43. Gelap

93 9 0
                                    

Di belakang cafe yeri bisa mendengar suara hyun cukup keras tengah marah, hingga terdengar suara hantaman benda yeri mengintip hyun baru saja memukul meja bar yang tidak bersalah.

Hyun keluar dari cafe dan yeri menarik hyun menuju pasar malam, awalnya hyun menolak tapi yeri memaksa.

"Tak apa, itu keputusan mu." Yeri mencoba menenangkan bocah yang tengah kalut ini, yeri meraih tangan hyun. "Ayo temani aku makan." Ajak nya.

.

.

.

Suasana masih begitu tegang di depan matanya, irene terduduk di lantai menangis sejadi-jadinya dan mengutuk dirinya sendiri atas semua perbuatannya pada hyun.

Rose dan jennie menghampiri irene, mencoba menenangkan wanita yang lebih tua dari mereka. Rose memeluk dan jennie yang mengusap punggung irene, keduanya pun tak percaya jika hyun akan seperti itu pada irene.

Rose menerima telepon dari yeri, yeri mengatakan jika ia tengah bersama hyun takut jika bocah labil itu tak bisa mengontrol emosinya.

Rose memutuskan mengantar irene pulang ke rumah nya dan tak lupa menghubungi seulgi agar menunggu mereka di rumah irene nanti.

Jennie yang mengemudi dan rose yang duduk di belakang bersama Irene, sesampainya mereka di rumah irene, seulgi yang menyambutnya, seulgi menggendong irene ala bridal tak ingin appa bae melihat irene seperti sekarang.

"Terimakasih, kalian pulang lah." Pinta seulgi, ia tak ingin calon mertua nya menghakimi rose dan jennie.

Keduanya mengangguk setuju lalu pergi meninggalkan rumah irene, seulgi membawa irene langsung menuju kamarnya walau appa bae sempat melihatnya namun seulgi menutupi wajah irene yang menangis.

Seulgi sudah di beritahu oleh jennie melalu telepon jika terjadi sesuatu dengan irene, seulgi hanya berusaha menenangkan wanitanya tak perduli sudah berapa kali irene memukulnya karena irene marah pada dirinya sendiri.

"Sudah puas melihat putri mu hancur?" Bisik eomma bae di belakang appa bae.

"Diam lah, kamu tak tahu apa yang terbaik buat putri kita." Appa bae berjalan meninggalkan eomma bae.

"Yang kamu benci itu Kim Jonghyun." Tegur eomma bae membuat appa bae berhenti berjalan. "Jangan karena dulu kamu tak bisa mendapatkan Park chorong kamu membuat anak mereka tak bisa mendapatkan putri mu." Eomma bae berjalan mendekati appa bae. "Jangan sampai anak nya juga mengalahkan mu." Eomma bae berlalu.

"Cih wanita seperti mu tahu apa."

.

.

.

Setelah puas berjalan mengelilingi pasar malam yeri mengantar hyun pulang ke apartemen jisoo, dan lagi hyun menolak dengan alasan harusnya ia yang mengantar yeri bukan sebaliknya namun kali ini yeri bersikukuh untuk mengantar hyun.

Setelah sampai yeri berpamitan dan meninggalkan bocah itu, hyun menghela nafas ia butuh ketenangan, hyun berjalan gontai menuju unit nya.

Saat masuk hyun mendapati jennie tengah duduk di meja makan menunggunya. Hyun berdiri di depan pintu diam, ia kelelahan, lelah fisik dan pikiran.

"Ayo masuk." Jennie menghampiri nya. "Jisoo unnie tak pulang hari ini." Ucap nya menarik hyun membawanya menuju meja makan. " Sudah makan?" Hyun mengangguk. "Baguslah, duduk." Hyun pun duduk di samping jennie.

Jennie tak bisa memungkiri ada rasa iba dalam dirinya melihat hyun seperti ini, yang hyun lakukan selama ini hanya berusaha tegar dan ikhlas.

"Sakit?" Jennie meraih kedua tangan hyun, ada bekas luka dan lebam pada tangan nya. Hyun mengangguk. Jennie mengambil obat oles dan mulai mengoleskannya pada luka di jemari tangan hyun sesekali di tiupnya agar mengurangi rasa perih.

Love BlindTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang