07 - 1: Prolog

235 17 1
                                        

Di ranjang rumah sakit di Seoul ini, Bonghwan yang sesungguhnya masih dalam keadaan kritis

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di ranjang rumah sakit di Seoul ini, Bonghwan yang sesungguhnya masih dalam keadaan kritis. Dia tidak sadarkan diri dan, untuk bernapas saja, harus mengandalkan alat bantu. Kepala Han ‘menertawakan’ keadaannya itu.

“Ehey, aku tak percaya, Jang Bonghwan yang ‘hebat’ harus bergantung pada alat-alat seperti ini. Hidup itu sia-sia, bukan? Huh,” desisnya, puas. Dia tidak pernah tahu, bahwa jauh di Joseon sana, Bonghwan sedang berencana menjadi orang yang lebih dari sekadar hebat dan membayangkannya.

Dan, dengan ‘bantuan’ Dukun Kim yang memiliki kekuatan spiritual yang LUAR BIASA hebat, arwah Jang Bonghwan … terpanggil.

“Aku tak boleh diam saja,” pikir Kepala Han, serakah, “Enyah kau dari dunia ini, selamanya,” Dia merenggut alat bantu napas Bonghwan begitu saja, sehingga … Bonghwan yang sedang bersenang-senang di Joseon jatuh tak sadarkan diri tiba-tiba.

“Yang Mulia!” Hong Yeon, Kasim Choi, hingga Manbok berseru kaget.

“Yang Mulia, bangun. Yang Mulia! Oh!” tapi Bonghwan maupun Kim Soyong tak ada yang mau mendengarkan.

MR. QUEENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang