Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Sebenarnya, Bagaimana Perasaan Lo?

3.5K 160 4
                                        

Usai mengunci pintu kamar Al. Rexi menatap kakak tirinya itu dengan mata memicing. Dia punya ide jahil.

"Satu ... Dua ... Tiga!"

Usai menghitung di dalam hatinya, Rexi langsung melompat dengan tinggi dan berakhir dia yang menindih tubuh Al.

"Yakh!" teriak Al kesal. Dia juga menatap Rexi dengan begitu tajam.

"Lo apa-apaan, sih?!" tanya si tampan kesal.

"Lo kenapa makin manja gini, sih?!" tanya Al tak habis pikir.

"Biarin aja! Kan, sama kakak sendiri?!" kesal Rexi.

Al terdiam beberapa detik, lalu kemudian menghela napas panjang.

"Terserah, Rex. Terserah lo aja," kata Al pasrah.

Rexi mengeratkan pelukannya pada tubuh Al dan tak butuh waktu lama dia tertidur di atas tubuh sang kakak.

Al melirik ke arah Rexi yang tertidur pulas, lalu kemudian dia mengelus lembut puncak kepala adik tirinya itu.

"Lo enggak pernah berubah, Rex. Sikap lo enggak pernah berubah," batin Al, dia juga tersenyum kecil.

"Gue sayang banget sama lo, Rex. Bukan sayang sebagai adik. Tapi, gue sayang lo sebagai wanita, Rex," kata Al lagi di dalam hatinya.

Al menatap nanar Rexi yang tertidur.

"Tapi, gue harus buang jauh-jauh perasaan sialan itu, Rex. Karena status kita yang sekarang ini lebih kuat daripada status sepasang kekasih," lanjutnya lagi.

Al memejamkan matanya perlahan lalu kemudian dia membalas pelukan Rexi lebih erat lagi.

Mungkin karena lelah dan bosan, Al juga ikut tertidur dengan posisi dia yang memeluk Rexi.

Sekitar beberapa menit Al tertidur, Rexi tiba-tiba tersentak dan terbangun dari tidurnya.

Rexi melirik ke bawah dan hal pertama yang dia lihat adalah Al yang berada di bawahnya.

"Apa dia enggak kesakitan kalau gue tindih kayak gini?" tanya Rexi di dalam hatinya.

Rexi perlahan menggerakkan tangannya untuk mengelus lembut pipi Al dan bahkan dia dengan berani mencium bibir Al yang sedang tertidur pulas.

Rexi terkekeh geli karena tak ada pergerakan dari Al.

"Dia sama kayak dulu. Tidur mirip orang mati," batin Rexi.

Muach!

Rexi mencium kening Al dengan lembut.

"Good night, Sayang," ucapnya di dalam hati.

***

Pagi hari yang cerah menjadi waktu yang paling baik untuk menikmati sarapan pagi dengan tenang.

Rexi diam-diam melirik Al yang tengah santai menikmati sarapan paginya.

"Kenapa harus jadi kakak, sih?! Emangnya, enggak bisa lebih dari kakak gitu?!" tanya Rexi di dalam hatinya tak terima.

Al mengangkat pandangannya karena merasa ditatap dan membuat matanya dan juga mata Rexi saling menatap satu sama lain.

Al tersenyum manis kepada Rexi dan senyumannya itu berhasil membuat jantung Rexi berdetak dengan cepat.

"Demi apa?! Al senyum sama gue?!" batin Rexi berteriak senang.

"Kenapa enggak makan? Hum ..." tanya Al dengan nada suara yang sangat lembut.

"I ... Iya. A ... Aku makan, kok," jawab Rexi gugup dan tanpa sadar dia menggunakan kata 'Aku' bukan 'Gue'.

"Aku?" tanya Al di dalam hatinya, dia sadar akan perubahan kalimat Rexi.

Al tersenyum tipis. Tak apa kalau Rexi menggunakan kalimat formal. Itu lebih baik, kan?

"Oh my God! Gue enggak nyangka kalau ternyata Al bisa lembut juga! Gue jadi salah tingkah sendiri, kan!" seru Rexi di dalam hatinya dengan begitu heboh.

"Dik!" panggil Al tiba-tiba.

"Ha?!" seru Rexi terbodoh. Dia kaget karena ini adalah kali pertama Al memanggilnya dengan sebutan 'Adik'.

"Kamu berangkat sama kakak," ucap Al.

"Ha?!" seru Rexi terbodoh lagi.

"Iya. Kita berangkat sekolah bareng kayak adik dan kakak lainnya di luar sana," jelas Al sambil tersenyum manis.

Degh!

Kaki Rexi yang berada di bawah meja makan langsung bergerak lemas usai mendengarkan ucapan Al. Sebuah kalimat biasa saja. Tapi, mengapa begitu menyakitkan saat didengar.

"Ya udah. Kamu makan yang banyak, yah? Kalau udah selesai, kamu keluar aja. Kakak tunggu di luar, soalnya," jelas Al lagi dengan lembut.

Al berjalan keluar dari dapur tanpa memperdulikan wajah Rexi yang tampak kaget dan syok.

Rexi memegang dadanya yang terasa sesak. Kedua matanya menatap kepergian Al dengan begitu nanar dan sedih.

"Gue kira, lo anggap gue dan sayang gue sebagai kekasih, Al. Tapi, ternyata sikap manis lo itu cuma sebatas kakak dan adik doang?" tanya Rexi lemah di dalam hatinya.

"Tapi, gue enggak mau lah! Ya kali aja status kita berdua cuma sepasang kakak sama adik?! Gue mau lebih dari itu pokoknya!" seru Rexi tiba-tiba.

"Enak aja dia enggak mau jadian sama gue!" kesalnya sambil menghembuskan napas dengan kasar.

***

Kini Al dam Rexi sudah berada di dalam mobil dan menuju sekolah mereka.

"Dek," panggil Al.

"Ha?! I ... Iya?" jawab Rexi gugup.

"Kamu pulang sekolah bareng kakak, yah? Kamu tunggu kakak aja di kelas. Nanti biar kakak yang jemput kamu di sana," kata Al.

"I ... Iya ..." jawab Rexi lagi.

Al tersenyum kecil, sedangkan Rexi mengalihkan pandangannya untuk menatap keluar jendela.

"Cuma adik?! Cuma adik, Al?! Lo enggak ingat sama gue, Al?!" tanya Rexi tak terima di dalam hatinya.

Kedua bola mata Rexi perlahan berkaca-kaca, dia benar-benar sedih dan juga ingin menangis saat itu juga.

"Rex. Kamu kenapa?" tanya Al saat merasa kalau suasana di dalam mobil itu berubah.

Rexi hanya memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya dengan lemah sebagai jawaban.

"Apa ada masalah sama Deian?" tanya Al di dalam hatinya.

Hening. Suasana di dalam mobil itu benar-benar hening dan tak ada sedikitpun suara, hanya ada suara kendaraan berlalu dan suara mesin mobil saja.

Sekitar beberapa menit, Al dan Rexi sudah sampai di tempat tujuan mereka.

Baru saja Al ingin turun dari mobilnya, tetapi Rexi dengan cepat menarik kerah bajunya.

Muach!

Al membulatkan matanya tak percaya saat Rexi dengan berani mencium bibirnya dan bahkan Rexi sedikit menjilat ujung bibir Al.

"Rex-"

"Morning kiss dari adik!" potong Rexi cepat sebelum Al berkomentar.

Rexi tersenyum lembut kepada Al. Al yang mendapatkan ciuman tiba-tiba hanya terdiam tak bergerak.

Rexi berlari cepat keluar dari mobil Al.

"Ha?! Emangnya, morning kiss dari adik enggak apa-apa kalau cium bibir?" tanya Al terbodoh usai dia sudah berada di alam sadarnya.

"Kenapa? Kenapa lo tiba-tiba berubah aja, Rex?" tanya Al terheran, lalu menatap keluar jendela mobilnya.

Al menyandarkan kepalanya pada kursi mobilnya dan perlahan dia memejamkan matanya. Kedua ujung bibirnya terangkat sambil menyunggingkan senyuman kecil.

"Morning kiss? Beneran itu morning kiss?" tanya Al, dia kembali membuka matanya dan menatap ke depan.

"Sebenarnya, gimana sama perasaan lo buat gue, Rex?" tanya Al sambil mengacak-acak rambutnya dengan begitu frustasi.

My BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang