40. Terlalu Banyak Bermain

1.6K 501 106
                                        

Demi apapun, ini sudah kali ke-54 Edward menatap layar raksasa di depannya dengan cemas. Sesekali kesepuluh jemari tertaut tak tentu arah, atau ia berjalan hilir-mudik di sekitaran markas besar hanya untuk memikirkan segudang cara untuk menewaskan salah satu dari mereka. Tidak ia sangka, mutan-mutan di dalam kubah bisa seluar biasa ini menangani masalah yang menimpa. Edward tak menyangka ia akan mengalami kebuntuan, pada akhirnya—hampir segudang cara yang ia pikirkan hanyalah kesia-siaan belaka. Satu-satunya cara ialah dengan mengaktifkan simulasi bencana alam secara terus-menerus dan itu tidak efektif.

"Mereka hanya bocah ingusan!" keluh Edward memusingkan data-data para mutan yang masih hidup. "Aku tidak menyangka akan jadi sesulit ini."

Edward melihat dengan mata kepalanya sendiri; tepat di depan layar hologram air bah membuncah tinggi, menghantam empat remaja dengan begitu dahsyatnya. Tim yang bertugas telah memprediksi tameng transparan di arloji mereka akan retak jika dihantam oleh air bertekanan tinggi pun mereka telah memprediksi kemungkinan mereka mati. Namun mereka segera mati juga.

Kali ini Edward menatap salah satu petak hologram yang menampilkan data lengkap dari salah seorang di antara mereka: Yegi Hawky. Edward mulai meraba virtual keyboard untuk mencari dokumen yang terkait dengan Yegi sendiri, Edward menyaksikan aksi Yegi sedari awal ia melawan Robot Zoro 1 hingga bergaya menantang air bah baru-baru ini. Orang bersetelan putih bersih itu berulang-ulang memutar video salah satu aksi Yegi yang tertangkap jelas oleh kamera pasir seperti video rusak—Edward mengamati lebih dekat tindak-tanduknya.

Pada akhirnya Edrward menghentikan kegiatan yang dilakukannya. Akhir tindakan, Edward mengepalkan kedua tangannya sementara matanya memandang nyalang. Selanjutnya Edward memanggil salah satu staf kemudian ia mulai mengeluarkan uneg-uneg yang sedari awal ditahan Edward semenjak menatap wajah Yegi Hawky.

"Katakan pada Daniel pada chip yang telah kutanamkan di belakang telinganya agar ia tidak lagi main-main menjalani misinya. Aku ingin ia segera membunuh mutan-mutan itu!"

Staf tersebut seketika memerengut tidak mengerti. "Maaf Pak, bukankah Eksekutor Daniel sedang bertugas di sektor X? Akan lebih baik jika kita meminta eksekutor lainnya—"

"Sebagian besar eksekutor mempersiapkan diri di depan tembok utara, lagi pula kenapa kau harus meminta eksekutor lainnya jika Eksekutor Daniel ada di antara para mutan."

"Maaf?"

"Yegi Hawky adalah Eksekutor Daniel."

Staf tersebut kontan menatap wajah yang terpampang di layar hologram. "Bagaimana bisa? Bukankah Eksekutor Daniel ditugaskan—tidak tidak! Bagaimana bisa Eksekutor Daniel berwajah semuda ini, Pak?"

"Aku yang membuat wujudnya menjadi bocah periang—wataknya tetap sama bengisnya, aku tidak bisa menjelaskan bagaimana caranya karena ini rumit. Alasan kenapa hal ini kulakukan agar ia lebih leluasa membunuh kelinci yang berpotensi menghancurkan organisasi kita dengan wajah innocent-nya." Jeda sejenak, ia menatap stafnya lebih intens. "Seperti yang kuperintahkan tadi, sampaikan pesan pada Daniel melalui chip yang kutanam di belakang telinganya. Katakan padanya agar ia segera mengeksekusi para mutan itu di tempat!"

Segera staf tersebut kalang kabut melaksanakan perintahnya sembari terus memikirkan bagaimana caranya Tuan Edward me-remake Eksekutor cerewet itu.

"Daniel, kau terlalu banyak bermain." Bedebum meja yang dipukul Edward menghentikan perkataannya sejenak. "Rasanya aku ingin mencekikmu sekarang juga Daniel—tidak ... tapi Yegi Hawky!"

UNDER WATER

"Kau ... kenapa kau melepaskan pegangan pada batu?"

"Aku ... entahlah Jean, aku ingat ibuku saat air bah itu menghantamku," kata Macica jujur. Ia urung menjelaskan lebih lanjut—mulutnya terkatup kembali. Sebagai gantinya, Macica hanya menendang bebatuan kecil yang ia pijaki.

Tentu Jean tahu, ia tahu alasan itu. Jean ingat bagaimana gelombang air menghancurkan hampir separuh dari Azera seakan-akan pohon tempatnya bernaung akan tumbang tak bersisa. Ia ingat dan melihat bagaimana Macica dilempar tinggi hingga diraih oleh ayah Jean sebelum Bibi Lyra jatuh.

"Tapi sekarang aku baik-baik saja ... bagaimana denganmu?" tanya Macica.

"Aku tidak baik-baik saja! Kita baru saja duduk di tepian kembali melanjutkan perjalanan," sahut Yegi. "Kak Ruvallo! Ayo kita istirahat lagi."

"Jangan merengek," timpal Ruvallo tanpa menatap adik di belakangnya itu.

Jean menyambung percakapan yang sempat tertunda. "Tak apa." Tentu Jean tidak baik-baik saja. Kain yang membebat lukanya tidak mampu mengatasi ngilu yang ia rasakan. Namun Jean memilih diam—ia tak ingin memperlambat perjalanan kali ini.

Jean memanggil Ruvallo, sebelum Macica menyadari kesakitan yang Jean rasa, "Ruvallo!"

"Apa?" Seperti biasa, tanpa menoleh. Lebih-lebih pada Jean.

Hening. Hanya ada suara tapak kaki saling beradu dengan bebatuan dan kecipak air yang terkukung di antaranya.

"Terima kasih." Suara itu meluncur begitu saja dari mulut Jean. "Terima kasih telah menolong Macica."

Sekali lagi hening mengisi. Tidak ada yang menanggapi, bahkan Yegi yang super berisik memilih jalan bersandingan dengan Macica yang mengunci mulutnya sedari tadi.

Jean tidak tahu seperti apa wajah yang ditampilkan Ruvallo sebab ia selalu berjalan di belakang pemuda itu. Mungkinkah sebuah seringaian karena Jean baru saja merasa segan dengannya atau memang wajah datar yang selalu ia pasang di wajahnya. Tidak tahu. Jean tidak tahu pun Macica dan Yegi.Maka dari itulah Macica dan Yegi memilih diam melihat.

"Apa kalian sanggup berlari?"

Itulah kalimat yang dikeluarkan Ruvallo setelah Jean memberi ucapan "terima kasih" untuknya. Jean hanya tersenyum kecil, itu lebih baik karena umumnya Ruvallo memang bersikap seperti itu.

"Kami sanggup," kata Macica dan Jean mantap.

"Tapi aku tidak," sahut Yegi.

"Dua banding satu. Oke, kita percepat langkah!" Ruvallo memperbaiki seragamnya yang masih basah itu. "Semakin cepat, semakin baik."

"Ah ayolah! Aku ingin duduk barang lima menit saja!" tutur Yegi sembari menyusul ketiga kawannya yang super semangat itu.

"Sensor arloji ini memiliki ruang lingkup yang sangat terbatas. Sepertinya memang dirancang untuk mendeteksi musuh. Itu pun sensornya harus diaktifkan terlebih dahulu," kata Macica menginformasikan.

"Bagaimana dengan sensor yang terpasang di pelipismu, Jean?"

"Sensorku masih berfungsi dengan baik, Ruvallo," timpal Jean. "Sejauh ini tidak ada gejala aneh terdeteksi di sensorku, semua berjalan dengan normal. Mungkin mereka telah menyiapkannya di bukit itu."

"Jean kemarilah! Aku ingin kau mendeteksi apa yang terjadi di depan sana ... sampai seterusnya."

Jean menyeringai kecil. Ia sigap berlari menyejajari Ruvallo; tepat di samping Ruvallo.

"Hoo ... jadi sejak awal kau memang ingin di sampingku," kata Ruvallo setelah melirik raut muka bahagia Jean sekilas.

"Apa maksudmu?" Alis Jean mengernyit tidak mengerti.

"Kau kagum padaku."

Jean seketika menatap Ruvallo. "Cuih!"

Sementara Macica memasang tampang tidak percaya. Apakah ini sisi lain dari Ruvallo yang lebih banyak diam dan bertingkah kaku? Kalau iya, sisi lainnya kelihatan tidak keren sama sekali.

"Hee ... Kak Ruvallo dan Kak Jean bersandingan lagi—bagaimana menurutmu Kak Maci?"

"Apa kakakmu memang seperti ini lagaknya?"

Yegi tidak segera menjawab pertanyaan Macica, ia masih menatap intens kepada dua punggung di depannya.

"Entahlah ... aku tidak tahu."

Yegi memang tidak tahu banyak soal kakaknya.

UNDER WATER

.

1066 kata

Jumat, 17 April 2020

UNDER WATERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang