kakek Ivan.
Intinya setiap pemberontak memiliki sedikit ingatan untuk bisa meneguhkan keyakinannya."
"Lalu ayahku, juga?"
"Bisa iya bisa tidak. Tak selamanya pemberontak memiliki ingatan ini, bisa saja ayahmu mendapatkan info ingatan spesial dari generasi pemberontak sebelumnya."
Benar. Macica hanya mendengar keyakinan ini dari ayahnya sebagai dongeng pengantar tidurnya, bisa dipastikan dia hanya seorang pemberontak tanpa ingatan spesial yang dimaksud. Bisa juga ayahnya, Tuan Krosktan sama halnya dengan Macica. Namun Macica beralih menduga kakeknya memiliki ingatan spesial sama halnya dengan ibu Hebize.
Sayang sekali Macica hanya bisa mendesah kala ayahnya tidak menceritakan kisah Kakeknya terkecuali pengakuan Tuan Krosktan yang memiliki seorang ayah berprofesi sama dengannya namun meninggal karena termakan usia.
"Apa Kakek Ivan termasuk pemberontak yang memiliki ingatan spesial itu?!" tanya Macica menggebu-gebu berkeinginan Hebize menjawab semua pertanyaannya.
"Kakek Ivan semakin berumur, ingatannya semakin melemah. Jangankan mengingat hal yang 'spesial', Kakek bahkan tidak mengingat apa yang dikatakan cucunya beberapa hari yang lalu," Hebize mengelus pelan rambut pirangnya sebelum melanjutkan. "Tapi tidak separah yang dikira. Kakek Ivan masih bisa mengingat walau tak setajam semasan Kakek muda dulu. Lagi pula kendala Kakek hanya kemalasannya untuk mengingat."
Macica menundukkan kepala seraya menyipitkan kedua matanya. Jemarinya semakin menggenggam erat ujung dermaga, menyalurkan segala tenaga serta seluruh pertanyaan pada susunan dermaga yang mulai termakan usia, niatnya ingin menyiapkan tenaga cukup untuk melontarkan pertanyaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNDER WATER
Fantasi[Pemenang Wattys 2021 Kategori Fantasi dan Dunia Paling Atraktif] Ketika dunia telah lenyap bersama sejarah jauh tertimbun berselimutkan perairan tanpa ujung, maka pohon Azera memberi secerca harapan untuk bertahan. Manusia yang tersisa mulai memban...
