24. Gelap

124 11 2
                                    

Setelah selesai pemotretan dan hingga akhir model yang seharusnya melakukan pemotretan tetap tak datang dan jisoo yang mengantikan nya, sebagai gantinya twice di beri waktu untuk bersiap lebih lama.

Jisoo POV.

Sudah lama aku tak melakukan hal semacam ini, biasanya kucing kecil ku sering merengek minta ikut jika aku pergi pemotretan dulu. Ini cukup melelahkan, lebih asik memang bermain dengan pisau bedah daripada di depan kamera.

Sudah sore sebaiknya aku pamit pulang pada teman-teman jihyo, aku yang baru selesai pemotretan menghampiri mereka.

"Annyeong." Sapa ku saat melihat mereka tengah makan bersama.

"Dokter cantik." Salah seorang dari mereka tersenyum lebar menyebut ku dokter cantik, aku yakin dia salah satu yang termuda di antara mereka.

"Aku mau pamit pada kalian karena aku harus mengistirahatkan diri, lusa ada pekerjaan besar."

"Yah kok pergi, aku belum puas melihat unnie dokter jadi model." Dia dahyun aku ingat dia, yang agak posesif pada jihyo.

"Maaf-" aku yang awalnya tersenyum pada mereka tiba-tiba mengernyitkan dahi, bagaimana tidak mengernyit jika pandangan ku kini terfokuskan pada gadis pucat di pojok saja, aku segera menghampiri nya.

"Hmm?" Jihyo terlihat bingung dengan tingkah ku.

"Jihyo tolong ambilkan tas warna merah di mobil ku, ini kunci nya." Aku memberikan kunci mobil padanya, lalu kembali fokus pada gadis itu.

Aku membungkuk mengeceknya yang sudah pucat, memegang pipinya terasa dingin, ku angkat sedikit dagunya untuk melihat ke arah leher lalu sedikit ku tekan di daerah tertentu di bagian leher, tak ada penolakan dari nya karena dirinya sudah lemas.

"Jisoo unnie ini." Jihyo memberikan ku tas merah yang berisi berbagai peralatan dokter ku, aku membuka nya mengambil senter kecil lalu ku arahkan pada matanya yang mulai lelah.

"Ada apa dokter?" Manajer mereka mendekati ku.

"Apa kau sedang datang bulan?" Ku abaikan si manajer dan fokus bertanya padanya yang sedikit kelelahan, ia menggeleng cepat. Aku meletakkan kembali senter itu kedalam tas.

"Ah sepertinya anak ini sakit, mungkin maag nya kambuh." Ucap ku asal hanya untuk menenangkan mereka semua, dia kembali menggeleng.

"Aku tak telat makan, aku makan dengan baik hari ini." Dengan wajah pucat nya ia menjawab.

Ku perhatikan teman-teman nya terlihat cemas, aku sudah tahu apa yang terjadi pada dia.

"Aku tahu." Aku berjongkok di depannya mengusap tangannya. "Jihyo-ya tolong nyalakan mobil, lalu duduk di kursi penumpang, aku butuh 2 orang untuk ikut dengan ku." Ucap ku, kulihat mereka sedikit panik. "Anak ini tak apa." Ku coba meyakinkan mereka dengan tersenyum.

Setelah ku perintahkan jihyo langsung kembali ke mobilku dan menyalakan nya, seorang yang ku rasa seusia jihyo mengajukan diri untuk ikut dan si dahyun pun ikut. Aku langsung mengambil ancang-ancang menggendong anak ini dengan ala bridal style.

"Artis mu aman bersama ku, tenang saja." Ucap ku melihat si manajer khawatir. "Antarkan saja mereka kembali ke dorm lalu susul aku ke rumah sakit tempat ku bertugas, atau hubungi jihyo jika sudah disana." Ucap ku mulai berjalan di ikuti si dahyun dan gadis yang bernama mina.

"Tapi apa yang terjadi dok?" Tanya dahyun

"Hanya keracunan makanan." Ucap ku.

Si dahyun membuka pintu mobil mempersilahkan mina masuk terlebih dahulu lalu aku membaringkan gadis itu lalu di susul dahyun, ku tutup pintu mobil dan mengambil posisi di kemudi.

Love BlindTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang