Macica hanya mengalami sedikit gigitan di bagian Jean menancapkan suntikan itu. Beda dengan Macica, Jean mengalami reaksi luar biasa menyakitkan. Mula-mula panas menjalar ke seluruh bagian lalu berlanjut pada rasa nyeri setelahnya. Tubuh Jean kaku tak berdaya, pemuda itu terkulai lemas diselimuti air, Macica yang direngkuhnya ikut tertarik ke dalam air.
Berulang kali Macica menepuk pipi Jean namun pemuda itu masih setia menutup kedua matanya. Macica mencoba menarik Jean ke atas permukaan namun ia semakin tertarik ke bawah air.
Tangan Ruvallo terulur mengungkung lengan Macica sedangkan dua pasang tangan milik Yegi dan Hebize menahan beban tubuh Jean.
"Ruvallo!"
"Dia akan baik-baik saja ... nantinya"
"Tapi entah kenapa reaksi serum yang dialami Jean lebih parah dari aku"
"Itu karena dosis serum merah muda lebih tinggi kenimbang serum kuning!"
"Apa?!"
Di kala Macica dan Ruvallo sibuk bercecok ria, Hebize lebih memilih fokus dan mengunci mulutnya rapat-rapat. Gadis itu terbungkam pada pemuda yang dipapahnya itu. Bukan soal berat badannya apalagi soal ketampanannya, namun suhu badan Jean tidak biasa seakan Hebize tengah memanggang telapak tangannya di atas api. Yegi yang ikut merasakan sensasinya sesekali mengibas-ngibaskan tangannya ke air.
Sedangkan pandangan Macica mengisyaratkan kecemasan berlebih pada Jean. Bagaimana tidak? Ketika Macica mencoba mendekati Jean, suhu air disekitarannya menjadi hangat. Dan hal ini berlangsung hingga sekarang.
Macica mencoba bertanya pada Hebize agar efek panas berlebih itu bisa berkurang. Hebize ingin sekali meredakan penderitaan Jean, namun apalah daya mengetahui satu bahan pembuatan serum-pun Hebize tidak tahu, alhasil gelengan Hebize membuat Macica terus merapal doa untuk keselamatan Jean.
Ruvallo sendiri yang sedaritadi diam mulai merasa jengah dengan gelagat berlebihan Macica. Ia tak henti-hentinya membuat kebisingan, bahkan gerombolan ikan tuna yang melewatinya pun diabaikan. Padahal Ruvallo cukup yakin fokus Macica teralih pada tuna-tuna itu.
Ruvallo yang kesal menjitak jidat Macica, "Aku tahu kau khawatir. Tapi gerakan liarmu menggangguku"
"Bukankah wajar jika Kak Maci cemas?" tanya Yegi
Sekilas Ruvallo memincingkan matanya pada Yegi. Entah Yegi mengabaikan atau memang tidak peka dia hanya mengedipkan kedua matanya sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang kepanasan.
Beralih pada Hebize yang tengah sibuk menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya pada air. Ia hampir melupakan Yegi yang menggertakkan giginya, mengalirkan rasa panas pada kerahangnya.
Yegi yang hendak menuai protes pada Ruvallo berhasil diserobot oleh Hebize. "Apa kau tidak ingin menggantikan posisiku, Ruvallo? Apakah ini semacam naluri pemimpin yang lebih memilih memerintah daripada memperdulikan anak buahnya?"
Ruvallo sedikit tersinggung dengan perkataan cetus Hebize. Namun beda di hati beda di wajah, ia tetap memasang tatapan datarnya dan segera meminta Hebize untuk menggantikan posisinya membawa Macica tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Di lain sisi, Yegi ingin sekali menggerutu hebat pada Hebize pula Ruvallo. Ia tidak diberi kesempatan untuk beristirahat juga sekadar menuai gerundelan hatinya.
Ruvallo yang menyadari tatapan Yegi berkata, "Apa? Kau laki-laki bukan? Buktikan kalau kau itu kuat," ucap Ruvallo yang mulai menyeret Jean.
Yegi kebakaran jenggot mendengar perkataan Ruvallo langsung memalingkan wajah padanya seolah tak peduli. Gerakan tangan Yegi semakin liar mencakar air, tak hanya berfungsi sebagai pereda panas namun juga sebagai pengalih rasa kesal dari kakaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNDER WATER
Фэнтези[Pemenang Wattys 2021 Kategori Fantasi dan Dunia Paling Atraktif] Ketika dunia telah lenyap bersama sejarah jauh tertimbun berselimutkan perairan tanpa ujung, maka pohon Azera memberi secerca harapan untuk bertahan. Manusia yang tersisa mulai memban...
