Jujur, setelah apa yang terjadi kemarin di depan rumah Jinhyuk, Seungwoo merasa tidak enak hati. Awal pembicaraan mereka cukup baik walaupun masih terasa canggung, tapi entah bagaimana malah berakhir buruk. Ia merasa sudah keterlaluan bicara pada Jinhyuk. Mungkin karena ini pertama-kali bagi Seungwoo menghadapi seseorang dengan karakter seperti Jinhyuk. Dan selain itu, Seungwoo sedikit takut kalau Jinhyuk menceritakan pembicaraan mereka pada Seungyoun.
Sejak pagi, Seungwoo terus memperhatikan ponselnya. Ia seharusnya sudah dalam perjalanan untuk pulang ke rumah. Tapi Seungwoo menunggu.
"Ngapain sih lo? Dari pagi, udah keliatan stress," ujar Seungsik, roommate Seungwoo.
Seungwoo yang tiduran di lantai hanya bergumam. Ia melirik Seungsik yang sibuk menyiapkan kamera dan tripod. Seungsik mempunyai kebiasaan pergi memotret setiap akhir pekan.
"Menunggu ajal."
Seungsik mengernyit. "Mau gue siapin pemakaman sekalian gak?"
"Bangsat!"
Seungsik hanya tertawa keras. "Lagian lo duluan yang aneh. Tapi serius, Woo. Lo kenapa? Biasanya jam segini lo udah jalan balik ke rumah."
"Nggak tau. Gue males pulang. Kemaren udah balik, masa pulang lagi." Seungwoo kemudian bangun dan melihat kamera milik Seungsik. "Mau pergi moto ke mana?"
"Tergantung mood. Terus kalo gak pulang, lo mau di apart ajah seharian? Mending pergi belanja. Kulkas kosong tuh."
Sontak Seungwoo berdiri dan pergi ke kamarnya. Tak lama, ia keluar dengan membawa jaket, ponsel serta dompet. "Gue ke kampus ya. Nanti gue transfer duit belanja ke rekening lo."
"Emang si bangsat!"
*****
Jinhyuk yang tengah sibuk mengecek materi di common room FE tiba-tiba dikejutkan oleh seseorang yang duduk disebelahnya dan memeluknya erat. Itu Kim Wooseok. Jinhyuk menurunkan bundle materinya dan melihat kepala Wooseok. Kemudian ia melirik situasi di common room.
Common room FE adalah sebuah ruangan besar dekat pintu masuk gedung fakultas. Awalnya ruangan itu digunakan untuk pertemuan angkatan. Tapi sejak sepuluh tahun lalu, senior FE mengubah ruangan itu menjadi lebih nyaman. Ada beberapa sofa besar empuk, karpet besar di beberapa sudut, dan beberapa meja tempat mahasiswa sering diskusi ataupun mengerjakan tugas.
Tak lama, Wooseok melepaskan pelukannya dan menaap Jinhyuk. Ia memperhatikan bagian hidung Jinhyuk. "Masih sakit? Kata Youn, lo kena pukul di hidung sampe berdarah."
"Udah gak papa kok. Lo baru tau, ya?"
Wooseok bersandar di sebelah Jinhyuk, hingga bahu mereka bertemu. "Gue liat status Sejin sebenernya. Terus gue tanya sama Youn. Mau hubungin lo langsung, tapi kata Youn biar lo istirahat dulu."
Jinhyuk mengangguk. "Chan udah tau juga?"
"Udah. Tapi kan dia lagi di Xiamen. Paling hari Senin lo diamuk sama dia."
Jinhyuk terkekeh pelan. "Kenapa gue yang diamuk?"
Wooseok menghela nafas pendek. Ia lalu meraih tangan Jinhyuk. Memperhatikan jemari panjang pemuda itu. "Nyokap marah gak?"
"Engga kok. Paling nanti bokap yang ceramah panjang."
"Ya gak papa kalo diceramahin. Tandanya bokap lo sayang."
Jinhyuk memperhatikan Wooseok yang memainkan jemarinya. "Sayang ya? Iya kali."
Wooseok terdiam mendengar respon Jinhyuk tadi. Ia tidak tahu banyak bagaimana hubungan Jinhyuk dengan orang tuanya. Karena Jinhyuk hampir tidak pernah cerita. Tapi kata Youn, hubungannya baik. Jadi, Wooseok percaya. Walaupun terkadang sikap Jinhyuk menunjukkan sebaliknya. "Ah...! Mau makan siang gak?"
YOU ARE READING
Portrait of You
FanfictionAwalnya penasaran. Akhirnya malah jadi sayang ***COMPLETED***
